Beranda Tambang Today Cara Baru Rekayasa Lumpur Lewat Geotube

Cara Baru Rekayasa Lumpur Lewat Geotube

Dengan keterbatasan area penampungan, sistem geotube menjadi solusi untuk mengelola lumpur dalam mata rantai operasional tambang. Melalui proses pumping, dewatering, dan relaksasi, lumpur dipadatkan dalam struktur geotekstil berlapis. Cara ini diproyeksikan memberi nilai tambah, tanah yang sudah mengendap diproyeksikan dapat menjadi media tanam dan alternatif struktur geoteknik.

Siang itu langit di atas area tambang PT Borneo Indobara (BIB) diselimuti awan yang menggantung rendah, membawa suasana teduh yang jarang singgah di tengah terik ritme operasional tambang. Di salah satu sudut, deretan kantong berisi lumpur tampak membujur seperti bantal-bantal raksasa. Itulah geotube, yang tengah menunggu waktu untuk mengeras.

Geotube merupakan kantong besar berbahan geotekstil yang diisi lumpur atau material sedimen melalui proses pumping. Praktik yang umum, teknologi ini digunakan untuk mengendalikan sedimentasi di kawasan pesisir. BIB membawa metode tersebut ke operasional tambang untuk pengelolaan lumpur.

Yudha Hes, Department Head Environment & Reclamation BIB menjelaskan, proses geotube mungkin bagi sebagian orang yang melihat, tampak sederhana, tetapi bagi timnya, metode ini adalah rangkaian kerja presisi yang menentukan bagaimana operasional BIB tetap produktif dan efisien, mengelola lumpur di tengah ruang yang semakin terbatas.

“Awal mula ide geotube digulirkan karena keterbatasan lubang bekas tambang,” ujarnya saat dijumpai TAMBANG, pertengahan November lalu.

Bertahun-tahun lamanya, metode memompa lumpur langsung ke void, menjadi cara paling murah, paling cepat, dan paling mudah. Tetapi ketersediaan void seperti jam pasir, tak pernah bertambah, perlahan habis.

Dalam kondisi void yang semakin terbatas dan standar lingkungan yang kian ketat, BIB dipacu untuk beralih dari metode lama. Hingga akhirnya, Yudha dan timnya memulai serangkaian studi banding, termasuk melihat bagaimana perusahaan tambang lain menggunakan geotube. Ia melihat bagaimana geotekstil berpori mampu menangkap sedimen dan melepaskan air jernih.

Pertanyaannya, apakah metode itu bisa diaplikasikan di situasi dan kondisi BIB? Jawabannya datang melalui eksperimen lapangan. Dari situ, uji coba dimulai. Hingga November, terhitung proses aplikasi geotube di BIB sudah berjalan sekitar lima bulan. Dimulai dengan menyiapkan pad seluas 61×18 meter, tanah dipadatkan, dibuatkan parit air, dilapisi geomembran agar tidak ada rembesan ke bawah. Lumpur tambang di BIB yang rata-rata memiliki specific gravity (SG) 1,2, diberi flokulan sebelum dipompa menuju kantong-kantong geotube.

“Konsepnya sederhana. Lumpurnya dimasukin ke kantong geotube. Airnya keluar melalui pori-pori, lumpurnya tertahan dalam geotube, dan akhirnya mengeras.” kata Yudha.

Tetapi di balik konsep sederhana itu, implementasi geotube membutuhkan disiplin teknis. Geotube diisi bertahap hingga mencapai ketinggian maksimal 1,8 meter. Setelah itu, harus dibiarkan 30–50 hari untuk relaksasi, proses pelepasan air hingga sedimen mengental dan SG naik ke angka 1,4, barulah layer berikutnya dapat ditumpuk. Terlalu cepat menambah layer dapat merusak struktur; terlalu lambat mengurangi efisiensi. Targetnya, kantong-kantong geotube akan ditumpuk menjadi tiga layer dengan total padatan yang ditampung mencapai 50 ribu meter kubik.

Menurut Supandi Division Head Health, Safety, and Environment BIB, terlalu cepat menambah layer bisa membuat kantong geotube rusak atau bocor. Terlalu lambat, efisiensi terbuang. Di sinilah seni pengelolaan lumpur bekerja, tidak hanya memindahkan material, tetapi membaca responsnya. Seluruh parameter dan variabel dicatat, mulai dari produktivitas pompa, rasio bahan bakar per meter kubik, perubahan SG, hingga pola bentuk kantong.

“Pengelolaan geotube adalah pekerjaan presisi. Setiap keputusan teknis harus dihitung, karena selisih sedikit saja pada waktu penambahan layer bisa menentukan keberhasilan atau kegagalan struktur. Kami memastikan seluruh parameter terukur secara konsisten, agar seluruh proses berlangsung aman, stabil, dan dapat dipertanggungjawabkan,” ungkap Supandi.

