Gandeng PLN dan PT Pupuk Indonesia, Pertamina Kembangkan Green Hydrogen Untuk Wujudkan Klaster Industri Hijau

Gandeng PLN dan PT Pupuk Indonesia, Pertamina Kembangkan Green Hydrogen Untuk Wujudkan Klaster Industri Hijau

JAKARTA, TAMBANG – PT Pertamina Persero bekerja sama dengan PT PLN Persero dan PT Pupuk Indonesia Persero untuk mengembangkan green hydrogen dan green ammonia. Hal ini dilakukan demi menciptakan nuansa industri yang lebih hijau dan ramah lingkungan. Sinergi antar perusahaan BUMN ini sudah disahkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU)  pada Rabu, 23 Februari 2022.

VP Corporate Communication PT Pertamina, Fajriyah Usman mengatakan bahwa para pelaku bisnis harus menjadi katalisator pemulihan energi hijau dan berjalan seiringan dengan prinsip energy security, energy accessibility, and energy affordability. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo dalam KTT G20 di Italia akhir tahun lalu.

“Pertamina mengidentifikasi ada 6 global trends yang akan berpengaruh pada bisnis energi, yaitu Decarbonization, Electrification, Decentralization, Digitalization, Integration, dan Customerization. Untuk mengantisipasinya, terdapat 4 inisiatif yang sedang dikembangkan oleh Pertamina Group minimal untuk menjawab tantangan akan trend Decarbonization, Electrification, Decentralization, dan Integration,”ujar Fajriyah dalam keterangannya, Jumat (25/2).

Pertama, pengembangan EV Ecosystem, Kerja sama Pengisian Daya dan atau Penyediaan Infrastruktur Penggantian Baterai Kendaraan Listrik antara Pertamina dengan Gojek melalui penyediaan Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU), yang telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada Selasa, 22 Februari 2022.

Kedua, pengembangan Green hydrogen pilot project yang dijalankan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) pada Wilayah Kerja Ulubelu, Provinsi Lampung. 

Ketiga, pengembangan Blue hydrogen dari proses elektrolisis dengan sumber energi listrik hijau yang bersertifikat di Kilang Plaju dan Cilacap milik PT Kilang Pertamina Internasional (KPI). 

Keempat, Pertamina juga tengah melakukan kajian untuk low carbon hydrogen dan turunannya sebagai alternative fuels di industri maritim dengan pendanaan dari Asian Development Bank (ADB).

“Pengembangan energi hijau sejalan dengan komitmen Pertamina dalam mengimplementasikan ESG (Environmental, Social & Governance) secara terintegrasi di seluruh lini bisnis perusahaan untuk mendorong keberlanjutan bisnis di masa depan,” imbuh Fajriyah. 

Fajriyah menambahkan, komitmen penuh Pertamina dalam penerapan aspek ESG telah mendorong peningkatan rating ESG Pertamina secara global. Pertamina telah menerima ESG Risk Rating oleh Sustainalytics sebesar 28,1 dan dinilai berada pada risiko Medium dalam mengalami dampak keuangan material dari faktor-faktor ESG. Risk Rating ini mengalami perbaikan signifikan dari sebelumnya mencapai 41,6 (Severe Risk) pada Februari 2021. 

Dengan skor ini, Pertamina menempati posisi 15 dari 252 perusahaan di industri Oil & Gas dan posisi 8 di sub industri integrated Oil & Gas. Pertamina berada di cluster yang sama (Medium Risk) dengan perusahaan global seperti Repsol, ENI, PTT Thailand dan TotalEnergies. Posisi ini pun tercatat lebih baik dari BP, Exxon dan Chevron.

Sejalan dengan penerapan ESG, Pertamina melalui PNRE telah mengembangkan pembangkit low carbon sebesar 2,5 GW dan strategic technical partners memiliki kapabilitas yang dapat dikontribusikan untuk mewujudkan Klaster Industri Hijau. 

“Pengembangan Klaster Industri Hijau di Indonesia akan menjadi milestone penting untuk membentuk ekosistem industri hijau yang lebih luas lagi di Indonesia. Hal ini juga sebagai komitmen Pertamina dalam meningkatkan ESG Rating secara global serta akselerasi transisi energi secara nasional,” tutup Fajriyah.

Sebagaimana diketahui, Pertamina terus berkomitmen dan berkontribusi mendukung program Pemerintah untuk mempercepat transisi energi, serta mendukung target nasional berupa penurunan emisi sebesar 29% pada tahun 2030. Dalam kerangka ini, Pertamina juga terus berkomitmen menjalankan ESG di seluruh lini bisnisnya.

Artikel Terkait

Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Jakarta, TAMBANG – Industri pertambangan batu bara di Kalimantan Tengah (Kalteng) tengah menghadapi gangguan akibat kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut berdampak terhadap pengangkutan batu bara melalui Sungai Barito, sekaligus mengancam pemenuhan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO). Ketua Forum Kepala Teknik Tambang (FKTT) Kalteng, Handry Mardam, mengatakan Sungai

By Rian Wahyuddin
Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Jakarta, TAMBANG – Pasokan batu bara untuk industri semen mengalami kendala akibat gangguan pengiriman di sejumlah wilayah. Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM tengah mencari sumber pasokan alternatif untuk mengatasi kondisi tersebut. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan pihaknya menerima laporan terkait berkurangnya pasokan

By Rian Wahyuddin
Tekan Ketergantungan pada Impor, Pertamina Lubricants Luncurkan Katalis FCC/RFCC untuk Efisiensi Kilang

Tekan Ketergantungan pada Impor, Pertamina Lubricants Luncurkan Katalis FCC/RFCC untuk Efisiensi Kilang

Jakarta,TAMBANG,- Demi mengurangi ketergantungan impor dan mewujudkan kemandirian teknologi energi nasional,  PT Pertamina Lubricants (PTPL) bersama PT Pertamina (Persero) meluncurkan katalis. Produk ini merupakan hasil pengembangan kolaborasi antar riset Pertamina Group, yakni Fluid Catalytic Cracking (FCC), Residue Catalytic Cracking (RCC), dan Residue Fluid Catalytic Cracking (RFCC).  Dijelaskan pula bahwa

By Egenius Soda