Ditengah Sejumlah Tantangan, DOID Sukses Tunjukkan Pemulihan Kinerja di Sepanjang 2025
Jakarta,TAMBANG,- Ada sejumlah tantangan yang dihadapi salah satu perusahaan kontraktor pertambangan papan atas Indonesia, PT BUMA Internasional Grup Tbk (IDX: DOID) di sepanjang 2025. Ada gangguan operasional yang belum pernah terjadi sebelumnya dan cuaca buruk serta ramp-down dan penyelesaian kontrak di Indonesia dan Australia.
Kinerja perusahaan tahun lalu juga dipengaruhi biaya-biaya non-operasional (non-underlying charges), termasuk penyisihan piutang usaha dan penurunan nilai aset (asset impairment) di operasional Australia dan Amerika Serikat. Kerugian tersebut sebagian diimbangi oleh keuntungan nilai wajar (fair value gain) sebesar US$41 juta atas investasi Grup di 29Metals.
Meskipun faktor-faktor tersebut membebani kinerja setahun penuh, Grup mencatatkan pemulihan operasional yang konsisten sepanjang tahun 2025. Pemulihan ini didukung oleh perbaikan struktural pada produktivitas dan penurunan biaya per unit.
Grup juga menghasilkan arus kas bebas (free cash flow) positif, di mana 4Q25 mencatat arus kas bebas kuartalan tertinggi sepanjang tahun. Selain itu, Grup memperkuat posisi likuiditasnya berkat dukungan berkelanjutan dari mitra perbankan dan pemegang obligasi sepanjang 2025, dan memasuki 2026 dengan profil jatuh tempo utang yang lebih seimbang.
Kinerja 2025 Dipengaruhi Gangguan di Awal Tahun
Di sepanjang 2025, perusahaan mencatat volume overburden removal turun 19% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi 439 juta bank cubic meters (MBCM). Produksi batu bara juga turun 6% menjadi 84 juta ton (MT). Hal ini mencerminkan gangguan pada kuartal pertama seperti kendala cuaca dan kontribusi yang lebih rendah dari site yang mengalami ramp-down dan yang telah selesai beroperasi.
Kinerja operasi yang turun ini kemudian berpengaruh pada kinerja finansial. Pendapatan perusahaan turun 16% secara YoY menjadi US$1,48 miliar. Ini terutama disebabkan oleh penurunan volume. Sementara Average Selling Price (ASP) kontraktor tambang relatif stabil (-1% YoY), didukung oleh porsi kontrak rise-and-fall yang lebih tinggi.
EBITDA turun menjadi US$175 juta dengan margin 14%, dipengaruhi oleh volume yang lebih rendah, biaya pesangon yang lebih tinggi, serta kenaikan biaya bahan bakar. Jika biaya pesangon tidak diperhitungkan, EBITDA tercatat sebesar US$207 juta dengan margin 17%.
Grup mencatat rugi bersih sebesar US$128 juta, yang dipicu oleh penurunan EBITDA dan penyisihan piutang usaha dari kontrak di Australia yang telah berakhir. Kemudian penurunan nilai aset pada operasional di Australia dan Amerika Serikat. Faktor-faktor tersebut sebagian diimbangi oleh keuntungan nilai wajar sebesar US$41 juta dari investasi Grup di 29Metals.
Keuntungan ini diperoleh seiring pemulihan harga sahamnya sepanjang tahun dan keuntungan selisih kurs sebesar US$36 juta. Hal ini membuat perusahaan berbalik dari kerugian US$19 juta pada tahun 2024 menjadi keuntungan US$17 juta pada tahun 2025. Kemudian adanya pembalikan pencadangan piutang di Australia setelah putusan Mahkamah Agung Queensland yang memenangkan BUMA Australia. Dengan penyelesaian keuangan yang diharapkan terealisasi di 2026.
Grup membukukan arus kas bebas (free cash flow) positif sebesar US$8 juta padahal tahun 2024 membukukan arus kas negatif US$60 juta. Pada kuartal IV 2024 saja , Grup membukukan arus kas bebas sebesar US$57 juta, menjadikannya capaian arus kas bebas kuartalan tertinggi sepanjang tahun.
Belanja modal tetap terjaga secara disiplin sebesar US$179 juta, relatif stabil YoY, dengan alokasi yang seimbang antara kebutuhan pemeliharaan (maintenance) dan pertumbuhan (growth).
Kinerja operasional Grup meningkat secara progresif sepanjang tahun, didukung oleh eksekusi dan disiplin biaya yang lebih kuat. Perbaikan struktural di BUMA Indonesia mendorong peningkatan kuartal-ke-kuartal yang konsisten, di mana overburden removal meningkat dari 76 MBCM pada kuartal I-2025 menjadi 79 MBCM pada pada kuatal IV-2025.
Peningkatan ini ditopang oleh perbaikan yang terarah pada perencanaan, pelaksanaan shift yang lebih disiplin, pelaksanaan maintenance, serta penyelesaian hambatan operasional (bottlenecks).
