Indonesia Coal Mining Forum 2026 Bahas Update RKAB, Ekspor Satu Pintu hingga Implementasi B50

Sejumlah isu strategis industri batu bara, mulai dari normalisasi RKAB, kebijakan ekspor satu pintu, hingga implementasi mandatori B50, menjadi pembahasan dalam Indonesia Coal Mining Forum (ICMF) 2026 yang digelar Majalah TAMBANG di Deheng House, Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Indonesia Coal Mining Forum 2026 Bahas Update RKAB, Ekspor Satu Pintu hingga Implementasi B50
Dirjen Mineral dan Batubara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Tri Winarno (kiri) menerima cendera mata dari Pimpinan Majalah TAMBANG, Atep A Rofiq (kanan) sebagai keynote speech dalam Indonesia Coal Mining Forum 2026 bertema Indonesia's Coal Industry: Balancing Energy Security, Business Certainty, and Competitiveness yang diselenggarakan oleh Majalah TAMBANG dan Hype Solusi Indonesia di Deheng House, Kemang, Jakarta, Rabu (15/7). Dokumentasi: TAMBANG.

Jakarta, TAMBANG – Berbagai isu strategis industri batu bara, mulai dari normalisasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), kebijakan ekspor satu pintu, hingga implementasi mandatori biodiesel B50 menjadi fokus pembahasan dalam Indonesia Coal Mining Forum (ICMF) 2026 yang digelar Majalah TAMBANG di Deheng House, Jakarta, Rabu, 15 Juli 2026.

Pimpinan Majalah TAMBANG, Atep A Rofiq, mengatakan forum tersebut menjadi ruang komunikasi antara regulator, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya untuk membahas berbagai tantangan yang dihadapi industri batu bara nasional.

"Kami ingin membahas berbagai persoalan yang berkaitan dengan sektor batu bara, mulai dari RKAB yang kini mulai kembali normal, hilirisasi, ekspor satu pintu, hingga B50. Banyak isu strategis yang perlu kita angkat dan komunikasikan bersama," ujar Atep saat membuka forum bertema Indonesia's Coal Industry: Balancing Energy Security, Business Certainty, and Competitiveness.

Menurutnya, Majalah TAMBANG berupaya menjalankan peran sebagai bridging solution atau jembatan komunikasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.

"Persoalan di sektor pertambangan tidak mungkin diselesaikan hanya oleh pemerintah. Dibutuhkan dukungan seluruh pihak. Dalam negara demokrasi, masukan maupun kritik terhadap kebijakan merupakan hal yang wajar, sementara pelaku usaha juga membutuhkan kepastian agar kegiatan bisnis dapat berjalan berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi negeri," katanya.

Dokumentasi: TAMBANG.

Sementara itu, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, menegaskan bahwa industri batu bara saat ini menghadapi tuntutan untuk menjaga keseimbangan antara ketahanan energi nasional, kepastian berusaha, dan daya saing industri.

"Saya rasa tema pada kesempatan kali ini menegaskan kembali bahwa industri batu bara saat ini dituntut mampu menyeimbangkan tiga aspek utama, yaitu menjaga ketahanan energi nasional, memberikan kepastian dan keberlanjutan bisnis melalui iklim usaha yang kondusif, serta mempertahankan daya saing industri batu bara nasional," ujar Tri.

Menurutnya, tanpa keseimbangan ketiga aspek tersebut, optimalisasi pengelolaan komoditas batu bara, stabilitas pemenuhan kebutuhan energi primer domestik, maupun keberlangsungan usaha pertambangan nasional akan menghadapi tantangan yang semakin besar.

Dokumentasi: TAMBANG.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara Ditjen Minerba, Asep Kurnia Permana, memaparkan kondisi sumber daya batu bara Indonesia yang masih sangat besar dan perlu dikelola secara strategis.

Ia menyebut Indonesia memiliki sekitar 97 miliar ton sumber daya batu bara dan sekitar 33 miliar ton cadangan. Namun, hampir 70 persen sumber daya tersebut merupakan batu bara berkalori rendah.

"Data sumber daya dan cadangan ini harus menjadi acuan bagi kita bersama dalam merumuskan strategi pengelolaan batu bara ke depan, baik dari sisi eksplorasi maupun pemanfaatannya untuk mendukung pembangunan industri nasional," kata Asep.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara Ditjen Minerba, Asep Kurnia Permana menyampaikan materi diskusi. Dokumrntasi: TAMBANG.

Menurutnya, dominasi batu bara berkalori rendah menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah melalui pengembangan teknologi dan strategi pemanfaatan yang lebih optimal.

"Kita harus menyiapkan strategi agar batu bara berkalori rendah tersebut memiliki daya saing melalui pengembangan teknologi, peningkatan nilai tambah, dan eksplorasi yang lebih terarah. Sementara sisanya merupakan batu bara berkalori menengah hingga tinggi yang juga perlu dikelola secara optimal," tutupnya.

Turut hadir sebagai pembicara dalam diskusi tersebut, Ketua Indonesia Mining and Energy Forum (IMEF), Singgih Widagdo, Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral dan Batubara Indonesia (ASPEBINDO), Anggawira, dan Presiden Direktur PT Coalindo Energy, Jimmy Gunarso. Diskusi dimoderatori Hendra Sinadia, Ketua Komite Pertambangan Minerba, Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO).

Dokumentasi: TAMBANG.

Artikel Terkait