Beranda Sosok Maroef Sjamsoeddin: Mantan Intel yang Jadi Direktur Tambang

Maroef Sjamsoeddin: Mantan Intel yang Jadi Direktur Tambang

Mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Maroef Sjamsoeddin ditunjuk sebagai Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) pada 7 Januari lalu. Purnawirawan Marsekal Muda TNI Angkatan Udara Republik Indonesia ini resmi menggantikan Rozik B. Soetjipto.

 

Maroef bergabung di PTFI setelah menyelesaikan karir panjangnya selama 34 tahun di Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Ia pun sempat menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) selama periode 2011-2014.

 

Ia memperoleh gelar Master of Business Administration dari Jakarta Institute Management Studies.

 

Kamis (22/1), di hadapan para awak media, Ia pun menceritakan proses pencarian bos baru Freeport tersebut hingga pilihan jatuh pada dirinya.

 

Maroef menceritakan, dirinya sampai saat ini tidak pernah bermimpi bisa memimpin perusahaan tambang tembaga dan emas yang beroperasi di Grasberg, Papua itu. Apalagi, Maroef merasa dirinya sama sekali tidak punya latar belakang  di dunia pertambangan.

 

“Saya baru duduk di kantor ini Jumat lalu, kurang dari seminggu. Terus terang saya tidak pernah bermimpi bisa ada di ruangan ini. Ini bukan cita-cita saya,” katanya di Plaza 89 Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (22/1).

 

Cita-cita Maroef sudah tercapai, menjadi tentara yang profesional dan mengabdi kepada negara. Maroef merasa sudah merasa cukup puas dan pensiun dengan nilai baik.

 

“Saya tidak pernah melamar ke sini (Freeport), mengajukan surat atau meminta kerjaan di sini. Saya bukan ahli tambang ataupun akuntan.  Saya hanya seorang purnawirawan,” terangnya.

 

Minimnya pengalaman di dunia tambang  tersebut ia sampaikan langsung kepada Komisaris Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc, James Robert (Jim Bob) Moffett ketika menawari Maroef memimpin Freeport Indonesia.

 

“Saya bilang ke Pak Jim, saya tidak punya background (latar belakang). Saya bukan orang tambang. Sementara ini (Freeport) tambang besar. Jim bilang ‘Saya tidak peduli, saya butuh kamu’,” kata Maroef menirukan jawaban Jim.

 

Setelah meminta waktu untuk berfikir dan mempelajari, Maroef akhirnya menerima penawaran tersebut.

 

“Akhirnya, ya saya terima pekerjaan itu dengan satu komitmen. Apalagi background (latar belakang) antara saya dengan Pak Jim Bob itu sama. Pak Moffett itu bekas tentara, jadi ada nilai-nilai disiplin dan solidaritas, sama dengan saya. Freeport ini harus dijaga dan dikawal,” ujarnya.

 

Maroef pun bertekad, keberlangsungan dan manfaat Freeport di Indonesia harus berlanjut. Kalau bisa, manfaatnya bagi Indonesia bisa ditingkatkan lagi.

 

“Saya berpikir ternyata Freeport yang sudah beroperasi 40 tahun di Indonesia memiliki komitmen berkelanjutan terhadap masyarakat sekitar,” pungkasnya.