Batu Bara: Investor Risau Hadapi Pasar

Batu Bara: Investor Risau Hadapi Pasar

Konsultan perdagangan karbon, Carbon Tracker Initiative menilai, perdagangan batu bara semakin sulit. Biaya semakin mahal, dan tuntutan dari lingkungan semakin berat.

Permintaan terhadap batu bara yang menurun di Cina membuat industri batu bara memiliki risiko tinggi. Permintaan terhadap batu bara di Cina diperkirakan akan terus menurun setelah 2016, setelah negara itu semakin gencar menggunakan energi terbarukan, gas, dan nuklir. Lembaga konsultan karbon, Carbon Tracker Initiative, sebagaimana dikutip koran Inggris The Courier hari ini mengatakan, pemerintah dan pembuat kebijakan harus memperhatikan emisi batu bara untuk menghindari bencana iklim. Teknologi baru berpotensi untuk mencampakkan batu bara, dan menyediakan energi terbarukan yang murah. ‘’Investor perlu bertanya apakah risiko-risiko yang terus bertambah sudah dicantumkan,’’ demikian laporan Carbon Tracker Initiative. Upaya oleh pemerintah Cina untuk memangkas impor akan membuat keguncangan di pasar batu bara global. Dampaknya akan menimpa industri batu bara di Amerika Serikat, Australia, Indonesia, Afrika Selatan. Pembangunan pembangkit listrik baru berbahan bakar batu bara di Eropa dan Amerika Serikat akan mengalami kesulitan, karena terkendala aturan lingkungan. India harus mengatasi persoalan infrastruktur dan keuangan jika ingin menambah impor batu bara.

Investasi di tambang batu bara dunia, yang totalnya mencapai £68 miliar, dinilai berlebihan, mengingat permintaan terhadap batu bara akan melemah. Analis di Carbon Tracker menilai, tambang dengan biaya tinggi tidak akan menguntungkan. Beberapa tambang baru dengan biaya tinggi, seperti di Cekungan Galilee, Australia, diperkirakan investasinya berlebihan. Proyek di Galilee itu diandalkan jadi sumber pemasukan baru bagi Australia. Batu bara hasil tambangnya diekspor untuk India, Cina, dan keperluan dalam negeri. Proyek ini memicu kontroversi karena dinilai merusak lingkungan. James Leaton, Direktur Riset Carbon Tracker menilai, ‘’Industri batu bara dunia seperti tengah bermain musik bersama permintaan. Setiap kali musik berhenti, kepingan lain dari pasar tengah diambil.’’ Laporan Carbon Tracker ini akan disajikan dalam pertemuan PBB mengenai perubahan iklim di New York, pekan ini (Iwan QH/The Courier)

Artikel Terkait

PROMETINDO Didorong Jadi Motor Transformasi Industri Metalurgi Nasional

PROMETINDO Didorong Jadi Motor Transformasi Industri Metalurgi Nasional

Jakarta, TAMBANG – Perhimpunan Ahli Metalurgi Indonesia (PROMETINDO) dinilai memiliki peran strategis dalam mengawal transformasi industri mineral Indonesia, khususnya di tengah agenda hilirisasi dan industrialisasi. Organisasi profesi ini didorong tidak hanya memperkuat kompetensi ahli metalurgi, tetapi juga melahirkan gagasan yang mampu menjawab tantangan industri ke depan. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara

By Rian Wahyuddin
Dirjen Minerba Tri Winarno Dorong PROMETINDO Perkuat Teknologi Metalurgi dan Akselerasi Hilirisasi

Dirjen Minerba Tri Winarno Dorong PROMETINDO Perkuat Teknologi Metalurgi dan Akselerasi Hilirisasi

Jakarta, TAMBANG – Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Tri Winarno mendorong Asosiasi Profesi Metalurgi Indonesia (PROMETINDO) mengambil peran strategis dalam memperkuat kemandirian teknologi metalurgi dan mendukung agenda hilirisasi mineral di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Tri Winarno dalam Kongres Nasional PROMETINDO 2026 yang digelar

By Rian Wahyuddin