Aspindo: Implementasi B20 Belum Optimal Jangkau Usaha Jasa

Aspindo: Implementasi B20 Belum Optimal Jangkau Usaha Jasa
Menko Perekonomian Darmin Nasution, MEnteri BUMN Rini Soemarno dan Dirut Pertamina Nicke Widyawati saat Meresmikan Penerapan B20, Jumat (31/8)
Jakarta, TAMBANG – Direktur Eksekutif Asosiasi Jasa Pertambangan Indonesia (Aspindo) menyampaikan kritikannya terkait implementasi Biosolar yang baru saja diresmikan.   Menurutnya, saat diluncurkan, bahan bakar solar yang dicampur minyak sawit dengan takaran 20 persen (B20) itu belum sepenuhnya melibatkan kelompok usaha jasa pertambangan.   “Saat sosialisasi, yang dominan diundang itu perusahaan tambangnya, bukan usaha jasa. Padahal di lapangan, yang banyak mengerjakan itu usaha jasa,” kata Direktur Eksekutif Aspindo, Bambang Tjanjono kepada tambang.co.id saat dijumpai di pameran Mining and Enginering Indonesia 2018 di Jakarta, Rabu (12/9).   Lebih jauh lagi, Bambang menjelaskan soal sektor pertambangan batu bara di Indonesia. Menurutnya, hampir 90 persen operasional sektor batu bara itu dikerjakan oleh perusahaan jasa pertambangan, bukan perusahaan tambang itu sendiri.   Untuk itu, semestinya implementasi B20 yang mewajibkan seluruh alat berat pertambangan menggunakan bahan bakar nabati ini, disasarkan kepada pelaku usaha jasa, bukan perusahaan tambangnya.   “Yang sering dimintai pendapat itu Adaro, KPC (Kaltim Prima Coal), Berau (Coal), dan lain-lain,” tegas bambang.   Secara khusus, ia meragukan soal kepastian rantai pasok B20 dari pihak distributor kepada pengguna yang berada di daerah-daerah remote. Selain itu, ia juga masih mempertanyakan terkait teknis penyimpanan B20 yang dinilai masih rentan kerusakan.   “Kita tahu kan tiga bulan penyimpanan. Meskipun sebenarnya relatif, tapi itu butuh tanki yang lebih baik lagi,” papar Bambang.   Daya tahan B20, sambung Bambang, hanya sekitar tiga bulan saja. Kalau pun bisa melebihi durasi tersebut, maka dibutuhkan perawatan ekstra, seperti pencegahan bertambahnya kadar air dan kualitas tanki yang mumpuni.   Sebelumnya, dikonfirmasi di tempat berbeda, Direktur Bioenergi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Feby Andriah, mengatakan, jika pihaknya berhasil mengembangkan ketahanan B20 ini.   “Sudah sampai enam bulan (penyimpanannya). Catatannya, maintanance-nya harus tepat. Bagaimana bisa terhindar dari tambahan kadar air,” beber Feby kepada tambang.co.id saat seremonial peluncuran B20 awal September lalu.  

Artikel Terkait

Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Jakarta, TAMBANG – Industri pertambangan batu bara di Kalimantan Tengah (Kalteng) tengah menghadapi gangguan akibat kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut berdampak terhadap pengangkutan batu bara melalui Sungai Barito, sekaligus mengancam pemenuhan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO). Ketua Forum Kepala Teknik Tambang (FKTT) Kalteng, Handry Mardam, mengatakan Sungai

By Rian Wahyuddin
Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Jakarta, TAMBANG – Pasokan batu bara untuk industri semen mengalami kendala akibat gangguan pengiriman di sejumlah wilayah. Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM tengah mencari sumber pasokan alternatif untuk mengatasi kondisi tersebut. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan pihaknya menerima laporan terkait berkurangnya pasokan

By Rian Wahyuddin
Tekan Ketergantungan pada Impor, Pertamina Lubricants Luncurkan Katalis FCC/RFCC untuk Efisiensi Kilang

Tekan Ketergantungan pada Impor, Pertamina Lubricants Luncurkan Katalis FCC/RFCC untuk Efisiensi Kilang

Jakarta,TAMBANG,- Demi mengurangi ketergantungan impor dan mewujudkan kemandirian teknologi energi nasional,  PT Pertamina Lubricants (PTPL) bersama PT Pertamina (Persero) meluncurkan katalis. Produk ini merupakan hasil pengembangan kolaborasi antar riset Pertamina Group, yakni Fluid Catalytic Cracking (FCC), Residue Catalytic Cracking (RCC), dan Residue Fluid Catalytic Cracking (RFCC).  Dijelaskan pula bahwa

By Egenius Soda