*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in

Alternative content

Get Adobe Flash player

Alternative content

Get Adobe Flash player

Alternative content

Get Adobe Flash player

TAMBANG, 02 Maret 2013 | 15.21
Asia Mendanai Asia, Simbol Menguatnya Ekonomi Asia

Suryana Miharja
suryana@majalahtambang.com

Sejumlah perusahaan di Asia Tenggara tengah berada pada jalur yang tepat, terutama setelah selama delapan tahun berturut-turut penjualan obligasi di negara kawasan tersebut terus meningkat dan hal ini menunjukkan bagaimana sejumlah investor berusaha memberikan perlindungan agar peristiwa krisis ekonomi yang terjadi pada 1997-1998 tidak terulang kembali.

Menurut CIMB Group Holdings Bhd, penjualan obligasi akan meningkat sebesar 20 persen ketimbang tahun lalu yang hanya mencapai $101 miliar. CIMB merupakan salah satu penjamin utang dalam negeri negara anggota ASEAN teratas saat ini.

Sementara itu, DBS Grup Holdings Ltd. dan Maybank Kim Eng Holdings Ltd. melihat adanya peluang untuk kembali meraih keuntungan sebesar 48 persen seperti tahun lalu. Bebera lembaga keuangan lain seperti PT Bank Rakyat Indonesia yang merupakan bank pemberi pinjaman terbesar ketiga di Indonesia tengah menawarkan untuk memberikan pinjaman.

Melihat hal itu, kepala fixed Income DBS Clifford Lee menyatakan, “saat ini, Asia dapat membiayai Asia,” katanya (21/2).

Kecenderungan menguatnya ekonomi negara di Kawasan ASEAN telah terjadi selama dua tahun belakangan, namun tanda-tanda menguatnya ekonomi di kawasan itu semakin terlihat jelas sejak tahun lalu. Kombinasi bunga yang lebih tinggi, pertumbuhan ekonomi lebih cepat, dan ekspansi bisnis sejumlah investor kaya terbukti sangat menarik bagi para pengelola dana terbesar di dunia.

Obligasi baru yang diterbitkan pemerintah di sejumlah negara di kawasan Asean naik hingga lima kali lipat sejak 2000, peningkatan itu seiring dengan upaya pemerintah negara di kawasan tersebut untuk mengubah kondisi pasar setelah dilanda krisis yang terjadi 15 tahun lalu.

Krisis yang membuat nilai mata uang di kawasan itu menurun drastis, sehingga memaksa sejumlah negara seperti Thailand, Indonesia dan Korea Selatan meminjam lebih dari $110 miliar kepada Dana Moneter Internasional (IMF).

icon