*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
TAMBANG, 13 Juni 2013 | 15.53
Dana Cost Recovery Akan Naik Dipicu Aturan Migas Baru

Esti Widyasari
esti.widyasari@gmail.com

Jakarta – TAMBANG. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memperhitungkan bahwa tahun depan, dana cost recovery yang harus dikeluarkan akan naik US$2 miliar, dari US$15,5 yang disiapkan tahun ini, menjadi US$17,5 pada 2014. Pembengkakan tersebut dilatarbelakangi sejumlah aturan baru dari pemerintah, yang dinilai membebani industri migas nasional.

“Saya perkirakan cost recovery tahun 2014 akan meningkat sebesar USD17,5 miliar,” ungkap Kepala SKK Migas, Rudi Rubiandini, kemarin (12/6), di Jakarta.

Hal tersebut terkait dengan diterbitkannya aturan-aturan baru untuk industri migas. Salah satu aturan adalah mengenai pipa bawah laut yang harus dipendamkan, sehingga untuk bisa memenuhi prasyarat itu akan memerlukan biaya tambahan. Aturan lain adalah mengenai keharusan pembuangan limbah hasil pengeboran migas lepas pantai di laut dalam, yang ditengarai akan memakan biaya besar.

“Bisa dibayangkan 2014 akan tinggi, ditambah lagi biaya membuang limbah, ditambah lagi ada aturan baru,” ujarnya.

Kenaikan cost recovery yang harus dibayarkan pemerintah tersebut tak lepas dari peningkatan biaya investasi dan operasi produksi migas yang dikeluarkan oleh kontraktor tersebut. Hal ini adalah sesuai dengan faktor yang diperhitungkan dalam mekanisme bagi hasil produksi dalam pengelolaan industri migas nasional.

“Jadi tidak ada aturan yang dilanggar, biaya tersebut masuk dalam cost recovery,” tegas Rudi.

Menaikkan anggaran cost recovery memang bukanlah hal mudah, dan dikhawatirkan bahwa para legislator yang duduk di Badan Anggaran (Banggar) DPR-RI tidak bisa menerima pengajuan kenaikan tersebut di tengah kondisi turunnya target penerimaan negara dari sektor hulu migas.

“Tapi saya khawatir teman-teman di Banggar akan tidak mengerti. Nanti disangkanya produksi tidak naik, [justru] cost recovery naik. Industri ini tidak bisa terlepas dari cost recovery, karena setiap uang yang dikeluarkan KKKS wajib dibayar,” ia mencemaskan.

Memang pada tahun 2014 penerimaan negara dari sektor hulu migas diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan dengan tahun ini. Bila dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2013 jumlah yang ditargetkan adalah US$31,75 miliar, tahun depan diperkirakan bisa turun menjadi US$30,3 miliar. Target lifting untuk RAPBN 2014 sendiri diusulkan sebesar 2,09 juta - 2,15 juta barel.

Lebih lanjut, Rudi mengemukakan bahwa apabila anggaran cost recovery pada 2014 tidak dinaikkan, maka akan ada kekurangan pembayaran kepada para kontraktor yang telah menyerahkan hasil produksi migas. Kekurangan tersebut tetap harus dibayarkan pada tahun berikutnya, dan menjadi bebn carry over.

“Jadi kalau nanti pemerintah tidak menambah, akan di-carry over di 2015. Tambah numpuk lagi,” katanya.[]

icon