Kebijakan Energi Dinilai Berhasil, Masih Banyak Pekerjaan

Kebijakan Energi Dinilai Berhasil, Masih Banyak Pekerjaan

PEMERINTAH Indonesia dewasa ini tengah bertekad untuk meningkatkan transparansi dan perbaikan tata kelola lembaga di bidang energi, BUMN energi, serta memangkas subsidi. Selain itu, juga tengah memperbanyak infrastruktur energi. Masih ada tantangan lain yang dihadapi Pemerintah Indonesia, yaitu memenuhi permintaan yang terus tumbuh untuk menjamin kepastian kebutuhan energi.

Dalam tinjauan mendalamnya terhadap kebijakan energi Indonesia, International Energy Agency, lembaga kajian ekonomi energi bentukan Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), menyebutkan Indonesia adalah eksportir neto energi, sebagai hasil dari ekspansinya dalam tambang batu bara, dan produksi biofuel. Namun, konsumsi energi Indonesia terus bertambah, sebagai akibat pertambahan jumlah penduduk, meningkatnya standar hidup, serta urbanisasi.

Tinjauan IEA itu diberti judul ‘’ Energy Policies Beyond IEA Countries: Indonesia 2015’’. Di situ, IEA menilai, subsidi terhadap energi merupakan tantangan besar bagi pembangunan sektor energi Indonesia. Diakui bahwa Indonesia membuat kemajuan dalam hal mengurangi subsidi energi fosil dibandingkan pada 2008, ketika tinjauan IEA pertama kali diterbitkan. Pengurangan subsidi ini merupakan perubahan bagus, yang harus dilanjutkan.

Di sektor kelistrikan, banyak kemajuan yang dicapai. Jumlah pembangkit yang terpasang terus bertambah. Rasio elektrifikasi meningkat. Untuk menghindari kekurangan listrik dan pemadaman bergilir, Indonesia harus mengambil langkah segera untuk menambah transmisi dan infrastruktur distribusi kelistrikan.

‘’Prosedur yang bertingkat, regulasi yang tak jelas, target tidak realistis, susahnya pembebasan lahan, pilihan pembiayaan yang terbatas dalam pembangunan pembangkit skala menengah dan kecil, semuanya merupakan halangan utama dalam pembangunan sektor energi di Indonesia,’’ demikian disampaikan Direktur Eksekutif IEA, Maria van der Hoeven, dalam peluncuran laporan IEA, Selasa lalu, di Jakarta.

Sebagaimana disampaikan Eurasia Review, kemarin, target Pemerintah Indonesia sebanyak 23% berasal dari energi terbarukan dari sistem energi nasional pada 2025, adalah sangat ambisius. IEA menyarankan pemerintah meningkatkan sektor tambang batu bara, dengan pola tambang yang berkelanjutan.

Pemerintah juga didesak meningkatkan transparansi pemasaran gas. Untuk itu, Indonesia perlu mereformasi metode harganya dan sistem alokasi agar lebih mencerminkan pasar global. Juga diperlukan regulator independen untuk memantau dan mengoordinasikan sektor hilir.

Sumber foto: eksplorasi.co

Artikel Terkait

Prabowo Ganti Purbaya Yudhi Sadewa, Suahasil Nazara Resmi Jadi Menteri Keuangan

Prabowo Ganti Purbaya Yudhi Sadewa, Suahasil Nazara Resmi Jadi Menteri Keuangan

Jakarta, TAMBANG – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengangkat Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan (Menkeu) Kabinet Merah Putih. Suahasil menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa untuk mengisi posisi Menteri Keuangan hingga berakhirnya masa jabatan periode 2024-2029. Pengangkatan tersebut ditetapkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Republik Indonesia Nomor 97/P Tahun 2026 tentang Pemberhentian

By Rian Wahyuddin
Di Kongres PROMETINDO 2026, Prof Zulfiadi Dorong Metallurgist Indonesia Jadi Pencipta Teknologi

Di Kongres PROMETINDO 2026, Prof Zulfiadi Dorong Metallurgist Indonesia Jadi Pencipta Teknologi

Jakarta, TAMBANG – Penguatan industri hilir mineral Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan mengoperasikan teknologi. Para ahli metalurgi nasional (metallurgist) dituntut naik kelas dari pengguna teknologi (technology user) menjadi pencipta dan penyedia teknologi (technology creator dan technology provider). Guru Besar Metalurgi Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Zulfiadi Zulhan, mengatakan perubahan peran

By Rian Wahyuddin
PROMETINDO Didorong Jadi Motor Transformasi Industri Metalurgi Nasional

PROMETINDO Didorong Jadi Motor Transformasi Industri Metalurgi Nasional

Jakarta, TAMBANG – Perhimpunan Ahli Metalurgi Indonesia (PROMETINDO) dinilai memiliki peran strategis dalam mengawal transformasi industri mineral Indonesia, khususnya di tengah agenda hilirisasi dan industrialisasi. Organisasi profesi ini didorong tidak hanya memperkuat kompetensi ahli metalurgi, tetapi juga melahirkan gagasan yang mampu menjawab tantangan industri ke depan. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara

By Rian Wahyuddin
Dirjen Minerba Tri Winarno Dorong PROMETINDO Perkuat Teknologi Metalurgi dan Akselerasi Hilirisasi

Dirjen Minerba Tri Winarno Dorong PROMETINDO Perkuat Teknologi Metalurgi dan Akselerasi Hilirisasi

Jakarta, TAMBANG – Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Tri Winarno mendorong Asosiasi Profesi Metalurgi Indonesia (PROMETINDO) mengambil peran strategis dalam memperkuat kemandirian teknologi metalurgi dan mendukung agenda hilirisasi mineral di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Tri Winarno dalam Kongres Nasional PROMETINDO 2026 yang digelar

By Rian Wahyuddin