Supandi Division Head Health, Safety, and Environment BIB dan Wawan Heri Sasono, Penanggung Jawab Operasional HBSM site BIB

Pemompaan, Rekayasa dan Ritme Kerja di Lapangan

Tim BIB merupakan promotor, sedangkan eksekutor lapangannya adalah PT HidupBaru Sukses Mandiri (HBSM), yang memastikan geotube bukan sekadar konsep, tetapi bekerja dengan produktif dan efisien untuk menunjang operasional pertambangan.

“HBSM berperan menangani seluruh perangkat teknis, mulai dari menyiapkan set pompa, boosterblending chemical, kantong geotube, hingga tim lapangan yang turun tangan memastikan semua berjalan dengan lancar sesuai rencana.” ujar Daniel Lim Chief Engineer HBSM.

Seluruh rangkaian kerja tersebut berada dalam manajemen penuh HBSM, sehingga integrasi antara desain, material, dan eksekusi dapat dikendalikan secara menyeluruh. HBSM memadukan keahlian engineering pemompaan lumpur dengan dukungan material internasional, yaitu Solmax untuk geotextile dan SNF untuk bahan kimia flocculants. Pengawalan mutu ini dipimpin langsung oleh Daniel Lim dengan dukungan Wawan Heri Sasono sebagai Penanggung Jawab Operasional HBSM site BIB.

Ritme kerja tim HBSM tidak ringan. Setiap hari, pompa dipacu mengisi kantong geotube selama lima hingga enam jam. Setelah itu, proses relaksasi harus dipastikan berjalan lancar. Tekanan, stabilitas aliran, dan bentuk kantong harus terus dipantau, karena sedikit deviasi saja bisa membuat geotekstil berubah bentuk, yang dapat membubarkan rencana dan target.

Menurut Wawan, HBSM menggunakan 18–21 bag per hari untuk kebutuhan bahan kimia, masing-masing seberat 25 kilogram. Bahan ini dicampurkan ke lumpur sebelum masuk ke kantong geotube. Dosisnya bisa ditekan bila TSS lebih rendah, sesuatu yang sangat diperhitungkan karena langsung memengaruhi biaya operasional dan efektifitas geotube secara keseluruhan.

Yang menarik dari geotube bukan hanya proses pemompaan, tetapi karakter materialnya. Geotekstilnya memiliki pori-pori yang hanya memungkinkan air keluar, bukan masuk. Fungsi anti-inflow ini membuat hujan tidak memengaruhi proses dewatering.

Dari sisi kapasitas, HBSM ditarget menangani volume besar, 50 ribu meter kubik lumpur, yang akan disuntik ke dalam 27 kantong geotube yang terpasang paralel dan bertumpuk. Pola kerjanya seperti ritme mesin yang panjang: satu kantong diisi, satu relaksasi, satu standby. Putaran itu memastikan proyek berjalan tanpa jeda panjang.

Proses geotube selalu membutuhkan kreativitas. Drum berisi air dipakai sebagai penahan bentuk. Manifold khusus dibuat untuk menyalurkan lumpur kedalam geotube dengan lebih efisien mamastikan setiap kantong geotube mendapatkan flow dan tekanan yang sama. Port pun ditempatkan sedemikian rupa agar kantong mengembang lurus

“Intinya, geotube ini kami kombinasikan dengan rekayasa lapangan supaya produktif, efisien, dan sesuai dengan kondisi di lapangan. HBSM bukan hanya berperan sebagai penyedia pompa, tetapi memberikan solusi menyeluruh terkait penanganan lumpur,” beber Wawan.

Manfaat Ganda Jangka Panjang

Selama proses pengaplikasian geotube di BIB, rupanya, material lumpur yang sudah memadat, menawarkan peluang lain. Lumpur mengering menyerupai clay. Pinggiran kantong geotube yang direlaksasi, justru ditumbuhi vegetasi spontan, rerumputan. Fenomena ini mengindikasikan bahwa material itu bisa menjadi media tanam tanpa topsoil tambahan. Sehingga membuka pilihan reklamasi yang lebih hemat dan efisien.

Dalam rencana jangka panjang, geotube tidak hanya diperlakukan sebagai penampung lumpur sementara. BIB sedang mengkaji penggunaannya sebagai struktur buffer di ujung disposal. Jika kantong sudah padat dan mencapai SG 1,4 atau lebih, akan cukup kuat untuk menahan tekanan lateral overburden. Ketahanan materialnya diperkirakan mencapai kurang lebih 15 tahun, memberi waktu yang luas untuk perencanaan disposal berikutnya.

Dengan metode ini, lumpur tidak sekadar dipindahkan, tetapi dimanfaatkan, dibentuk ulang, bahkan diberdayakan. Bagi dunia penambangan, geotube adalah jembatan baru ketika void terbatas dan tidak lagi dapat penampungan lumpur.

Geotube mungkin hanya bantal besar dari geotekstil. Tetapi di tangan HBSM dan BIB, geotube adalah simbol kesadaran, bahwa masa depan tambang bukan hanya soal menggali, tetapi juga mengelola, memahami, dan berinovasi. Satu kantong demi satu kantong, satu lapisan demi satu lapisan, kreativitas dalam teknis operasional terus dijalankan.