Merawat Rusa, Menjaga Ekosistem: Langkah Lestari United Tractors

Konservasi keanekaragaman hayati menjadi bagian dari komitmen ESG United Tractors untuk menjaga keseimbangan ekosistem di tengah aktivitas industri. Melalui pelestarian rusa dan habitatnya, perusahaan berupaya memastikan keberlanjutan turut memberi manfaat bagi alam dan generasi mendatang.

Merawat Rusa, Menjaga Ekosistem: Langkah Lestari United Tractors
Direktur PT United Tractors Tbk (UT), Ari Sutrisno dalam prosesi pelepasliaran rusa timor di Cikepuh, Sukabumi, Jawa Barat. (Dokumentasi: UT).

Jakarta, TAMBANG - Satu per satu rusa timor melompat lincah keluar dari kandang kayu. Kaki-kaki jenjangnya menjejak tanah, sebelum hewan dengan nama ilmiah Cervus Timorensis itu perlahan menyusuri rimbun hijau pepohonan.

Bagi rusa-rusa itu, Selasa, 14 Juli 2026, menjadi awal dari kehidupan baru. Bagi mereka yang terlibat dalam pelepasliaran, momen ini justru merupakan ujung dari perjalanan panjang. Ada proses pembiakan, penelitian, pemantauan, penilaian kesehatan, hingga memastikan bahwa setiap rusa cukup siap untuk kembali menjadi bagian dari ekosistem.

PT United Tractors Tbk (UT), anak usaha PT Astra International Tbk (Astra), melepasliarkan 10 ekor rusa timor di Kawasan Margasatwa Cikepuh, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program keberlanjutan UTREES (United Tractors for Nature and Environment Sustainability) yang dijalankan bersama Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk mendukung konservasi keanekaragaman hayati.

Detik-detik rusa timor memasuki kawasan margasatwa, Cikepuh, Sukabumi, Jawa Bara. Dokumentasi: UT.

Direktur UT, Ari Sutrisno mengatakan pelestarian keanekaragaman hayati merupakan bagian penting dari komitmen perusahaan dalam menjalankan praktik bisnis yang berkelanjutan.

“Kami berupaya memberikan kontribusi nyata terhadap pelestarian satwa endemik Indonesia sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem,” ujar Ari, dikutip Rabu (16/9).

Program konservasi keanekaragaman hayati ini tidak lahir dalam semalam. Kolaborasi UT dan Universitas IPB telah berlangsung sejak 2018 melalui program pembiakan dan pengelolaan konservasi rusa timor di Taman Hutan Kampus IPB Dramaga.

Saat program dimulai, hanya ada delapan ekor rusa. Seiring waktu, melalui pengelolaan yang dilakukan secara berkelanjutan, populasinya berkembang menjadi 43 ekor. Dari jumlah tersebut, 10 ekor yang merupakan generasi keempat dinilai telah memenuhi kriteria untuk dilepasliarkan ke habitat alaminya.

Dari Kandang Menuju Rimba

Sebelum sampai di Cikepuh, sepuluh rusa tersebut terlebih dahulu menjalani serangkaian tahapan. Kondisi masing-masing individu dinilai, kesesuaian habitat disurvei, kemudian rusa menjalani proses habituasi.

Selama dua minggu, mereka ditempatkan di kandang adaptasi yang berada di kawasan pelepasliaran. Masa tersebut menjadi jembatan antara kehidupan di lingkungan penangkaran dengan kondisi alam yang akan mereka hadapi.

Kawasan Margasatwa Cikepuh dipilih karena masih memiliki habitat alami yang terjaga, ketersediaan sumber pakan yang memadai, serta tutupan vegetasi yang mendukung kehidupan rusa timor. Kawasan tersebut juga menjadi habitat berbagai satwa liar lainnya sehingga dinilai memenuhi aspek ekologis sebagai lokasi pelepasliaran.

Proses tersebut melibatkan banyak pihak. Selain UT dan Universitas IPB, pelepasliaran turut melibatkan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, pemerintah desa setempat, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Dokumentasi: UT.

Kolaborasi menjadi kata kunci. Ia membutuhkan pengetahuan, pengelolaan, pengawasan, dan keterlibatan masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan konservasi.

“Kolaborasi bersama IPB University dan para pemangku kepentingan menjadi bukti bahwa sinergi multipihak dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan dan keberlanjutan di masa depan,” imbuh Ari.

Di alam, keberadaan rusa timor juga bukan sekadar persoalan jumlah. Satwa ini memainkan peran ekologis, salah satunya melalui penyebaran biji yang membantu proses regenerasi vegetasi. Kehadiran rusa dengan demikian ikut menopang mata rantai kehidupan di habitatnya.

Sepuluh rusa yang dilepasliarkan itu kini harus menemukan ritmenya sendiri di alam. Mereka diharapkan mampu bertahan, berkembang biak, dan kembali memainkan fungsi ekologisnya.

Dokumentasi: UT.

Rusa dan Ruang Belajar

Cerita rusa kemudian bergerak ke lanskap berbeda. Jika di Cikepuh upaya konservasi bermuara pada pelepasliaran rusa timor, di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, PT Pamapersada Nusantara (PAMA), anak usaha UT memilih membangun ruang untuk belajar, meneliti, mengembangbiakkan satwa, sekaligus memulihkan ekosistem.

