Beranda Home Slide Filipina, Yang Diuntungkan Pelarangan Ekspor Nikel Indonesia

Filipina, Yang Diuntungkan Pelarangan Ekspor Nikel Indonesia

MANILA, TAMBANG. MICHAEL Defensor, Menteri Lingkungan Filipina dari 2004 hingga 2006, kini menjadi pengusaha tambang yang tengah bersemangat. Komoditas yang ia jual adalah nikel. Ia merasa diuntungkan dengan beleid Pemerintah Indonesia yang melarang ekspor mineral mentah, termasuk nikel, sejak Januari 2014. ‘’Kebijakan itu positif bagi kami,’’ katanya.

Pax Libera Mining Inc adalah perusahaan yang dipimpin Defensor. Sebagaimana diberitakan media bisnis Bloomberg dari Manila, akhir pekan lalu, Pax Libera tengah menyiapkan empat tambang baru untuk dibuka tahun depan. Tahun lalu, dua tambang sudah dibuka, dan hingga kini masih beroperasi. ‘’Kami akan mengapalkan sebanyak mungkin. Memanfaatkan kesempatan yang terbuka ini,’’ katanya.

Pelarangan ekspor mineral mentah oleh Pemerintah Indonesia diniatkan untuk meningkatkan nilai tambah produk mineral tambang itu. Kebijakan itu mengerek harga nikel, menyentuh harga tertinggi pada Mei. Setelah itu harga menurun, karena Filipina mengekspor di atas perkiraan.

Pertumbuhan Cina yang melambat membuat harga terkoreksi. Menurut riset Citigroup Inc., harga masih akan terus meningkat karena Filipina tidak bisa menambah volume ekspornya, dan masih terjadi defisit kebutuhan nikel di dunia.

Nikel, yang digunakan sebagai bahan untuk membuat baja tahan karat, di Bursa Logam London diperdagangkan pada US$ 15.550 per metrik ton pada 19 Desember, turun dibanding Mei lalu yang mencapai US$ 21.625. Harga ini masih 12% lebih tinggi, dibanding awal tahun lalu.

‘’Setiap orang ingin memaksimalkan izin yang mereka dapat,’’ kata Ramon Adviento, analis tambang di Maybank ATR Kim Eng Securities, Manila. ‘’Kemungkinan Filipina tidak bisa mengisi kekosongan yang ditinggalkan Indonesia akibat pelarangan ekspor ini,’’ lanjutnya.

Ekspor nikel mentah dari Filipina ke Cina tumbuh 24% dalam 10 bulan pertama 2014, menjadi 31,2 juta ton. Dalam laporannya pada 1 Desember 2014 Citigroup menyatakan, volume ekspor kemungkinan tidak akan bertambah pada 2015, meski ada pembukaan tambang baru. Bahan galian nikel dari Filipina secara alamiah memiliki kandungan logam lebih rendah ketimbang yang dari Indonesia, negara pemasok nikel terbesar di dunia sebelum 2014.

Nikel dunia akan defisit 62.400 ton pada 2015, dari surplus 21.500 ton pada 2014. Tahun depan, menurut Citigroup, harganya akan menjadi rata-rata US$ 21.625 per ton, dan US$ 25.250 pada 2016. Goldman Sachs Group meramal harga nikel pada US$ 17.500 pada 2015, naik menjadi US$ 20.000 pada 2016. Morgan Stanley menempatkan nikel sebagai logam yang paling berpotensi naik pada 2015.

Kelangkaan pasokan itu bertolakbelakang dengan pertambahan cadangan. Pelacakan Bursa Logam London menemukan, jumlah stok naik 55% menjadi 406.722 ton, pada 18 Desember lalu.

Cina merupakan negara pemakai nikel terbesar di dunia. Tetapi ekonominya kini lagi tidak semoncer dekade lalu. Pertumbuhannya melambat, mencapai titik terendah sejak 1990.

Filipina merusak kenaikan harga nikel dengan mengapalkan lebih banyak dari yang dibutuhkan. Dalam laporannya pada 15 Desember, Credit Suisse Group AG menyatakan bahwa pihaknya memangkas prediksi kenaikan harga nikel sebanyak 21% menjadi US$ 17.625 karena banyaknya stok yang ada.

Nickel Asia Corp, produsen nikel terbesar di Filipina, adalah salah satu yang menikmati pelarangan ekspor mineral mentah oleh Pemerintah Indonesia. Penjualan galian nikel tumbuh 38% selama sembilan bulan pertama tahun ini, mendongkrak untung lebih dari empat kalinya. Harga sahamnya di Bursa Filipina naik tiga kali lipat. Indeks gabungan di Bursa Filipina ikut terdorong naik 21%.

Kini, lebih banyak lagi perusahaan yang mencari izin tambang. Kata Leo Jasareno, Direktur Biro Tambang dan Geosains, Manila, kantornya mengeluarkan dua izin lagi tahun ini, termasuk satu untuk TVI Pacific Inc. yang sudah ditunda sekitar 15 tahun.

‘’Kalau pelarangan oleh Indonesia tetap berjalan, kami akan melihat beberapa tambang baru lagi dalam lima tahun ini,’’ kata Jasareno. ‘’Nikel akan menjadi daya tarik utama pertambangan dalam 10 tahun mendatang,’’ lanjutnya.

Tiap empat tambang akan menghasilkan sekitar 2 juta ton bijih, setahun, ini kata Defensor. Proyeknya di Tawi Tawi, Mindahao, akan menghasilkan 3 juta ton, setahun. Tambang ini dapat beroperasi setahun penuh. Berbeda dengan tambang lain, yang harus berhenti beroperasi di kala musim hujan.

‘’Permintaan bijih nikel kini lagi tinggi. Kami akan berusaha menjaga operasi kami tetap efisien, sehingga ketika pelarangan ekspor dicabut, kami tetap bisa beroperasi,’’ kata Defensor.

Foto: Komplek tambang Nickel Asia. Sumber: www.nickelasia.com

Artikulli paraprakKinerja Garda Tujuh Buana Terkendala Cuaca
Artikulli tjetërPerusahaan Leasing Alat Berat Tawarkan Saham Perdana