Dicurigai Ada Transaksi Bodong dalam Akuisisi PetroChina terhadap Blok Madura

Dicurigai Ada Transaksi Bodong dalam Akuisisi PetroChina terhadap Blok Madura
Pompa bensin PetroChina.

Jakarta—TAMBANG. TIDAK mudah untuk memantau investasi di luar negeri di bidang eksplorasi minyak dan gas yang penuh risiko. Persoalan inilah yang kini tengah menjadi bahasan dalam investasi perusahaan raksasa migas dari Cina, China National Petroleum Corporation. Sogokan untuk para eksekutif, atau penggelembungan biaya, bisa ditutupi dengan alasan kekeliruan atau kegagalan akuisisi data, kesalahan interpretasi, atau data yang kurang lengkap.

Koran Singapura The Straits Times, dalam pemberitaannya hari ini menyebutkan, dewasa ini tengah terjadi penyelidikan dalam kontrak terhadap Blok Limau, Sumatera Selatan. Bersamaan dengan investasi terhadap kasus Blok Limau, juga ditemukan ada dua kasus lain yang mencurigakan, yang melibatkan kasus cukup besar, US$ 350 juta, sekitar Rp 4,5 triliun. ‘’Intinya yang diakuisisi adalah aset yang tak ada harganya,’’ kata seorang investigator yang juga terlibat dalam investigasi Blok Limau. ‘’Negara dirugikan sangat besar,’’ lanjutnya.

Kasus yang pertama bermula pada 2009, tatkala induk CNPC, PetroChina, mengumumkan membeli 80% kepemilikan di Blok Madura, Jawa Timur, tanpa ada data pendukung berupa harga aset, deskripsinya, serta rincian pemasoknya.

Setelah mengkaji catatan internal, seorang pejabat senior industri perminyakan Cina mengatakan, harga untuk eksplorasi dan hak pengembangan untuk blok in adalah US$ 120 juta. ‘’Kami bahkan tidak tahu bila di sana ada cadangan,’’ kata seorang petugas senior industri perminyakan Cina, yang berkunjung ke lokasi, tahun lalu.

PetroChina Blok Madura bahkan gagal mengirimkan data kepada United Energy Group Ltd, sebuah perusahaan energy yang terdaftar di Bursa Hong Kong, dan memiliki hubungan dekat dengan CNPC.

Pada Juni 2009 United Energy membeli 10% saham untuk kegiatan eksplorasi di Madura itu dengan harga US$ 21,505 juta. Data di Bursa Hong Kong tertulis, United Energy membeli saham dari Madura Petroleum, perusahaan yang terdaftar di British Virgin Island.

United Energy hanya memberi penjelasan sedikit terhadap transaksi itu, di dokumen yang dikirim ke otoritas bursa. Juru bicara United Energy, Zhao Pingshun mengatakan, tidak ada minyak yang dihasilkan dari sumur di Madura itu karena masih dalam tahap eksplorasi. ‘’Kami belum banyak membuat kemajuan terhadap eksplorasi di wilayah itu, sehingga tidak ada informasi yang bisa kami sampaikan,’’ katanya.

Artikel Terkait

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Jakarta, TAMBANG — PT Multi Power Adi Tama (Multi Power Group) memperkuat komitmennya sebagai mitra solusi efisiensi bagi industri alat berat melalui pendekatan bisnis yang berorientasi pada kebutuhan operasional pelanggan. Perusahaan tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga membantu pelanggan menentukan solusi yang sesuai dengan karakter pekerjaan, target performa, dan kemampuan anggaran.

By Rian Wahyuddin
Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Jakarta, TAMBANG – Industri pertambangan batu bara di Kalimantan Tengah (Kalteng) tengah menghadapi gangguan akibat kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut berdampak terhadap pengangkutan batu bara melalui Sungai Barito, sekaligus mengancam pemenuhan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO). Ketua Forum Kepala Teknik Tambang (FKTT) Kalteng, Handry Mardam, mengatakan Sungai

By Rian Wahyuddin
Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Jakarta, TAMBANG – Pasokan batu bara untuk industri semen mengalami kendala akibat gangguan pengiriman di sejumlah wilayah. Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM tengah mencari sumber pasokan alternatif untuk mengatasi kondisi tersebut. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan pihaknya menerima laporan terkait berkurangnya pasokan

By Rian Wahyuddin