Beranda Home Slide Impor Nikel oleh Cina dari Indonesia Bertambah

Impor Nikel oleh Cina dari Indonesia Bertambah

Nickel pig iron. Impor nickel pig iron oleh Cina dari Indonesia terus bertambah.

TAMBANG, BEIJING. ANGKA impor nikel olahan oleh Cina mencapai rekor baru pada April ini, menjadi 49.012 ton. Secara kumulatif, selama empat bulan ini Cina mengimpor 157.600 ton, atau naik 115.000 ton dibanding empat bulan pertama tahun lalu. Impor feronikel juga meningkat pesat, menjadi 294.700 ton.

 

Meningkatnya impor nikel olahan itu disebabkan membengkaknya impor olahan dari Rusia. Norilsk Nickel, perusahaan yang produsen terbesar nikel, dikenal sebagai pemasok besar nikel bagi Cina. Nikel olahan dari Rusia yang masuk ke Cina terus bertambah porsinya, dari 45% pada 2012, naik menjadi 72% pada 2013, dan pada April ini menjadi 80%.

 

Naiknya impor nikel olahan dari Cina berawal dari keputusan Bursa Komoditi Shanghai untuk menambah ekspor ke Cina. Keputusan itu membuat otoritas Rusia memindahkan sistem pencadangan nikelnya dari London ke Cina.

 

Nikel olahan dari Cina biasanya hanya mencakup semua stok di Bursa Logam London. Tetapi, kini mencakup 40% dari total yang beredar di Bursa Logam London.

 

Transaksi nikel di Bursa Kommoditi Shanghai, di saat yang sama, telah berkembang pesaat dari 3.100 ton tahun lalu menjadi 91.715 ton, tahun ini. Kalau impor dari Rusia menyentuh 120.000 ton setahun, diduga angkanya akan terus bertambah, tapi tidak sepesat sebelumnya.

 

Impor feronikel oleh Cina tahun ini juga akan meningkat pesat. Pemasok utamanya adalah Indonesia, yang ekspornya mencapai 196.400 ton, atau 67% dari total impor. Kiriman dari Indonesia sebetulnya lebih pas disebut sebagai nickel pig iron, bukan feronikel. Pabrik nickel pig iron itu dioperasikan oleh Tsingshan, perusahaan nikel terkemuka dari Cina.

 

Pabrik milik Tsingshan saat ini menyelesaikan pabrik unit II, berkapasitas 90.000 ton setahun.

 

Perkembangan lain adalah menurunnya ekspor bijih mentah nikel. Sejak Indonesia melarang ekspor bijih nikel, pada Januari 2014, praktis tak ada lagi ekspor mineral mentah dari Indonesia.

 

Kekosongan yang ditinggalkan Indonesia diisi Filipina. Tapi, impor oleh Cina tahun ini merosot drastis, menjadi 4,16 juta ton, dari 6,65 juta ton pada 2015. Diduga berkurangnya ekspor Filipina disebabkan musim hujan yang tak menentu.