Beranda Batubara Efisiensi Angkat PTBA Sebagai Perusahaan Dengan NPM Tertinggi

Efisiensi Angkat PTBA Sebagai Perusahaan Dengan NPM Tertinggi

Jakarta-TAMBANG.Pertambangan batu bara di sepanjang 2014 mengalami tekanan khusus dari sisi harga. Pergerakan harga dari salah satu sumber energi murah ini mengalami penurunan signifikan. Berdasarkan Harga Acuan yang dikeluarkan pemerintah, harga batu bara di bulan November ada di angka US$65,70 per ton. Padahal awal tahun 2014 masih ada di angka US$81,90 per ton. Banyak pihak menilai bahwa pelemahan ini lebih disebabkan oleh kondisi ekonomi global yang kurang baik ditambah pasokan yang berlebihan. Terkait kondisi yang tidak menguntungkan tersebut, BUMN tambang batu bara,PTBA telah mengambil berbagai langkah strategis. Dan ternyata langkah tersebut membuahkan hasil yang positif bagi kinerja perusahaan. Menyikapi kondisi ini PTBA secara cermat mengambil langkah-langkah strategis dan inovatif sehingga menghasilkan kinerja yang lebih baik untuk periode Januari – Oktober 2014 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, baik itu kinerja operasional maupun kinerja keuangannya,”terang Sekretaris Perusahaan PTBA Joko Pramono. Joko pun menjelaskan beberapa langkah yang sudah dilakukan mulai dari meningkatkan ekspor untuk batubara kolori tinggi, melakukan penjualan dengan 7 Market Brand yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar, melakukan efisiensi di segala lini, cost efectivness, meningkatkan kehandalan peralatan, termasuk dengan mengoptimalkan pemakaian alat-alat tambang yang menggunakan listrik yang dihasilkan dari PLTU milik sendiri sehingga PTBA terhindar dari kenaikan tarif listrik oleh PLN dan pemakaian BBM yang menimbulkan biaya tinggi bagi industri batubara. Langkah-langkah strategis dan inovatif yang diambil Perusahaan pada periode ini telah berhasil menempatkan PTBA secara nasional dengan Net Profit Margin tertinggi sebesar 16 persen di antara seluruh industri sejenis dengan perolehan Laba Bersih sebesar Rp 1,58 triliun, atau 27 persen lebih tinggi dari Laba Bersih tahun sebelumnya pada periode yang sama sebesar Rp 1,24 triliun.   Menurut Joko dalam kondisi seperti sekarang ini inovasi menjadi kunci dalam mempertahankan kinerja perusahaan. Innovasi bisa mencakup beberapa aspek mulai dari sisi efisiensi operasi, penjualan dan bahkan penerapan teknologi serta perubahan budaya perusahaan. Semua hal tersebut jika sukses dilakukan akan sangat terasa manfaatnya. “Sehingga ditengah penurunan harga justru kinerja laba bersih mengalami peningkatan mencapai 27% sd Triwulan III tahun 2014 dengan total volume penjualan yang sama dengan pereode tahun sebelumnya,”terang Joko. Meski sekarang masih cenderung melemah, Joko mengaku masih optimis akan prospek batu bara ke depan. Hal ini tidak lain karena batu bara masih menjadi salah satu sumber energi termasuk untuk listrik. “Batubara ke depannya tetap memiliki prospek cerah karena batubara merupakan sumber energi yang paling murah untuk pembangkitan listrik setelah setelah PLTA,”kata Joko. Ini pun terbukti dari volume pemakaian batubara baik secara nasional maupun internasional menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Artikulli paraprakJadi Bos Pertamina, Dwi Harus Berantas Mafia Migas
Artikulli tjetërPWYP Kritisi Pemilihan Dwi Sebagai Dirut Pertamina