Beranda Komoditi Harga Minyak Merosot Hingga US$ 50

Harga Minyak Merosot Hingga US$ 50

Ilustrasi ladang minyak. Sumber foto: www.icofc.ir

Jakarta-TAMBANG. Pekan ini, harga minyak kembali merosot dan menyentuh level US$50 per barel untuk pertama kalinya sejak April 2009.  Penurunan ini seiring nilai dolar Amerika Serikat (AS)  yang menguat juga banjirnya pasokan minyak.

 

Harga minyak acuan West Texas Intermediate untuk pengiriman Februari turun lima persen dari US$ 2,65  menjadi US$ 50,04 per barel. Kontrak minyak ini sempat sentuh ke level US$ 49,95 per barel sejak awal perdagangan di New York Mercantile Exchange. Dan pada pukul 15.15 waktu Singapura, harga kontrak yang sama berada di posisi US$ 49,58 per barel.

 

Sementara itu, harga minyak Brent untuk pengiriman Februari turun US$ 3,31 menjadi US$ 53,11 per barel di London. Harga minyak tertekan di awal pekan ini dipicu kenaikan produksi minyak dari Rusia dan Irak yang berencana untuk meningkatkan ekspor minyak mentahnya bulan ini. Angka itu merupakan penutupan terendah sejak 1 Mei 2009. Volume untuk semua berjangka yang diperdagangkan adalah 40% di atas rata-rata 100-hari.

 

“Pasar terus berada pada harga fundamental yang lemah pada semester pertama tahun ini. Tapi kita akan kembali melihat adanya tekanan dari Yunani, sesuatu yang kita belum lihat dalam beberapa waktu terakhir,” jelas kepala riset minyak Societe Generale SA, Mike Wittner, seperti dilansir dari Bloomberg, Selasa (6/1).

 

Ia menerangkan, harga minyak Brent merosot hingga 48%  pada tahun lalu, dan angka itu terbesar sejak krisis keuangan 2008, karena Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) menolak memangkas produksi di tengah pertempuran harga dengan Amerika.

 

Merosotnya harga minyak hingga US$ 50 merupakan level harga penting, dan dapat mendorong pasar keuangan global. Bursa saham AS saja turun hampir 2%, dan bursa saham Eropa tertekan karena euro melemah ke level terendah dalam sembilan tahun.

 

Dengan menguatnya dolar hingga 11% pada tahun lalu terhadap mata uang utama juga menekan pasar minyak. Analis Tradition Energy, Gene McGillian mengatakan, harga minyak mencoba stabil selama dua minggu, tetapi fundamental melemah. Bahkan Analis Forex.com, Fawad Razaqzada menuturkan, harga minyak turun dapat memicu aksi jual sehingga harga minyak dapat sentuh di bawah level US$ 40.

 

Harga minyak semakin tertekan ini didorong dari produksi minyak AS meningkat sehingga mengejutkan pasar minyak global. Hal utu membawa AS bersaing dengan Rusia dan Arab Saudi. Di sisi lain, negara produsen minyak lainnya pun terus makin agresif. Sedangkan pertumbuhan ekonomi di Eropa, dan negara berkembang lainnya tidak pasti sehingga mempengaruhi permintaan minyak.

Artikulli paraprakESDM Optimis Capai Target PNBP Minerba 2015
Artikulli tjetërESDM: Belum Ada Pembicaraan Soal Bea Keluar Batu Bara