Dari Hasil Keripik Tiga Saudara, Ermita Berangkat Haji

Dari Hasil Keripik Tiga Saudara, Ermita Berangkat Haji

Jakarta, TAMBANG – JIKA ada kesempatan ke Kota Duri, Kabupaten Bengkalis tidak perlu bingung mencari oleh-oleh. Kunjungi saja Pusat Oleh-Oleh Duri (POD) yang ada di Jalan Mawar No.5, Duri. Ada aneka makanan ringan dan barang-barang khas Kota Duri. Termasuk Aneka Keripik dengan label “Tiga Saudara”. Ada Keripik Bayam, ada Keripik Tempe, Keripik Kentang dan Keripik Talas. Semua dalam kemasan yang menarik dan dijamin maknyus rasanya.

 

Seperti produk-produk lain yang dipajang di POD Duri, keripik berlabel Tiga Saudara ini adalah hasil karya tangan trampil masyarakat binaan PT Chevron Pacific Indonesia (PT CPI). Kripik dengan aneka rasa ini diproduksi Ibu Ermita. Wanita 52 tahun yang tinggal di Duri, Kabupaten Bengkalis, Riau.

 

Ia seorang wanita singleparent yang harus membesarkan ketiga anaknya. Suaminya meninggal di tahun 2005. Mulanya ia memulai usaha jualan Keripik Bayam. Masih dalam skala rumah tangga. Ini dilakukannya untuk memenuhi kebutuhan hidup ia dan ketiga anaknya.

 

Karena masih dilakukan dalam skala kecil, pendapatan yang diterima pun tidak besar. Hanya cukup untuk hidup. Oleh karenanya Ia tidak berani bermimpi punya sesuatu. Ia bahkan harus mengubur kerinduan untuk berangkat Haji.

 

Tetapi semua berubah ketika Ermita bergabung di program Pusat Pembinaan Usahawan Mitra Chevron (PUC). Sebuah program investasi sosial dari PT CPI.  Itu terjadi di tahun 2014.

 

Seperti diketahui PT CPI adalah Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang mengoperasikan lapangan migas di Riau. Perusahaan ini beroperasi di bawah pengawasan dan pengendalian Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

 

Di Program ini, Ermita mendapat tambahan pengetahuan dan ketrampilan. Ia mengikuti seminar, pelatihan sanitasi dan kemasan. Ia juga mendapat pendampingan lapangan oleh tenaga trampil.

 

Berbekal pengetahuan yang didapat dan pendampingan yang intens, usaha kripik Ibu Ermita mulai berkembang. Usaha keripik yang awalnya hanya dilakukan dengan cara sederhana kini mulai lebih profesional. Cita rasanya pun menjadi lebih enak dan kemasannya lebih menarik. Disetiap kemasan produknya tertera tulisan Tiga Saudara lengkap dengan label halal.

 

Tidak hanya itu, produknya pun mulai beragam. Selain ada Keripik Bayam juga ada Keripik Tempe, Keripik Talas, Keripik Pisang dan Keripik Kentang. Bahkan sudah ada Rendang Abon Tiga Saudara. Masing-masing produk dengan harga beragam. Keripik Bayam misalnya dihargai Rp.13.000 per kemasan. Keripik Kentang dijual dengan harga Rp.26.000,- per kemasan. Bisnis rumah tangga yang semula kecil-kecilan mulai besar.

 

Kemudian dengan bantuan PUC, produk keripik Tiga Saudara ini dipasarkan di Pusat Oleh-Oleh Duri. Juga di outlet lain yang bekerja sama dengan Pusat Oleh Oleh Duri. Sehingga semakin banyak yang mengenal dan menikmatinya. Omsetnya pun terus bertambah. Kini setiap bulan rata-rata Ermita meraup penghasilan lebih dari Rp 6 juta.

 

Dengan pendapatan yang meningkat, kehidupan ekonomi keluarga pun mulai semakin baik. Ermita juga sudah mulai punya keleluasaan untuk memiliki apa yang dibutuhkannya. Ia mulai mencicil dua kavling tanah seluas sekitar 1.280 meter per segi. Keduanya juga sudah bersertifikat. Ia juga mampu menyisihkan pendapatan untuk menyicil kendaraan dan program asuransi kesehatan.

 

“Saya ingin anak-anak saya sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, dibandingkan saya dulu.Anak-anak harus sukses,” kata Ermita di suatu kesempatan.

 

Lebih penting lagi dari hasil usaha kripik ini, Ermita berhasil mewujudkan impiannya pergi Haji. Ermita mendaftarkan diri dan mencicil pembiayaan program haji di salah satu bank syariah. Ketekunannya pun berbuah manis ketika di tahun 2017, Ernita  berangkat Haji.

 

****

 

Ermita menjadi contoh kisah sukses program investasi sosial lewat Pusat Pembinaan Usahawan Mitra Chevron (PUC). Program ini dikembangkan PT Chevron Pasifik Indonesia (PT CPI) sejak 2012. Sampai sekarang telah membina sekitar 250 Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Pesertanya adalah masyarakat di sekitar wilayah operasi PT CPI yakni Duri, Bengkalis, Rokan Hilir (Rohil), dan Dumai.

 

Mereka yang dibina bergerak diberbagai bidang usaha mulai dari makanan seperti aneka keripik, dodol, bolu kemojo. Juga bidang kerajinan tangan berupa produk kertas dari bahan daur ulang, vas bunga, produk dari batok kelapa, miniatur dari kayu bekas. Dan barang-barang khas Riau lainnya seperti kain tenun dan kerajinan tekat.

