Jakarta, TAMBANG – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan produksi batu bara nasional berada di kisaran 600 juta ton pada 2026.
“Yang jelas ya di sekitar 600 juta lah sekitar itu. Bisa kurang, bisa lebih dikit,” ungkap Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, kepada awak media di Jakarta, Kamis (8/1).
Bahlil belum menyebutkan angka produksi secara pasti lantaran pemerintah masih melakukan kajian, khususnya bersama Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba).
“Lewat kesempatan berbahagia ini, ESDM, sudah saya rapatkan dengan Dirjen Minerba, kita akan melakukan revisi daripada kuota RKAB. Pak Dirjen Minerba lagi menghitung,” jelasnya.
Bahlil mengklaim, pemangkasan produksi batu bara tersebut bertujuan untuk menjaga stabilitas harga di pasar global. Selain itu, kebijakan ini juga diarahkan untuk memastikan keberlanjutan sumber daya alam, sehingga cadangan batu bara nasional tetap terjaga bagi generasi mendatang.
“Jadi produksi kita akan turunkan supaya harga bagus. Dan tambang ini juga kita harus wariskan kepada anak cucu kita. Jadi jangan cara berpikir kita mengelola sumber di alam itu seolah-olah harus selesai semua sekarang,” ujarnya.
“Bangsa ini harus berjalan terus, lingkungan kita harus jaga, aspek-aspek keadilan juga kita tetap harus jaga. Dan ini juga terjadi tidak hanya di batu bara, termasuk nikel. Kita akan menyesuaikan antara kebutuhan industri dan supply ore nikel kita,” imbuhnya.
Sebagai perbandingan, pada 2025 Kementerian ESDM menargetkan produksi batu bara sebesar 739,56 juta ton, sementara pada 2024 target produksi dipatok sebesar 710 juta metrik ton.
Adapun realisasi produksi batu bara nasional pada 2025 tercatat mencapai 790 juta metrik ton, sedangkan pada 2024 realisasinya mencapai 836 juta metrik ton.







