Beranda Batubara Kebijakan Cina Untungkan Ekspor Batu Bara Indonesia

Kebijakan Cina Untungkan Ekspor Batu Bara Indonesia

SYDNEY, AUSTRALIA –TAMBANG. RISET oleh Bank ANZ kemarin mengeluarkan berita mengkhawatirkan bagi dunia batu bara Australia. Selama ini tujuan utama ekspor batu bara Australia adalah ke Cina. Di bawah kebijakan baru, risiko penolakan oleh aparat Bea Cukai Cina terhadap batu bara Australia, makin besar. Kini masih jadi pembicaraan: siapakah yang menanggung risiko, apakah penjualnya, pembelinya, atau keduanya bersama-sama.

 

Harga batu bara termal, yang dipakai untuk bahan bakar pembangkit listrik, di tingkat yang mengkhawatirkan, yakni sekitar US$ 60 per ton, sementara jenis coking, yang dipakai untuk membuat baja, harganya US$114 per ton. Harga-harga itu membuat sepertiga perusahaan tambang di Australia tidak bisa menikmati untung.

 

Cina, produsen sekaligus konsumen raksasa batu bara, telah membuat beleid baru demi memangkas polusi udara, dengan cara melarang penjualan batu bara yang kandungan debunya di atas 16% dan sulfurnya di atas 1%. Larangan itu berlaku untuk daerah-daerah utama pemakai batu bara.

 

‘’Detail peraturan itu masih belum pasti. Yang jelas, batu bara Australia dengan debu tinggi, yang selama ini boleh masuk Cina, kini dilarang,’’ kata Kepala Riset Ekonomi Industri ANZ, Mark Pervan.

 

Australia mengapalkan 42,5 juta ton batu bara termal ke Cina pada 2013, dan 40,3 juta ton pada Januari-Oktober 2014. Sebanyak 92% di antaranya memiliki kandungan debu lebih dari 16%.

 

Menurut riset ANZ, Indonesia paling diuntungkan terhadap kebijakan baru oleh Cina, karena hanya 10% dari batu baranya yang memiliki debu di atas 16%. ‘’Kadar kotoran debu bisa dikurangi dengan pengolahan lebih lanjut. Tetapi ini akan menambah biaya produksi,’’ kata Pervan, sebagaimana diberitakan oleh koran The Australian, hari ini.

 

Kebijakan Cina untuk memangkas polusi itu akan memiliki dampak terhadap batu bara secara global. Cina akan memproduksi sekitar 3,5 miliar ton batu bara, sebanyak 83% merupakan jenis termal, tahun ini. Produksi sebanyak ini empat kali lebih banyak dibanding produsen terbesar kedua, Amerika Serikat.

 

Cina juga importir terbesar batu bara termal, yaitu 160 juta ton, 50 juta ton lebih banyak dibanding juara dua, Jepang. Angka-angka yang besar itu membuat Cina bisa menjadi pengendali harga.

 

Dengan harga sekarang ini, sebanyak 70% dari produsen batu bara di Cina merugi. Maka, Komite Reformasi dan Pembangunan Nasional menekankan pentingnya pemangkasan impor dan produksi lokal. ‘’Kebijakan baru ini akan terlihat berhasil bila terjadi pengurangan impor dan produksi pada 2015,’’ kata Pervan.

 

Foto: Pekerja beristirahat di dekat cerobong pembangkit listrik berbahan bakar batu bara. Sumber foto: www.isett.com

Artikulli paraprakSumber Energi Andalan Jajaki Investasi Sektor Listrik
Artikulli tjetërPemprov Bangka Belitung Klaim Reklamasi 12 Ribu Hektar