 

Di sini ada banyak kegiatan pemberdayaan yang dilakukan mulai dari memberi pendampingan binaan di lapangan, meningkatkan kapasitas pelaku UMKM melalui seminar dan pelatihan. Meningkatkan kualitas produk baik dari segi kemasan, rasa, maupun kebersihan. Juga menjadi wadah konsultasi bisnis bahkan sampai pada membantu pengurusan perizinan industri rumah tangga (P-IRT) serta label halal.

 

Program PUC juga memfasilitasi pemasaran dengan membuka Pondok Oleh-oleh di Duri, Rokan Hilir dan Dumai. Di tempat-tempat inilah dipajang dan dijual produk-produk dari para mitra binaan.

 

Yanto Sianipar, Senior Vice President Policy, Government and Public Affairs Chevron IndoAsia Business Unit, induk usaha PT PT CPI mengakui dari pengalaman selama ini, Program PUC terbukti mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. Pada gilirannya diyakini pula dapat menggerakkan perekonomian lokal.

 

“Saya sangat bangga karena banyak diantara usahawan mitra Chevron yang sudah memberdayakan masyarakat sekitar sehingga manfaat berganda dari program PUC ini dapat dirasakan secara luas,” tutur Yanto. Ia pun berharap Program PUC ini didukung pemerintah dan pihak terkait lainnya sehingga dapat berkelanjutan.

 

Sebagaimana diketahui, Chevron telah berinvestasi di Indonesia sejak 1924 ini. Perusahaan ini punya moto, “Human Energy” atau Energi Insani. Ini menunjukkan komtimen perusahaan untuk berinvestasi pada sumber daya manusia.

 

Chevron juga aktif menjalankan kegiatan investasi sosial, melalui berbagai program tanggungjawab sosial sejak tahun 1950-an. Ada filosofi yang di terus dipegang Perusahaan asal Amerika ini, bahwa perusahaan hanya dapat bertahan jika mampu memenuhi kebutuhan sosial. Sebaliknya, perusahaan hanya dapat melayani kebutuhan sosial kalau sudah mantap secara ekonomi. Ini filosofi yang diwariskan Julius Tahija, Presiden Direktur PT Caltex Indonesia ( Sebelum berubah jadi PT Chevron Pacific Indonesia,red).

 

Yanto menjelaskan program investasi sosial Chevron dijalankan dengan dasar penguatan masyarakat untuk perekonomian yang berkelanjutan. Strategi investasi sosial yang dikembangkan perusahaan energi ini terus berubah mengikuti dinamika yang berkembang di masyarakat.

 

“Tujuan akhir dari kegiatan investasi sosial itu adalah menciptakan kemandirian masyarakat secara ekonomi,” ujarnya.

 

Program investasi sosial Chevron di Indonesia memiliki empat area fokus meliputi pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lingkungan. Selain itu, Chevron juga berperan aktif dalam program rehabilitasi jangka panjang pasca bencana.

 

Terkait hal ini Risna Resnawaty, pakar CSR dan Ketua Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Padjadjaran punya pendapat. Menurutnya pemberdayaan masyarakat yang dilakukan dalam koridor penguatan masyarakat akan memberi dampak positif secara ekonomi, sosial maupun lingkungan perusahaan. Pelaksanaan investasi sosial di perusahaan migas pada ujungnya harus mampu memberikan penguatan daya saing masyarakat. “Dalam kerangka ini partisipasi masyarakat sejak awal program sudah menjadi keharusan,” tegas Risna.

 

Risna juga menilai pelaksanaan CSR dengan melibatkan peran masyarakat (community empowerment) akan lebih berdayaguna. Memang cara ini akan melewati proses lebih panjang ketimbang hanya memberi bantuan (community assistance) maupun community relation (menjalin hubungan).

 

“Kegiatan CSR atau investasi sosial yang benar seharusnya mampu memberi dampak positif baik secara ekonomi, sosial atau pun ekologis,” pungkasnya.

 

Terkait dampak kegiatan investasi sosial Chevron bagi masyarakat, riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi & Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia bersama HIS telah membuktikannya. Kedua lembaga ini melakukan studi dampak ekonomi dari kegiatan Chevron.

 

Sampai tahun 2013 Chevron bersama mitranya telah berkontribusi sebesar Rp125 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Chevron dan mitranya juga telah menyumbang Rp101 triliun bagi pendapatan negara melalui pendapatan pemerintah dari migas atau government lifting entitlements dan pajak.

 

Selain itu diperiode 2009-2013, Pemerintah Indonesia menerima pendapatan dari blok migas yang dikelola Chevron, termasuk mitranya, sebesar Rp 455 triliun. Jumlah ini setara dengan biaya untuk membangun jalan lintas Sumatera dari Aceh ke Lampung sepanjang 2.700 km. Sementara pendapatan rata-rata per tahun yang dihasilkan dari operasi Chevron, sekitar Rp 91 triliun atau setara dengan 7,7% dana APBN di tahun tersebut. Jumlah ini setara dengan biaya untuk membangun 41.000 klinik kesehatan.

 

“Beroperasi di bawah pengawasan dan pengendalian SKK Migas berdasarkan Kontrak Kerja Sama (KKS), Chevron telah menciptakan lapangan kerja baik secara langsung dan tidak langsung, sekaligus memberikan efek berganda melalui rantai pemasok utama dan rantai pemasok tidak langsung serta efek imbasan melalui industri penunjang,” pungkas Yanto.


Close
Close