Beranda Teknologi Imbangi Porduksi Migas dan Pengurangan Emisi Karbon, Menteri ESDM Dorong Penggunaan CCUS

Imbangi Porduksi Migas dan Pengurangan Emisi Karbon, Menteri ESDM Dorong Penggunaan CCUS

Jakarta, TAMBANG – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif tidak menampik jika saat ini produksi minyak dan gas bumi (Migas) masih perlu ditingkatkan untuk menghindari krisis. Di sisi lain, dia juga menginginkan agar efek yang ditimbulkan dari energi fosil tersebut bisa ditekan.

Menjawab tantangan tersebut, Arifin mendorong semua pelaku usaha industri migas agar menerapkan teknologi Carbon Capture And Storage (CCS) dan atau Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS).

Menurut dia, saat ini sudah ada 14 proyek CCS/CCUS di Indonesia, namun semua kegiatan masih dalam tahap studi atau Persiapan. Meski begitu, sebagian besar ditargetkan onstream sebelum 2030.

“Salah satu proyek menjanjikan yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat adalah Tangguh Enhanced Gas Recovery (EGR) dan CCUS. Proyek ini bertujuan untuk mengurangi emisi karbon sekitar 25 juta ton CO2 hingga tahun 2035 serta meningkatkan produksi hingga 300 BSCF hingga 2035. Tangguh EGR/CCUS dapat menjadi role model pengembangan gas di Indonesia ke depan,” kata dia dalam IPA Convex 2022, Rabu (21/).

Arifin menyampaikan saat ini, Pemerintah sedang menyusun Peraturan Menteri tentang CCS/CCUS. Pada langkah pertama, fokus utamanya adalah mengatur CCS/CCUS untuk Enhanced Oil Recovery, Enhanced Gas Recovery atau Enhanced Coal Bed Methane di wilayah kerja migas.

“Kami masih memfinalisasi draf dan peraturan ini menjadi salah satu prioritas kami,” kata dia.

Arifin optimistis, melalui kerja sama internasional, industri migas dapat mengatasi semua tantangan dengan menerapkan semua teknologi yang dapat lebih membantu untuk mengurangi emisi gas rumah kaca menuju Net Zero Emissions.

“Kami mengundang kontribusi semua pemangku kepentingan terkait dalam mengeksplorasi, memproduksi dan mengembangkan sektor migas Indonesia, serta memunculkan inovasi-inovasi baru dan solusi memuaskan yang akan membawa kesejahteraan bagi kita semua.” ujar dia.

Arifin menambahkan, dalam konteks energi rendah karbon, peran gas alam sangat penting sebagai energi transisi sebelum dominasi bahan bakar fosil beralih ke energi terbarukan dalam jangka panjang.

“Tentu saja, transisi energi ini akan dilakukan dalam beberapa tahap dengan mempertimbangkan daya saing, biaya, ketersediaan, dan keberlanjutan, “ ujar dia.

Sebagai informasi, CCS/CCUS adalah teknologi yang berfungsi untuk menangkap, menyimpan dan memanfaatkan karbondioksida (CO2) yang ada di udara akibat pembakaran bahan bakar minyak. Teknologi ini mampu menyerap CO2 hingga 95 persen.

Artikulli paraprakRio Tinto Gabung Dalam First Movers Coalition, Lembaga Apakah Itu
Artikulli tjetërHingga Semester I 2022, Kontribusi Penerimaan Negara PTBA Capai Rp 9 Triliun

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini