Beranda Tambang Today Batubara Adaro Jajaki Gasifikasi Batu Bara Demi Perpanjangan Kontrak

Adaro Jajaki Gasifikasi Batu Bara Demi Perpanjangan Kontrak

Presiden Direktur PT Adaro Indonesia, Garibaldi Thohir atau Boy Thohir saat konferensi pers virtual, Selasa (20/10)

Jakarta, TAMBANG – PT Adaro Indonesia tengah melakukan penjajakan hilirisasi batu bara dengan sejumlah perusahaan penyedia teknologi. Hal tersebut disampaikan Presiden Direktur Adaro Indonesia, Garibaldi Thohir dalam agenda konferensi pers virtual di Jakarta, Selasa (20/10).

Penjajakan tersebut dilakukan untuk mempersiapkan pengajuan perpanjangan kontrak Adaro, yang akan jatuh tempo pada Oktober 2022 mendatang.

“Kita sudah mulai melakukan studi dengan beberapa perusahaan yang mempunyai teknologi hilirisasi, dan ke depan selama itu bisa memberikan kontribusi untuk Indonesia, kita akan lakukan itu,” Ungkap Boy Thohir, sapaan akrab Garibaldi Thohir.

Untuk diketahui, dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 Tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara atau UU Minerba terbaru, pemerintah menentukan tujuh opsi hilirisasi bagi Perjajian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) untuk mendapatkan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK).

Tujuh opsi itu adalah peningkatan kadar atau coal upgrading, pembuatan briket, kokas atau coke making, pencairan atau coal liquefaction, gasifikasi, campuran batu bara-air atau coal slurry dan coal water mixture, serta pembangkit listrik mulut tambang.

Dari tujuh opsi hilirisasi tersebut, kata Boy, Adaro tertarik pada pengembangan gasifikasi. Pasalnya, teknologi ini mampu melahirkan produk turunan berupa metanol, dimethyl ether, dan gas. Menurutnya, teknologi gasifikasi banyak yang sudah terbukti di luar negeri.

“Banyak sekali yang sudah proven. Batu bara jadi metanol, dimethyl ether, gas, dan segala macam. Tentunya kita pilah mana yang bisa sesuai dengan model bisnis kita. Kira-kira apa yang bisa sinergi dengan Adaro,”” beber Boy.

Sebagai informasi, Adaro tercatat sebagai salah satu pemegang Perjajian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) generasi pertama yang saat ini menguasai konsesi seluas 31 ribu hektare.

Selain Adaro, ada enam pemegang PKP2B generasi pertama lainnya yang akan habis masa kontrak. Mereka adalah PT Arutmin Indonesia, PT Kaltim Prima Coal, PT Kideco Jaya Agung, PT Kendilo Coal, PT Multi Harapan Utama, dan PT Berau Coal.

Bisnis Hilir Adaro

Grup Adaro sebenarnya sudah memiliki tiga entitas yang bergerak di lini hilir, membangun pembangkit listrik tenaga uap di berbagai lokasi. Ada PT Makmur Sejahtera Wisesa dan Tanjung Power Indonesia yang beroperasi di Tabalong, Kalimantan Selatan.

Kemudian PLTU Batang, Jawa Tengah, yang menjadi proyek terbesar pembangkit Adaro. Kapasitasnya mencapai dua kali seribu megawatt. Proyek yang dikelola oleh PT Bhimasena Power Indonesia ini, konstruksinya sudah nyaris rampung.

Namun lantaran proyek pembangkit konvensional tidak digolongkan sebagai tiket mendapat IUPK, maka Adaro terpaksa mencoba melebarkan sayap ke cabang hilir yang baru.