Beranda ENERGI Energi Terbarukan Kembangkan Baterai Kendaraan Listrik, Pemerintah Ajak Australia Jajaki Kerja Sama

Kembangkan Baterai Kendaraan Listrik, Pemerintah Ajak Australia Jajaki Kerja Sama

foto: mobillistrik.net

Jakarta, TAMBANG – Meski terkendala sejumlah komoditas tertentu, upaya pemerintah untuk menjadi pemain utama di Industri baterai kendaraan listrik terus dilakukan. Salah satunya mengajak Australia dalam suksesi proyek hilirisasi tersebut.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif menyebut Negeri Kangguru itu memiliki cadangan lithium dan graphite yang besar sebagai komponen utama baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle).

“Apa yang akan kita lakukan adalah upaya kita kerja sama dengan para perusahaan yang memiliki pengelolaan mineral graphite dan lithium,” kata Arifin dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI, dikutip Selasa (22/11).

“Bagaimana kita melakukan poros kerja sama, contohnya kita dengan Australia. Australia itu memilki deposit lithium nomor dua di dunia, sesudah Chili. Australi juga memiliki potensi untuk graphite,” imbuhnya.

Selain nikel, komponen utama baterai kendaraan listrik adalah lithium dan graphite. Kata dia, sebetulnya Indonesia juga memiliki potensi kedua mineral tersebut, namun jumlahnya sangat sedikit dan terbatas.

“Di daerah Lapindo itu ada potensi mineral-mineral tersebut. Kita memang sudah melakukan analisa dan memang kontennya kecil dibandingkan jumlah deposit yang ada. Jumlahnya itu kalau lithium itu hanya di bawah 1000 ton saja dengan kadar kurang lebih beberapa ppm per ton,” jelasnya.

Di samping itu, pemerintah juga akan melakukan kemitraan dengan perusahaan-perusahaan yang saat ini sedang membangun industri hilir nikel. “Kita akan mencoba untuk membawa sumber-sumber lithium dan graphitenya untuk dimanfaatkan,” bebernya.

Sejauh ini, kesiapan Indonesia dalam industri baterai kendaraan listrik baru menginjak tahap hlirisasi nikel menjadi pig iron. Kemudian akan dilanjutkan ke jenjang feronikel dan prekursor yang notabene komponen baterai itu sendiri.

“Prekursor adalah suatu bahan, komponen yang mengandung nikel dan dibutuhkan untuk baterai. Kita ketahui bahwa baterai itu perlu tiga komponen utama yaitu nikel sebagai elemen katodanya, graphite elemen anodanya dan untuk pengantarnya adalah lithium,” ungkapnya.

Lebih lanjut Arifin menjelaskan bahwa fungsi baterai ini tidak hanya untuk media transportasi, tapi juga untuk storage system yang sangat diperlukan dalam menunjang program masuknya energy intermitten yang bersih.

“Baterai ini tidak hanya untuk media transportasi tapi juga untuk storage system yang sangat diperlukan dalam menunjang program masuknya energy intermitren yang bersih,” pungkas dia.

Sebelumnya, ajakan untuk mengembangkan baterai kendaraan listrik ke Australia ini sudah disampaikan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia saat bertemu dengan Sekretaris Parlemen Negara Bagian Australia Barat, jessica jane Shaw di Bali, Minggu (13/11).

“Indonesia memiliki pasar yang besar dalam industri kendaraan listrik dengan pemain-pemain global besar yang sudah berinvestasi seperti LG, Foxconn, CATL. Ini merupakan sebuah peluang besar yang dapat dijajaki antara Indonesia dengan Australia dengan konsep saling menguntungkan dalam rangka meningkatkan perekonomian kedua negara,” ujar Bahlil.

Artikulli paraprakGercep, Pertamina Kirim Bantuan Sembako dan Tim Medis untuk Korban Gempa Cianjur
Artikulli tjetërPunya Hygenic System Dan Waste Water Treatment, TSL Ausmelt Milik TINS Lebih Ramah Lingkungan