Kembangkan Logam Tanah Jarang, Inalum Gandeng Lembaga Riset Asal Amerika

Kembangkan Logam Tanah Jarang, Inalum Gandeng Lembaga Riset Asal Amerika

Jakarta, TAMBANG – PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) menggandeng mitra lembaga riset asal Amerika Serikat, Massachusetts Institute of Technology Energy Initiatives (MITEI). Keduanya akan bekerjasama untuk memanfaatkan unsur rare earth atau logam tanah jarang.

 

“Ini adalah momentum penting dalam upaya membangun sumber daya manusia Indonesia. Inalum akan mendirikan pusat riset dan inovasi bekerjasama dengan lembaga terkemuka dunia untuk mengembangkan teknologi pertambangan yang berkelanjutan dan juga proses hilirisasi industri yang efisien dan ramah lingkungan,” kata Direktur Utama Inalim, Budi Gunadi Sadikin melalui keterangan resminya, Rabu (10/10).

 

Untuk diketahui, tanah jarang merupakan logam yang dapat digunakan sebagai bahan magnet permanen yang diaplikasikan pada sektor energi baru terbarukan dan industri elektronik.

 

Unsur tanah jarang dan kobalt yang ditemukan dalam penambangan anggota Holding, PT Timah dan PT Antam, bisa dipakai sebagai salah satu materi pembuatan baterai untuk kendaraan listrik dan magnet dalam pembangkit listrik tenaga bayu.

 

“Pusat riset dan inovasi ini nantinya akan mendukung penggunaan materi berbasis mineral dan logam di masa yang akan datang dengan memanfaatkan banyaknya potensi unsur logam seperti aluminium, nikel, kobalt, maupun rare earth di Indonesia,” ungkap Budi.

 

Selain itu, Inalum dan MITEI juga berencana akan mendirikan pusat riset dan inovasi soal penggunaan batu bara agar menjadi energi yang ramah lingkungan. Anggota Holding PT Bukit Asam, saat ini sedang mengarah untuk mengembangkan gasifikasi batubara yang kedepannya dapat menggantikan bahan bakar LPG dengan harga yang jauh lebih murah.

 

Sebagai informasi, Budi Sadikin meneken kerjasama tersebut dengan Manajer Asia Pacific Energy Partnership MITEI, Lihong Duan. Keduanya menandatangani dokumen kolaborasi dengan disaksikan oleh Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno. Mereka membuat pertemuan di sela-sela ajang IMF/Bank Dunia di Nusa Dua, Bali.

 

“Penandatangan (antara Inalum dan MITEI) ini adalah langkah awal, bukan langkah akhir suatu proses untuk meningkatkan sumber daya manusia di industri pertambangan,” beber Fajar.


Note: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Komentar tidak boleh mengandung kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, fitnah, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Redaksi berhak menyunting komentar yang dikirim, tanpa mengubah makna.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close