Beranda Sosok Jalur Kompleks Anak Santri

Jalur Kompleks Anak Santri

Edi Permadi

Direktur J-Resources Asia Pacific Tbk

 

SEBAGAI anak Betawi yang lahir dan dibesarkan di Jakarta, Edi Permadi memahami bahwa persoalan Ciliwung merupakan persoalan lama yang tidak gampang diselesaikan.Butuh waktu panjang dan penuh tantangan.Ia pun ingin ikut membenahinya.

Ada lagi keinginan lainnya: belajar memandikan mayat. ”Sederhana saja. Kalau ada yang meninggal, saya yangmemandikan,” kata Edi, 37 tahun, Direktur J-Resources Asia Pacific Tbk (J Resources), ketika ditanya apa yang akan dilakukannya saat pensiun.

J Resources sebagai perusahaan nasional, berusaha taat dan patuh pada regulasi yang ditetapkan. Inilah yang membuat J Resources dan anak usahanya tetap tersenyum di saat perusahaan pertambangan lain di Indonesia galau terkait kebijakan pelarangan ekspor konsentrat mineral.

Perusahaan pemilik tambang emas di beberapa lokasi di Indonesia, juga di Malaysia, ini sudah memiliki pabrik pengolahan dan pemurnian. Selain itu, harmonisasi dan bertumbuh bersama masyarakat sekitar tambang menjadi nilai yang dipegang teguh oleh perusahaan milik pengusaha tambang Jimmy Budiarto itu.Nilai penting lainnya adalah memahami para karyawan.

“CEO yang baik adalah yang memahami orang, bukan yang memahmi teknis,” demikian ucap Edi, yang banyak menimba pengalaman pertambangan di Internasional Nickel Indonesia (Inco) Tbk. Kini Inco menjadi Vale Indonesia, Tbk.

Kepada majalah TAMBANG, alumnus Teknik Elektro Universitas Indonesia (UI) angkatan 1994 ini berbagi cerita terkait pengembangan tambang J- Resources dan hal lainnya. Berikut petikan wawancaranya:

 

Bisa diceritakan kemajuan J Resources?

Tahun 2014 ini, kami mencanangkan sebagai tahun produksi.Pada Januari lalu, telah dilaksanakan ujicoba produksi emas pertama di lokasi Seruyung oleh Sago Prima Pratama (SPP), anak usaha J Resources.Dalam waktu dekat, tambang di Bakan yang dikelola J Resources Bolaang Mongondow sudah siap produksi dengan kapasitas penuh.

Dengan tambahan dari Seruyung dan Lanut, berarti ada empat tambang milik J Resources yang akan produksi. Sebelumnya hanya tambang di Lanut, Sulawesi Utara, dan tambang emas di Penjom, Kuala Lipis, Malaysia.Dengan tambahan dari dua lokasi tersebut, J Resources mencanangkan produksi emas mencapai 210.000ounces. Tambang di Penjom, akan ditingkatkan hingga berkapasitas 71.000ounces dan Lanut digenjot hingga 30.000 ounces. Untuk Bakan dan Seruyung, ditargetkan 50.000 ounces dan 51.000 ounces.

Setelah empat proyek tersebut, berikutnya adalah di Pani, Sulawesi Utara, yang merupakan kontrak karya milik anak usaha J Resources, Gorontalo Sejahtera Mining (GSM). Akhir bulan lalu sudah menyelesaikan studi kelayakan, setelah itu menyelesaikan proses analisis dampak lingkungan, dan izin pinjam pakai. Kami berharap, pada 2016 sudah selesai dan mulai produksi.

(Pada 24 Desember 2013 lalu ditandatangani kerjasama antara KUD Dharma Tani Marisa di Gunung Pani, Kabupaten Pahuwato, Sulawesi Utara, dan PT Puncak Emas Gorontalo, anak usaha Gorontalo Sejahtera Mining, terkait pengelolaan tambang emas Pani. Dari lahan milik Gorontalo Sejahtera seluas 7.385 hektare, terdapat 100 hektare milik KUD. Penandatangnan dilakukan Edi Permadi, Direktur Puncak Emas Gorontalo, dan Abdul Kadir Akib, Ketua KUD Dharma Tani Merisa.)

 

Apa latar belakang pendidikan Anda?

