HUT Ke-6, APNI Dorong Percepatan Integrasi Ekonomi Dalam Negeri

HUT Ke-6, APNI Dorong Percepatan Integrasi Ekonomi Dalam Negeri
Jakarta, TAMBANG – Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) turut berkontribusi terhadap perkembangan ekonomi domestik, terutama di sektor pertambangan nikel. Di usianya yang ke-6 tahun, APNI berkomitmen untuk mendorong percepatan integrasi ekonomi Indonesia di ASEAN. “Peran dan sumbangsih APNI untuk Negara sebagai mitra pemerintah, APNI tidak hanya memperjuangkan aspirasi para penambang nikel di sektor hulu, namun mendukung program pembangunan sektor pertambangan, khususnya komoditas nikel di Indonesia,” kata Ketua Umum APNI, Nanan Soekarna, dilansir dari laman resmi, Senin (6/3). Di perayaan kali ini, APNI menggelar APNI Friendly Gathering – Improving Nickel Upstream to Downstream Industry to Support Indonesia ASEAN Chairmanship 2023 & Indonesia Gold 2045. Pagelaran ini menurut Nanan bertujuan untuk membuka jejaring dan peluang bisnis secara maju dan berkelanjutan terutama dalam hilirisasi produk mineral nikel. Sekretaris Umum APNI, Meidy Katrin Lengkey menyampaikan bahwa APNI berada di garda terdepan dalam memanfaatkan sumber daya nikel terutama untuk kebutuhan bahan baku baterai. Dengan diserapnya nikel menjadi baterai kendaraan listrik, maka pendapatan negara akan semakin tinggi. “Nikel merupakan komoditas yang dibutuhkan bahan baku EV battery. Dan Indonesia merupakan negara pemilik sumberdaya, cadangan, bahkan produsen nikel terbesar dunia. Maka, nikel Indonesia menjadi incaran dunia internasional,” kata Meidy. Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Majalah TAMBANG, Atep A Rofiq turut mengapresiasi capaian APNI selama ini. Kata dia, APNI salah satu mitra pemerintah yang selalu memperjuangkan hak-hak penambang nikel demi kemajuan dan kesejahteraan bersama. “Saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuk APNI yang ke 6. APNI merupakan mitra pemerintah yang senantiasa memperjuangkan kepentingan bersama demi kemajuan ekonomi kita,” ungkap Atep. Dengan adanya kegiatan tersebut, Atep berharap pertambangan nikel di Indonesia akan semakin dilirik dunia, baik untuk kebutuhan bahan baku baterai electric vehicle (EV), baja tahan karat, maupun untuk kebutuhan lainnya. “Nikel ini sedang menjadi komoditas tambang primadona terutama untuk EV ya. Negara kita salah satu penyimpan nikel terbesar di dunia, karena itu dibutuhkan upaya bersama untuk mengoptimalkan kekayaan alam ini,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Jakarta, TAMBANG – Industri pertambangan batu bara di Kalimantan Tengah (Kalteng) tengah menghadapi gangguan akibat kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut berdampak terhadap pengangkutan batu bara melalui Sungai Barito, sekaligus mengancam pemenuhan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO). Ketua Forum Kepala Teknik Tambang (FKTT) Kalteng, Handry Mardam, mengatakan Sungai

By Rian Wahyuddin
Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Jakarta, TAMBANG – Pasokan batu bara untuk industri semen mengalami kendala akibat gangguan pengiriman di sejumlah wilayah. Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM tengah mencari sumber pasokan alternatif untuk mengatasi kondisi tersebut. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan pihaknya menerima laporan terkait berkurangnya pasokan

By Rian Wahyuddin
Tekan Ketergantungan pada Impor, Pertamina Lubricants Luncurkan Katalis FCC/RFCC untuk Efisiensi Kilang

Tekan Ketergantungan pada Impor, Pertamina Lubricants Luncurkan Katalis FCC/RFCC untuk Efisiensi Kilang

Jakarta,TAMBANG,- Demi mengurangi ketergantungan impor dan mewujudkan kemandirian teknologi energi nasional,  PT Pertamina Lubricants (PTPL) bersama PT Pertamina (Persero) meluncurkan katalis. Produk ini merupakan hasil pengembangan kolaborasi antar riset Pertamina Group, yakni Fluid Catalytic Cracking (FCC), Residue Catalytic Cracking (RCC), dan Residue Fluid Catalytic Cracking (RFCC).  Dijelaskan pula bahwa

By Egenius Soda