*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in

Alternative content

Get Adobe Flash player

Alternative content

Get Adobe Flash player

Alternative content

Get Adobe Flash player

TAMBANG, 07 Maret 2013 | 08.59
Kepala SKK Migas : Indonesia Akan Impor LNG Hingga 2018

Suryana Miharja
Suryana@majalahtambang.com

Jakarta-TAMBANG. Indonesia akan mengimpor LNG (liquified natural gas) untuk memenuhi kebutuhan gas di dalam negeri hingga 2018. Langkah itu diperlukan mengingat produksi gas dalam negeri masih harus memenuhi kontrak penjualan jangka panjang dengan negara lain seperti Jepang selain adanya peningkatan konsumsi di dalam negeri.


“Kami tidak bisa memenuhi semua permintaan dalam negeri, karena kami masih harus memenuhi permintaan dari luar negeri seperti Jepang yang telah berinvestasi dalam proyek energi di Indonesia,” kata Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini di Jakarta (6/3).

Impor gas tersebut menurut Rudi tidak masalah, karena harga gas kemungkinan akan mengalami penurunan hingga empat tahun ke depan, “Harga akan turun pada kisaran $10 hingga $11 dari sebelumnya $16 to $17 per million Btu,” katanya lagi.

Sementara itu menurut laporan Goldman Sachs Group Inc. pada 19 Februari lalu, harga LNG dunia di pasar spot akan memasuki masa bearish (lamban) menjelang 2016 hingga 2017.

Menanggapi hal itu, menurutnya ini saatnya untuk menjual LNG dengan kontrak jangka panjang terutama pada saat harga gas mulai membaik, imbuhnya lagi.
Ditengah menurunnya produksi minyak mentah Indonesia, gas menjadi sumber energi yang diharapkan bisa menjadi alternatif. Saat ini konsumsi gas untuk kebutuhan dalam negeri telah mencapai 42 persen dari total produksi yang ada dan akan mencapai 52 persen menjelang 2016.

Indonesia sendiri tengah merencanakan untuk memproduksi 7.89 triliun britihs thermal unit (btu) per hari pada tahun ini, atau meningkat sebesar 8 persen dari produksi pada 2012 sebesar 7.3 triliun btu.
Saat ini, Indonesia memiliki 17 proyek minyak dan gas (migas) yang direncanakan akan mulai produksi pada 2018 termasuk produksi dari Blok Masela di laut Arafura. Blok Masela tersebut diharapkan bisa menghasilkan 2.5 juta ton gas.

Menurut laporan Wood Mackenzie Ltd. (20/2), sejumlah negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia akan menyumbangkan sepertiga dari meningkatnya pertumbuhan permintaan LNG di Asia pada 2025, yang diperkirakan akan memerlukan tambahan pasokan gas sebesar 45 juta metrik ton per tahun pada tahun tersebut.

icon