Beranda ENERGI Kelistrikan Dukung Produksi Migas Nasional, PLN Siap Pasok Listrik Ke Blok Rimau Milik...

Dukung Produksi Migas Nasional, PLN Siap Pasok Listrik Ke Blok Rimau Milik Medco E&P

Petugas PLN Area Bulungan Distribusi Jakarta Raya melakukan penyambungan penambahan daya pelanggan 1300 VA menjadi 2200 VA di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA, TAMBANG – PT PLN (Persero) siap memasok listrik untuk mendukung operasional Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi (WK Migas) Rimau yang dioperatori PT Medco E&P. Hal ini merupakan bentuk dukungan PLN dalam pencapaian produksi migas nasional.

Dukungan ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding /MoU) antara PLN dan Medco E&P, yang diwakili General Manager PLN Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu (S2JB), Bambang Dwiyanto dan General Manager Medco South Sumatera Region, Muhammad Zulkifli.

Penandatanganan juga disaksikan oleh Direktur Bisnis Regional Sumatera dan Kalimantan PLN, Adi Lumakso dan Senior Vice President (SVP) Onshore Asset Medco E&P, Imron Gazali. Acara dilaksanakan di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Kamis kemarin.

“Sebuah kebanggaan bagi kami ketika Medco mempercayakan kebutuhan listrik awal untuk pengoperasian 60 titik pompa baru kepada PLN,” ungkap Adi dalam keterangan tertulis, Jumat (28/1).

Adi memastikan kesiapan PLN untuk menjaga keandalan pasokan demi mendukung operasional dan produksi Blok Rimau. Saat ini kapasitas terpasang pembangkit di sistem kelistrikan Sumatera mencapai 8.838 Megawatt (MW) dan beban puncak tertinggi mencapai 6.421 MW dengan cadangan sistem kelistrikan sebesar 2.417 MW.

 Menurut Adi, Cadangan sistem ini akan semakin meningkat seiring dengan masuknya pembangkit-pembangkit baru hingga 2024. Khusus untuk memenuhi permintaan Medco E&P yang menginginkan pasokan listrik dengan keandalan khusus, PLN bakal menyiapkan dua sumber jaringan listrik.

“Kami yakin dapat memenuhi seluruh kebutuhan listrik Medco dengan layanan yang berkualitas,” ungkap Adi.

Adi berharap, sinergi antara PLN dan Medco E&P bisa  segera diperluas untuk seluruh kebutuhan Blok Rimau, sehingga  pompa eksisting yang telah dipetakan bersama dapat dipasok penuh oleh PLN.

Bahkan untuk di wilayah operasional onshore asset Medco E&P lainnya, kata Adi, PLN bisa mempersiapkan pemetaan teknis untuk mendukung pasokan kelistrikan yang berkelanjutan untuk Medco E&P Indonesia.

“Ini tentu awal yang baik. Kami harapkan ke depan sinergi ini dapat lebih luas lagi berkembang di wilayah kerja onshore lainnya seperti di Sumatera Selatan, Aceh, Tarakan, dan Bangkanai,” ucap Adi.

Selain pasokan listrik, untuk memenuhi wacana green energy yang ada di Medco E&P, PLN memiliki layanan ‘Renewable Energy Certificate (REC)’. REC merupakan atribut yang mempresentasikan setiap MWh listrik yang diproduksi berasal dari pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT).

“Kami rasa ini akan menjadi suatu proyek sinergi yang strategis untuk kemajuan bersama,” ungkap Adi.

Sementara itu Senior VP Onshore Asset Medco E&P, Imron Gazali mengapresiasi dukungan PLN dalam penyediaan tenaga listrik untuk kebutuhan operasi wilayah kerja Medco E&P Indonesia, khususnya di Sumatera Selatan. Menurutnya, penandatanganan MoU kali ini akan menjadi langkah awal menuju kerja sama yang lebih luas antara PLN dan Medco E&P.

“Dengan MoU ini, kami berharap bisa berlanjut untuk di daerah operasi kami lainnya,” kata Imron.

Imron menambahkan, pasokan listrik di hulu Migas sangat kritikal. Medco E&P memerlukan listrik yang andal dari kualitas maupun kuantitasnya, serta kompetitif.

“Artinya yang bisa mendukung usaha kami untuk terus melakukan cost efficiency pada biaya operasi,” imbuhnya.

Saat ini, Medco sudah memanfaatkan pasokan listrik dari PLN untuk Wilayah Kerja Sampang, Jawa Timur.  Dari pengalaman tersebut, Medco E&P dapat memotong kompleksitas dari operasional sehingga mampu mendapatkan efisiensi.

Tak hanya itu, Imron juga menyakini penggunaan listrik dari PLN akan mendukung usaha Medco E&P dalam mitigasi emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

“Medco telah menetapkan target Net Zero Carbon untuk Scope 1 dan Scope 2 pada tahun 2050 dan Scope 3 pada 2060,” tegasnya.

Artikulli paraprakEkonom Senior Faisal Basri Sebut Pajak Ekspor dan Bea Batubara Lebih Efektif Dibanding DMO
Artikulli tjetërPemerintah Kenakan Sanksi Baru Bagi Perusahaan Tambang Batubara yang Tak Penuhi DMO