Bauran Pembangkit EBT dari PLTS Masih Kecil, Ini Pemicunya

Revisi KEN
PLTS Apung. dok: PLN

Jakarta, TAMBANG – Bauran Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dalam pembangkit Energi Baru dan Terbarukan (EBT) untuk menopang program transisi energi masih relatif kecil. Pada semester I 2023 saja, realisasi PLTS hanya mencapai 322,6 Megawatt (Mw) atau kedua paling rendah dibanding sumber energi hijau lainnya.

Executive Vice President Renko PLN, Harlen menyatakan bahwa selain butuh investasi yang besar, tantangan pembangunan PLTS juga disebabkan regulasi yang ketat. Saat Pembangunan PLTS Cirata di Purwakarta, Jawa Barat, pihaknya bahkan harus mengajukan dulu waiver untuk penggunaan modul surya impor alias non TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri).

“Tantangannnya banyak dari renewable energi kita itu. Memang memerlukan kebijakan-kebijakan khusus yang perlu dikeroyok rame-rame. Kaya kemarin saat pembangunan PLTS (Cirata) kita juga tidak secepat itu,” ujar Harlen dalam Webinar Series Transisi Energi Seri ke-2 yang digelar Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) bertema “Pandangan Stakeholders mengenai Pengaruh Transisi Energi terhadap Ekonomi”, Kamis (2/11).

“Sekarang kami membangun PLTS juga harus mengajukan waiver dulu karena memang target 60 persennya (dari 700 GW PLT EBT tahun 2060) belum ada di Indonesia untuk TKDN-nya,” imbuh dia.

Pada tahun 2060 seiring dengan program Net Zero Emission (NZE), pembangkit listrik Indonesia akan bersumber dari PLT EBT hingga 700 Gw. Sementara pada semester I 2023 ini, target bauran EBT baru mencapai 12,7 Gw atau sekitar 12 persen, sebesar 322,6 Mw dari PLTS.

Padahal total potensi EBT RI sendiri mencapai 3.687 Gw di mana yang paling besar berasal dari energi surya hingga mencapai 3.294 Gw. Terkait hal ini Harlen menyebut bahwa potensi itu tidak semuanya harus direalisasikan karena akan membutuhkan area yang sangat besar.

“Tapi kalau semuanya kita PLTS, kan nanti sawah dan ladang kita tertutup panel surya semua. Sudah kita kumpulkan potensi yang ada di renewable,” ucap dia.

Sebagai informasi, hingga Semester I tahun 2023, tercatat kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) EBT secara menyeluruh sudah mencapai 12.736,7 Mw. Besaran angka ini merupakan hasil kontribusi dari PLT Air sebesar 6.738,3 Mw, PLT Bio 3.118,3 Mw, PLT Panas Bumi 2.373,1 Mw, PLT Surya 322,6 Mw, PLT Bayu 154,3 Mw, serta PLT Gasifikasi Batubara 30,0 Mw.

Artikel Terkait

Enlit Asia dan MKI Electricity Connect 2026 Hadirkan 280+ Perusahaan Global

Enlit Asia dan MKI Electricity Connect 2026 Hadirkan 280+ Perusahaan Global

Jakarta, TAMBANG – Sektor ketenagalistrikan Indonesia tengah memasuki fase transformasi yang penting. Peningkatan permintaan listrik, integrasi energi terbarukan, modernisasi jaringan, digitalisasi, serta meningkatnya kebutuhan listrik dari sektor industri dan pusat data mendorong kebutuhan akan sistem ketenagalistrikan yang semakin andal, fleksibel, dan tangguh. Dalam konteks tersebut, Enlit Asia dan MKI Electricity Connect

By Rian Wahyuddin
Bos Perminas Buka-Bukaan Tantangan Pengembangan Logam Tanah Jarang di Dalam Negeri

Bos Perminas Buka-Bukaan Tantangan Pengembangan Logam Tanah Jarang di Dalam Negeri

Jakarta, TAMBANG – Presiden Direktur PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas), Gilarsi Wahju Setijono mengungkap sejumlah tantangan pengembangan komoditas logam tanah jarang (LTJ) di dalam negeri. Saat ini, Perminas sudah mendapatkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) LTJ eksplorasi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Mamuju, Sulawesi Barat. Kata Gilarsi, tantangan

By Rian Wahyuddin