Agar Kompetitif Industri Diminta Tinggalkan Teknologi Konvensional

Agar Kompetitif Industri Diminta Tinggalkan Teknologi Konvensional

Nusa Dua-TAMBANG. Industri manufaktur nasional diminta untuk tinggalkan teknologi konvensional pada kegiatan produksi. Hal ini guna menciptakan kegiatan produksi yang lebih praktis, efisien dan kompetitif dalam rangka menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Staf Pengajar Fakultas Teknologi Industri dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Augie Widyotriatmo, PhD, mengatakan di era MEA nanti, industri manufaktur nasional dituntut untuk lebih produktif lagi. Sebab itu, Augie meminta agar industri manufaktur nasional mulai membenahi diri untuk memperbaiki kegiatan produksi. Salah satunya dengan merubah pola kegiatan produksi menggunakan teknologi otomasi.

Melalui teknologi otomasi, kata Augie, industri manufaktur akan jauh lebih kompetitif. Sebab dengan menggunakan teknologi otomasi, perusahaan dapat mengoptimalkan kegiatan produksi dan lebih efisiensi.

“Kita tidak dapat bersaing kalau industri tidak produktif dan efisien. Karena itu perlu otomasi untuk industri agar lebih kompetitif,” ucapnya saat menghadiri acara Siemens Process Automation Conference & Exhibition (SPACe) 2015 di Grand Nikko Hotel, Bali.

SPACe sendiri adalah acara konferensi dua tahunan yang di gelar Siemens yang melibatkan para Advisor dan ekspertis Siemens dari Asia Tenggara dan Australia. Kali ini Indonesia dipilih menjadi tempat penyelenggaraan SPACe 2015 dengan fokus sebagai sarana penghubung industri manufaktur, ada sekitar 200 peserta dari Asia Tenggara dan Australia yang hadir di dalam acara ini. Turut hadir Presiden Director dan CEO PT Siemens Indonesia.

Augie percaya teknologi otomasi bakal banyak membantu industri nasional dalam menjalankan usahanya. Teknologi otomasi mengintegrasikan setiap alat produksi sehingga dapat dipantau dengan mudah dan jauh lebih aman.

Teknologi otomasi biasanya sudah dilengkapi sistim sensor untuk memberikan peringatan kepada operator terkait dengan pontensi kerusakan dan kecil kemungkinan terjadi gagal produksi akibat human error. Karena pada dasarnya teknologi otomasi sudah terintegrasi sehingga sistem akan mengeksekusi setiap potensi permasalahan teknis yang berpotensi membahayakan proses kegiatan produksi.

“Kalau teknologi konvensional biasanya dioperasionalkan oleh petugas operator, kalau terjadi potensi membahayakan, operator ragu mengambil keputusan menghentikan kegiatan produksi dengan berbagai pertimbangan. Berbeda dengan teknologi otomasi yang langsung mengeksekusinya tanpa perintah operator,” jelasnya.

Saat ini lanjut Augie, industri manufaktur Indonesia yang menggunakan teknologi otomasi dapat dihitung. Kebanyakan dari mereka adalah industri skala besar dan menengah, seperti disektor tambang, kimia dan food and Beverage.

Bukan tanpa tantangan, guna menerapkan teknologi otomasi lanjut Augie, dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Pasalnya saat ini, Indonesia masih memiliki kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terampil. Karena itulah perlu ada peningkatan SDM dengan memberikan pelatihan kepada pekerja untuk dapat mengoperasionalkan teknologi otomasi.


Close
Close