Beranda Home Slide Investasi Tambang: Waspadai Myanmar

Investasi Tambang: Waspadai Myanmar

DENGAN kekayaan mineral berlimpah, dari batu akik, tembaga, hingga batu bara, Myanmar akan menjadi kekuatan baru di bidang pertambangan. Di masa lalu, tatkala Myanmar dipimpin oleh diktator militer, investor tambang ogah meliriknya. Selama 49 tahun Myanmar dikuasai militer. Baru pada 2011 pemerintahan sipil yang dinilai reformis, tampil.

 

Meski demikian, situasi belum sepenuhnya bersahabat. Peraturan pertambangan, dan situasi keamanan belum sepenuhny pro-pasar. Dari 69 perusahaan asing pertambangan terdaftar, baru 11 yang beroperasi.

 

Salah satu yang sudah beroperasi adalah Asia Pacific Mining, yang mendapat izin untuk mengeksplorasi wilayah bergolak, Shan, seluas 650 kilometer persegi. Asia Pacific Mining berharap dapat menemukan timbal, seng, dan perak. Eksplorasinya dimulai sejak Desember lalu.

 

Senin 5 Januari lalu, Asia Pacific mengumumkan, eksplorasinya pada bulan pertama telah menemukan perak, timbal, dan seng yang diperkirakan dalam jumlah cukup besar. Pemboran akan dimulai April mendatang.

 

CEO Asia Pacific, Andrew Mooney mengatakan, konsesi miliknya merupakan sumber terbesar mineral timbal dan seng sejak 1930. Sebagaimana dikutip South China Morning Post, kemarin, Mooney mengatakan, meski prospeknya bagus, tetapi perusahaan besar tidak akan segera bergerak cepat, mengingat mereka masih menimbang-nimbang risikonya.

 

‘’Myanmar telah menghilang dari radar investasi sejak 1960,’’ katanya. ‘’Di Asia Tenggara, yang paling menarik adalah Indonesia. Myanmar punya peluang untuk mengambil alih posisi itu,’’ kata Mooney.

 

Harga komoditi yang terus ke bawah juga menjadi masalah. Harga perak terus-menerus turun. Sejak 2011, bahkan anjloknya sudah mencapai dua per tiganya. Sedang seng turun hampir 20% sejak itu.

 

Pemerintah Myanmar tidak memiliki berapa potensi cadangan mineral di daerahnya dengan teliti. Pemerintahan militer yang berkuasa puluhan tahun plus sanksi internasional membuat banyak perusahaan yang emoh melakukan eksplorasi.

 

Sejak 1989, investasi asing di Cina mencapai US$ 2,86 miliar. Atau, setiap tahun rata-rata hanya US$114 juta. Dibanding dengan Indonesia, yang ekspor dari batu baranya saja mencapai US$ 25 miliar lebih setahun, investasi tambang di Myanmar masih kalah jauh.

 

Tetapi Myanmar siap menyalip siapapun, tatkala iklim investasi sudah seperti tetangganya. Sebuah kekuatan yang pantas diwaspadai.

 

Foto: Sekelompok warga memrotes tambang tembaga yang dioperasikan perusahaan dari Cina.

Sumber foto: South China Morning Post.