Dari Januari 2025 hingga Januari 2026, jam kerja alat meningkat 6%, waktu henti (downtime) berkurang 31%, jam non-produktif turun 17%, dan cycle time membaik 3%, yang menghasilkan biaya unit (unit cost) yang lebih rendah, turun dari US$2,22/BCM pada 1Q25 menjadi US$1,83/BCM pada 4Q25.
Di tingkat Grup, perbaikan-perbaikan ini menghasilkan kinerja keuangan yang semakin kuat secara progresif, dengan EBITDA meningkat dari US$14 juta pada kuartal I-2025 menjadi US$48 juta pada kuartal IV-2025. Ini mencerminkan perbaikan bertahap (sequential improvement) yang kuat sepanjang tahun.
“FY2025 merupakan tahun yang menantang bagi Grup. Gangguan yang kami hadapi pada kuartal pertama berdampak signifikan terhadap produksi dan pendapatan. Sekaligus menunjukkan area-area di mana pendekatan kami dapat diperkuat,"ungkap Direktur BUMA International Group Iwan Fuad Salim.
Iwan menjelaskan pihaknya merespons dengan cepat melalui pengetatan disiplin operasional dan penguatan pengendalian biaya dan fundamental pemeliharaan. Manajemen pun mengambil langkah-langkah tegas guna menjaga likuiditas dan memperkuat neraca keuangan.
"Langkah-langkah tersebut mendorong peningkatan produktivitas, biaya, dan arus kas sepanjang tahun, serta memberikan fondasi yang lebih kuat saat kami memasuki 2026.”tandas Iwan.
Likuiditas dan Neraca Keuangan Diperkuat
Selama FY2025, Grup menyelesaikan sejumlah inisiatif pendanaan untuk memperkuat likuiditas dan memperpanjang profil jatuh tempo utangnya. Pada Februari, PT Bank Central Asia Tbk bergabung dengan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dalam fasilitas sindikasi sebesar US$1 miliar, yang memperluas basis pendanaan Grup.
Pada Maret, Grup menerbitkan Sukuk Ijarah sebesar Rp2 triliun (US$121,7 juta), yang merupakan Sukuk Ijarah Korporasi Syariah Berperingkat A+ terbesar dalam Satu Kali Penerbitan di Indonesia, diikuti penerbitan Obligasi III BUMA Tahun 2025 sebesar Rp884 miliar (US$53,8 juta) di Oktober.
Pada November, Grup melunasi lebih awal Senior Notes sebelum jatuh tempo senilai US$212 juta, meningkatkan likuiditas dan fleksibilitas struktur permodalan. Secara keseluruhan, langkah-langkah ini memosisikan Grup dengan profil jatuh tempo utang yang lebih seimbang.
Tahun 2026, Amankan Kontrak dan diversifikasi Berlanjut
Sepanjang FY2025 hingga awal 2026, Grup berhasil mengamankan tiga kontrak signifikan yang mencakup operasional di Indonesia dan Australia. BUMA Australia memperoleh perpanjangan kontrak sekitar A$740 juta di Blackwater Mine hingga Juni 2030. Juga mendapat perpanjangan kontrak di Goonyella Riverside Mine hingga September 2027.
Setelah penutupan tahun buku, BUMA mengamankan kontrak jangka panjang dengan PT Adaro Indonesia di Tambang Tutupan Selatan hingga Desember 2030. Kontrak ini mencakup sekitar 239 MBCM overburden removal dan 44 juta ton produksi batu bara. Hal ini memperpanjang kemitraan yang telah terjalin selama lebih dari 20 tahun.
Di luar jasa pertambangan, Grup terus mendorong strategi diversifikasinya. Grup memegang kepemilikan saham sebesar 22,60% di 29Metals, perusahaan pertambangan tembaga yang tercatat di bursa Australia. Selain menghasilkan tembaga 29Metals juga punya eksposur tambahan terhadap seng, emas, dan perak. Di perusahaan ini. BUMA merupakan pemegang saham terbesar.
Atlantic Carbon Group, Inc., produsen antrasit ultra-high-grade yang 71% sahamnya dimiliki oleh Grup dengan tiga tambang aktif di Pennsylvania. Di tambang ini terus menunjukkan peningkatan stabilitas dan kinerja operasionalnya. Grup juga memegang 44,15% saham di Asiamet Resources Limited. Ini merupakan pemilik BKM Copper Project di Indonesia, aset pengembangan tembaga berkadar tinggi dengan umur tambang lebih dari 10 tahun.
“Kami memasuki tahun 2026 dengan fondasi operasional yang lebih kuat, neraca keuangan yang lebih tangguh, serta basis kontrak yang lebih terjamin. Prioritas kami jelas: mendorong keunggulan operasional, menjaga disiplin biaya dan belanja modal, memperkuat pengelolaan kas, serta mewujudkan pemulihan menjadi kinerja keuangan yang konsisten, sembari terus mengejar pertumbuhan baik secara organik maupun anorganik,” tutup Iwan.