Laba Bersih ANTAM 2017 Capai Rp136 Miliar

Laba Bersih ANTAM 2017 Capai Rp136 Miliar

Jakarta-TAMBANG. Perusahaan tambang milik negara PT ANTAM mencatat pertumbuhan kinerja operasi, penjualan & keuangan yang signifikan pada tahun 2017. Dari sisi operasi perusahaan dengan aneka produk tambang ini bahkan mencatat pertumbuhan produksi dan penjualan tertinggi sepanjang sejarah.

 

Di sektor penambangan nikel, volume produksi bijih nikel naik 241% dengan total produksi sebesar 5,57 juta wmt. Sementara volume penjualan mencapai 2,83 juta wmt atau naik 285% dibanding tahun 2016.

 

Pendapatan penjualan ANTAM dari bijih nikel sepanjang 2017 tercatat sebesar Rp1,37 triliun. Pada di tahun 2016 pendapatan dari penjualan nikel sebesar Rp 295 miliar. Ini berarti ada kenaikan hingga 364%.

 

ANTAM juga mengolah nikel menjadi feronikel. Produksi feronikel di tahun 2017 mencapai 21.762 ton nikel (TNi) dalam feronikel.  Dibanding tahun 2016 terjadi kenaikan 7%. Sementara penjualan feronikel mengalami pertumbuhan 4% mencapai 21.813 TNi.

 

Penjualan feronikel memberi kontribusi sebesar Rp3,22 triliun atau 25% dari total penjualan bersih sepanjang 2017. Dari keseluruhan penjualan, feronikel menjadi kontributor terbesar kedua bagi penjualan bersih ANTAM.

 

Sedangkan di sektor penambangan bauksit, di tahun 2017 ANTAM telah mendapatkan izin ekspor bijih nikel kadar rendah sebesar 3,9 juta wmt (<1,7% Ni) dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. ANTAM mendapatkan rekomendasi ekspor mineral dari KESDM untuk bijih bauksit tercuci sebesar 850 ribu wmt.

 

Pada tahun 2017, ANTAM mencatatkan volume produksi bijih bauksit  sebesar 705.322 wmt, tumbuh sebesar 192% dengan volume penjualan mencapai 838.069 wmt, naik sebesar 181% dibandingkan capaian tahun 2016. Di sepanjang 2017, ANTAM mencatatkan pendapatan dari bijih bauksit sebesar Rp398 miliar naik 283% dibandingkan nilai penjualan bijih bauksit pada FY16 sebesar Rp104 miliar.

 

Sementara untuk komoditi emas, total volume produksi emas dari tambang Pongkor dan Cibaliung sebesar 1.967 kg (63.240 oz). Lalu volume penjualan emas ANTAM di sepanjang 2017 tercatat sebesar 13.202 kg (424.454 oz). Dibanding tahun 2016 terjadi pertumbuhan sebesar 29% volume penjualan sebesar 10.227 kg (328.806 oz). Ini terjadi seiring dengan strategi pengembangan pasar emas baik domestik dan ekspor serta inovasi produk Logam Mulia ANTAM.

 

ANTAM terus berupaya untuk meningkatkan penjualan emas dengan melakukan perluasan pasar. ANTAM telah menandatangani kerjasama dengan PT Pos Indonesia (Persero) untuk memanfaatkan 205 Kantor Pos di seluruh Indonesia sebagai channel penjualan dan distribusi penjualan emas ANTAM.

 

Pada Tahun 2017,  ANTAM melalui Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia secara resmi melakukan perluasan distribusi pemasaran produk emas ANTAM ke Jepang melalui inovasi produk baru berupa emas batangan motif Hello Kitty (minted-bar Hello Kitty).

 

ANTAM merupakan satu-satunya gold refinery di ASEAN yang memiliki sertifikat London Bullion Market Association (LBMA). Dengan sertifikat ini, produk emas ANTAM terjamin kepastian berat dan  kemurniannya serta bisa diperdagangkan secara internasional.

 

Di sepanjang tahun 2017 total penjualan emas tercatat sebesar Rp7,37 triliun. Capaian penjualan bersih tersebut naik 33% dibandingkan penjualan bersih emas dibanding tahun 2016 yang tercatat sebesar Rp5,54 triliun.

 

Kinerja Keuangan

 

Dari sisi kinerja keuangan, laba kotor ANTAM disepanjang 2017 tercatat naik tajam sebesar 93% menjadi Rp1,64 triliun. ANTAM mencatat kenaikan nilai penjualan dan nilai beban pokok penjualan sebesar Rp11 triliun.  Dengan adanya peningkatan laba kotor, maka ANTAM mencatat laba usaha sebesar Rp600 miliar atau naik 7.264% dibandingkan laba usaha sepanjang 2016 sebesar Rp8,15 miliar.

 

Peningkatan laba usaha ini juga mendukung pencapaian laba bersih perusahaan menjadi Rp136 miliar. Bandingkan dengan laba bersih tahun 2016 sebesar Rp 64 miliar atau naik 111%. Peningkatan kinerja produksi dan penjualan yang signifikan serta upaya ANTAM untuk beroperasi pada tingkat biaya tunai produksi yang rendah pada tahun 2017 mendukung capaian positif EBITDA ANTAM menjadi Rp2,21 triliun. Dibanding capaian di 2016 terjadi kenaikan hingga 96%.  EBITDA dibandingkan capaian FY16 sebesar Rp1,13 triliun.

 

ANTAM mencatatkan pertumbuhan Earning   Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) mencapai 96% menjadi Rp2,21 triliun dibandingkan dengan capaian EBITDA sepanjang 2016 sebesar Rp1,13 triliun. Pertumbuhan EBITDA yang positif terutama disebabkan  pertumbuhan signifikan kinerja produksi dan penjualan komoditas utama ANTAM serta peningkatan  efisiensi yang berujung pada stabilnya level biaya tunai operasi ANTAM.

 

Penjualan bersih ANTAM sepanjang tercatat sebesar Rp12,65 triliun. Ini berarti naik 39% dibandingkan capaian 2016. Sementara laba bersih ANTAM di 2017 tercatat sebesar Rp136 miliar. Dibanding tahun 2016 tercatat kenaikan tajam sebesar 111% dimana laba bersih tercatat sebesar Rp64 miliar.


Close
Close