Beranda Korporasi Ditengah Pandemi,Produksi Nikel Matte INCO Di Semester I Naik 18 Persen

Ditengah Pandemi,Produksi Nikel Matte INCO Di Semester I Naik 18 Persen

Pekerja PT Vale Indonesia melintasi area packaging nikel Vale yang siap di ekspor ke Jepang, di pabrik nikel Sorowako, Kamis (26/7)

Jakarta,TAMBANG, Pandemi covid-19 ternyata tidak berdampak pada kinerja operasional PT Vale Indonesia. Ini terbukti dari capaian kinerja operasional perusahaan di sepanjang paruh pertama tahun ini.

Dalam enam bulan pertama tahun ini, emiten berkode saham INCO ini memproduki nikel matte sebanyak 36.315 ton. Dibanding periode yang sama tahun lalu ada kenaikan 18%. Di semester I tahun 2019, produksi nikel matte perusahaan sebesar 36.600 ton.

Capaian ini diapresiasi Direktur Utama dan CEO PT Vale Indonesia Nico Kanter. “Kami menghargai kerja keras seluruh karyawan di PT Vale untuk mencapai hasil yang baik pada triwulan ini, meskipun harus fokus mengantisipasi kemungkinan dampak Covid-19 pada operasi kami,” ungkap Nico dalam diskusi virtual hari ini, Rabu (26/8).

Nico juga menegaskan komitmen perusahaan untuk memprioritaskan kesehatan dan keselamatan karyawan. Untuk itu perusahaan melakukan berbagai langkah mengantisipasi dan upaya mengurangi dampak potensial dari penyebaran Covid-19 terhadap operasi kami.

Di tempat yang sama Direktur Keuangan PT Vale Indonesia Bernardus Irmanto menargetkan peningkatan produksi nikel matte tahun ini menjadi 73.000 ton. Diawal tahun perusahaan menargetkan produksi nikel matte sebesar 71.000 ton.

Peningkatan ini dimungkinkan karena perusahaan menunda pelaksanaan perawatan tanur listrik 4 ke kuartal III-2021. Sebelumnya kegiatan ini direncanakan tahun ini.

“Karena kami putuskan tunda pelaksanaan rebuild tanur unit 4, salah satu proyek yang kami rencanakan di tahun ini. Kami akan produksi lebih tinggi, kisarannya di angka 73 kilo (73.000) ton,” kata Bernardus.

Kinerja produksi yang positif di paruh pertama ditopang dengan harga yang membaik membuat kinerja keuangan juga positif. Perusahaan yang mengoperasikan tambang dan smelter nikel di Sorowako ini mencatat pendapatan sebesar USD 360.4 juta. Di periode yang sama tahun lalu perusahaan membukukan pendapatan sebesar USD 292,2 juta. Artinya ada kenaikan 23,3%.

Ini membuat perusahaan mencetak laba sebesar USD 53 juta pada enam bulan pertama tahun ini. Padahal diperiode yang sama tahun lalu perusahaan mencatat rugi USD 26,2 juta.

Untuk diketahui dalam paruh pertama tahun ini harga rata-rata nikel matte sebesar USD 9.815 per ton. Bandingkan dengan harga rata-rata nikel matte di periode yang sama tahun lalu sebesar USD 9.479 per ton.

Artikulli paraprakPetrosea Sabet Posisi 43 Perusahaan Terbaik Versi Forbes Indonesia
Artikulli tjetërKementrian ESDM Mulai Lakukan Uji Coba B40