Saya sarjana elektro UI angkatan 1994.Saya dibesarkan oleh iklim kerja di INCO dulu (kini Vale Indonesia-red).Saat saya di Inco, ada mekanisme pengembangan yang luar biasa.Saya bisa begini karena program yang dikembangkan Inco.Banyak yang dikembangkan secara sistematis sehingga karyawan bisa berkembang dengan baik.

Saya bekerja sebentar sebagai insinyur elektro, kemudian pindah ke perusahaan teknologi informasi di IBM, setelah itu masuk ke Inco di bagian pengembangan kelompok untuk divisi sumberdaya manusia.Saya kemudian dipindahkan –meski awalnya tidak terlalu berminat– ke pengolahan tambang, dan terakhir di relasi internal.Jadi, area kerja yang saya jalani bermacam-macam, program yang diberikan pun sangat penting.Saya kemudian dikursuskan di Royal Melburne Institute of Technology, Australia, juga di beberapa universitas lainnya di luar negeri.

 

Anda termasuk orang yang taat beribadah ya?

Salah satu kekuatan manusia adalah mendekatkan diri dengan Tuhan.Hal yang paling dominan adalah bagaimana merajut komunikasi dengan Tuhan, juga komunikasi dengan manusia.Saya dibesarkan di golongan Betawi kolot, yang mewajibkanmenyantri di pesantren.Saya harus mengaji selepas sekolah.Ini yang menjadi dasar saya.

Kemudian, teman baik saya itu orang Cina, Aseng namanya.Saya belajar dari dia untuk urusan bisnis.Karena saya memahami bahwa saya tidak sepintar dia dalam berbisnis. Di lingkup kerja juga demikian, saya banyak belajar dari anggota tim saya yang memang memiliki kelebihan, baik di komersil dan teknis.

 

Kapan meluangkan waktu untuk keluarga?

Nah, saya akui agak lemah di hal tersebut.Banyak waktu saya untuk kerja.Sabtu Minggu kadang untuk bekerja.Itu yang membuat saya harus mawas diri.Anak-anak saya sudah pada besar.Saya ingin supaya lebih baik, karena ini kesempatan yang tidak bisa diulang.Dengan anak-anak merupakan kesempatan yang tidak bisa diulang.Itu yang sedang saya usahakan agar seimbang.

 

Siapa sosok yang paling memberi pengaruh dalam hidup?

Ibu saya. Kedua, istri dan anak-anak saya.Itu dasar saya bisa sampai ke sini.Istri dan anak-anak cukup memberi dukungan.Kadang mereka mengeluh karena saya hanya punya waktu sedikit untuk keluarga.Tapi dari sisi pekerjaan, mereka sangat mendukung.

 

Pelajaran apa dari ibu yang begitu membekas?

Ibu saya luar biasa. Karena, menurut saya, beliau tidak pinter. Beliau itu tipenya bisa mengembangkan diri. Saya masih menganggap, apa yang saya lakukan sekarang ini, karena didikan dari ibu. Kedua, menurut saya, keberhasilan saya, bisa jadi, karena saya dididik oleh beliau seperti ini.

Ibu saya demikan gigih dalam mengembangkan diri saya secara pribadi.Bagaimana beliau mendidik saya, kemudian memberikan nilai kepada saya.Itu yang menjadi dasar saya untuk berkembang, terutama nilai yang ditanamkan pada diri saya.

 

Apa filosofi hidup anda?

Saya harus bisa melakukan tugas saya yang diberikan oleh Tuhan. Kedua, saya bisa memberi manfaat bagi orang lain. Karena saya bukan siapa-siapa, dan tidak jadi apa-apa.

 

Saat ini, apa keinginan yang belum terwujud?

Cita-cita saya sebenarnya membetulkanKali Ciliwung.Itu keinginan saya dulu, karena nggak beres-beres.Tetapi memang butuh waktu, dan kita harus memahami masyarakat pinggir kali, yang sudah menjadikan Ciliwung sebagai sumber ekonomi mereka.Secara umum, saya ingin menciptakan nilai untuk masyarakat.

Kadang sempat berpikir juga, besok-besok kalau pensiun mau ngapain ya. Terlintas di pikiran, ingin belajar memnadikan mayat.Setiap ada orang mati saya yang memandikan. Sesederhana itu.

 

=====================================================================================

Wawancara selengkapnya sudah pernah dimuat dalam Rubrik CEO di Majalah TAMBANG Edisi Maret 2014.

Artikulli paraprakKonsumsi Pertamax Diperkirakan Naik Empat Kali Lipat
Artikulli tjetërSeperti Gelas Setengah Penuh