Beranda Tambang Today Umum Harga Energi Menguat, Alokasi Anggaran Negara Untuk Energi Fosil Meningkat

Harga Energi Menguat, Alokasi Anggaran Negara Untuk Energi Fosil Meningkat

Jakarta,TAMBANG,- Banyak negara ditengah harga energi yang melambung akhirnya berlaku realistis dengan tetap mempertahankan pemanfaatan energi fosil. Ini terlihat dari data yang menunjukkan adanya peningkatan dukungan untuk produksi dan konsumsi batu bara, minyak dan gas alam. Negara-negara maju berusaha untuk berlaku seimbang antara upaya menghapus subsidi bahan bakar fosil yang tidak efisien dengan upaya untuk melindungi rumah tangga dari lonjakan harga energi. Inilah hasil analisis dari Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) dan Badan Energi Internasional (IEA).

Data OECD dan IEA yang baru menunjukkan bahwa dukungan pemerintah secara keseluruhan untuk bahan bakar fosil di 51 negara di seluruh dunia hampir dua kali lipat menjadi USD697,2 miliar pada tahun 2021 dibanding tahun 2020 sebesar USD362,4 miliar . Ini karena harga energi yang melambung ditengah pulihnya ekonomi global. Selain itu, subsidi konsumsi diperkirakan akan meningkat lebih jauh pada tahun 2022 karena kenaikan harga bahan bakar dan konsumsi energi.

“Perang agresi Rusia terhadap Ukraina telah menyebabkan harga energi naik tajam dan merusak keamanan energi. Peningkatan signifikan dalam subsidi bahan bakar fosil mendorong konsumsi yang boros, meskipun tidak semua menjangkau rumah tangga berpenghasilan rendah, ”ungkap Sekretaris Jenderal OECD Mathias Cormann.

Mathias pun menambahkan, “Kita perlu mengadopsi langkah-langkah yang melindungi konsumen dari dampak ekstrem atas pergeseran pasar dan kekuatan geopolitik dengan cara yang membantu kita tetap di jalur netralitas karbon serta keamanan dan keterjangkauan energi.”

Sementara Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan subsidi bahan bakar fosil merupakan penghalang jalan menuju masa depan yang lebih berkelanjutan, tetapi kesulitan yang dihadapi pemerintah dalam menghapusnya ditegaskan pada saat harga bahan bakar yang tinggi dan bergejolak. “Lonjakan investasi dalam teknologi dan infrastruktur energi bersih adalah satu-satunya solusi yang bertahan lama untuk krisis energi global saat ini dan cara terbaik untuk mengurangi paparan konsumen terhadap biaya bahan bakar yang tinggi.”terang Fatih Birol .

Analisis OECD tentang alokasi anggaran dan keringanan pajak terkait dengan produksi dan penggunaan batu bara, minyak, gas, dan produk minyak lainnya di negara-negara G20 naik menjadi USD 190 miliar pada 2021 dari USD147 miliar pada 2020. Dukungan untuk produsen yang sebelumnya tidak terlihat mencapai sebesar USD 64 miliar pada tahun 2021 – naik hampir 50% secara tahun-ke-tahun, dan 17% di atas tingkat 2019. Subsidi tersebut sebagian telah mengimbangi kerugian produsen dari kontrol harga domestik karena harga energi global melonjak pada akhir 2021. Perkiraan dukungan konsumen mencapai USD115 miliar atau naik dari USD93 miliar pada 2020.

Analisis IEA menghasilkan perkiraan subsidi bahan bakar fosil dengan membandingkan harga di pasar internasional dan harga yang dibayar oleh konsumen domestik yang dibuat rendah secara artifisial menggunakan langkah-langkah seperti regulasi harga langsung, formula harga, kontrol perbatasan atau pajak, dan mandat pembelian atau pasokan domestik. Pada 42 negara, IEA menemukan bahwa dukungan konsumen meningkat menjadi USD 531 miliar pada tahun 2021. Ini lebih dari tiga kali lipat tingkat 2020, didorong oleh lonjakan harga energi.

OECD dan IEA secara konsisten menyerukan penghentian secara bertahap dukungan bahan bakar fosil yang tidak efisien dan mengarahkan kembali pendanaan publik menuju pengembangan alternatif rendah karbon di samping peningkatan ketahanan energi dan efisiensi energi. Subsidi yang dimaksudkan untuk mendukung rumah tangga berpenghasilan rendah seringkali cenderung menguntungkan rumah tangga kaya yang menggunakan lebih banyak bahan bakar dan energi dan oleh karena itu harus diganti dengan bentuk dukungan yang lebih tepat sasaran.

Artikulli paraprakDirilis Juli 2022, Berikut Kajian IEA Terkait Pasar Batu bara
Artikulli tjetërDari Program Efisiensi, Hingga Juli Pertamina Mampu Hemat Rp 6 Triliun