Medco Keluarkan US$40 Juta Eksplorasi Blok South Sumatera PSC

Medco Keluarkan US$40 Juta Eksplorasi Blok South Sumatera PSC

Jakarta – TAMBANG. Kegiatan eksplorasi yang dilakukan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) di Blok South Sumatera PSC sampai akhir Desember 2014 telah menelan biaya total nyaris US$40 juta. Rincian kegiatan eksplorasi itu disampakan dalam Laporan Eksplorasi Bulanan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (12/1).

Medco merinci kegiatan eksplorasi tersebut meliputi kegiatan seismik 2D, kegiatan seismik 3D, dan pengeboran. Untuk kegiatan seismik 2D yang dilakukan di darat, lokasinya berada di Kabupaten Musi Rawas, Musi Banyuasin, Muara Enim, dan Lahat. Untuk total panjang lintasan 647,8 km itu, Medco sampai akhir bulan Desember mengeluarkan biaya US$767 ribu. Pekerjaan tersebut dibagi menjadi 4 area survey, yaitu Noga, Rambutan, Wahalo, dan Lakitan.

Kemudian untuk kegiatan seismik darat 3D, lokasinya adalah di Kabupaten Musi Rawas, dengan total volume 110 kilometer persegi. Kegiatan yang sedan berjalan di area Temelat itu adalah pengukuran topografi dan pengeboran. Biaya yang dikeluarkan mencapai US$3,78 juta.

Terakhir, untuk kegiatan pengeboran sumur Lagan Deep-1A yang ditajak pada 22 Agustus 2013 silam, pekerjaan uji sumur dilanjutkan sepanjang Desember 2014. Jumlah biaya pengeboran itu sampai akhir Desember 2014 disebutkan sebanyak US$ 35,22 juta.

Blok South Sumatera PSC yang semula dikelola oleh perusahaan patungan Exxon dengan Mobil, diambil alih sepenuhya oleh Medco pada 22 Desember 1999. PT Medco E&P Indonesia, anak usaha MEDC, telah memegang hak perpanjangan blok tersebut untuk periode 2013 – 2033.

Selain blok migas yang berada di Indonesia, Medco juga memiliki dua blok eksplorasi di luar negeri, yaitu di Republik Yaman dan Libya.

Untuk Blok 82 (Amed) yang terletak di propinsi Hadramaut, Yaman, dioperasikan oleh Medco Yemen Amed Ltd dengan porsi kepemilikan 38,25%. Akuisisi seismik yang dimulai 9 Februari 2013 di blok tersebut telah menyelesaikan 1,315,88 km survei topografi (99%) dan perekaman 7,986 vp (45%) hingga akhir Desember 2014. Biaya yang dikeluarkan mencapai US$11,94 juta

Sementara untuk Blok 47 yang terletak sekitar 200 kilometer sebelah selatan kota Tripoli, Libya, dioperasikan oleh Medco International Ventures Limited (MIVL) dengan porsi kepemilikan 50%. Medco melaporkan bahwa sepanjang bulan Desember 2014 tidak ada aktivitas pengeboran appraisal di blok tersebut. Rencananya, di tahun 2015 MIVL baru akan melanjutkan program appraisal dengan melakukan pengeboran sumur untuk mengetahui cadangan minyak dan gas dari setiap struktur yang telah dites dan menunjukkan laju produksi komersial.

Artikel Terkait

Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Jakarta, TAMBANG – Industri pertambangan batu bara di Kalimantan Tengah (Kalteng) tengah menghadapi gangguan akibat kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut berdampak terhadap pengangkutan batu bara melalui Sungai Barito, sekaligus mengancam pemenuhan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO). Ketua Forum Kepala Teknik Tambang (FKTT) Kalteng, Handry Mardam, mengatakan Sungai

By Rian Wahyuddin
Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Jakarta, TAMBANG – Pasokan batu bara untuk industri semen mengalami kendala akibat gangguan pengiriman di sejumlah wilayah. Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM tengah mencari sumber pasokan alternatif untuk mengatasi kondisi tersebut. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan pihaknya menerima laporan terkait berkurangnya pasokan

By Rian Wahyuddin
Tekan Ketergantungan pada Impor, Pertamina Lubricants Luncurkan Katalis FCC/RFCC untuk Efisiensi Kilang

Tekan Ketergantungan pada Impor, Pertamina Lubricants Luncurkan Katalis FCC/RFCC untuk Efisiensi Kilang

Jakarta,TAMBANG,- Demi mengurangi ketergantungan impor dan mewujudkan kemandirian teknologi energi nasional,  PT Pertamina Lubricants (PTPL) bersama PT Pertamina (Persero) meluncurkan katalis. Produk ini merupakan hasil pengembangan kolaborasi antar riset Pertamina Group, yakni Fluid Catalytic Cracking (FCC), Residue Catalytic Cracking (RCC), dan Residue Fluid Catalytic Cracking (RFCC).  Dijelaskan pula bahwa

By Egenius Soda