Melalui PAMA Eco-Edu Forest, bersama Otorita IKN (OIKN) dan Wanagama Universitas Gadjah Mada (UGM), menghadirkan kawasan yang memadukan konservasi keanekaragaman hayati dengan pendidikan lingkungan. Program tersebut diresmikan pada 20 November 2025.

Terletak di Wanagama Nusantara, kawasan ini memiliki luas 100 hektare. Sekitar 10 hektare dialokasikan untuk program captive breeding, sementara sebagian besar area lainnya digunakan untuk penanaman berbagai jenis pohon.

Dokumentasi: Rian/TAMBANG.

Konsep ini menjadi penting di tengah perkembangan IKN. Sebuah kota yang sedang tumbuh membawa perubahan terhadap bentang alam.

Salah satu yang mendapat perhatian PAMA adalah pelestarian rusa sambar. Berbeda dengan rusa timor di Cikepuh, rusa sambar yang dikonservasi PAMA merupakan satwa endemik Kalimantan, termasuk di wilayah Penajam Paser Utara.

“Alasan kami memilih rusa sambar adalah karena hewan ini termasuk satwa dilindungi,” ujar CSR Department Head PAMA, Maidi Irvan.

Satwa ini memiliki tingkat reproduksi relatif lambat. Rusa sambar hanya bereproduksi satu kali dalam setahun. Kondisi tersebut membuat pertumbuhan populasinya membutuhkan waktu lebih panjang dibandingkan beberapa jenis rusa lainnya.

“Rusa di Jawa bisa bereproduksi dua kali dalam setahun, sedangkan rusa sambar hanya satu kali setahun. Tingkat kepunahannya pun lebih rentan,” jelas Maidi.

Kawasan penangkaran Rusa Sambar di Wanagama, IKN, Kalimantan Timur. Dokumentasi: Rian/TAMBANG.

Kekhawatiran itu semakin relevan ketika habitat berhadapan dengan perubahan bentang alam akibat pembangunan. Maka, PAMA memilih penangkaran sebagai salah satu strategi. Rusa sambar ditampung dan dikembangbiakkan terlebih dahulu, sembari ekosistem di sekitarnya dipulihkan.

Ketika populasi telah stabil dan kondisi habitat, termasuk vegetasi pendukungnya, kembali dinilai memadai, rusa-rusa tersebut bakal dilepasliarkan ke alam.

“Setelah stabil dan kondisi habitatnya (floranya) pulih, rusa akan dilepasliarkan kembali,” imbuh Maidi. Saat ini, penangkaran PAMA Eco-Edu Forest dihuni lebih dari 12 ekor rusa sambar, seiring dengan berkembang biaknya sejumlah individu di kawasan tersebut.

Tujuh bulan berselang. Pada Jumat, 5 Juni 2026, dalam memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, TAMBANG kembali berkunjung ke kawasan tersebut dan menyaksikan perkembangan yang menggembirakan: rusa sambar betina yang sebelumnya tengah bunting kini telah ditemani seekor anak.

Induk dan anak rusa sambar di Wanagama, IKN, saat kunjungan dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Dokumentasi: Rian/TAMBANG.

Direktur PAMA, Abdul Nasir Maksum mengatakan, program ini menjadi bagian penting dalam pengelolaan keanekaragaman hayati.

“Keberhasilan pengelolaan keanekaragaman hayati hanya dapat terwujud bila kita melangkah bersama, saling menguatkan, dan saling belajar,” ujar Abdul Nasir.

Pesan tersebut sejalan dengan visi pembangunan IKN sebagai kota hutan. Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara, Basuki Hadimuljono, yang hadir dalam peresmian PAMA Eco-Edu Forest, menyambut baik kehadiran program tersebut.

Menurut Basuki, pembangunan IKN harus tetap berjalan beriringan dengan upaya menjaga ekosistem.

“Terima kasih kepada PAMA, yang mendukung penuh Wanagama ini untuk mendukung IKN sebagai forest city,” ucap Basuki.

Pria yang akrab disapa Pak Bas itu menilai, inisiatif PAMA dalam menghadirkan ruang edukasi alam yang melibatkan masyarakat dan dunia akademik patut diapresiasi.

“Kehadiran PAMA Eco-Edu Forest semakin memperkuat ekosistem konservasi yang kami dorong di kawasan ini,” imbuhnya.

Bagi Basuki, pembangunan kota tidak semestinya membuat alam kehilangan seluruh ruangnya. Justru, ekosistem perlu dirawat agar kawasan yang dibangun dapat memiliki keseimbangan ekologis.

Dokumentasi: Rian/TAMBANG.

Konservasi Tak Mengenal Jalan Singkat

Environmental, Social, and Governance (ESG) di industri pertambangan merupakan kerangka yang digunakan perusahaan untuk memastikan kegiatan ekstraktif itu tidak hanya berorientasi pada produksi dan keuntungan, tetapi juga memperhatikan kelestarian lingkungan, tanggung jawab sosial, serta tata kelola yang baik.

Pakar Strategi ESG, Jalal, mengatakan perusahaan yang serius menerapkan ESG memiliki perbedaan performa finansial dibandingkan perusahaan yang tidak memberikan perhatian serius terhadap aspek tersebut. Ia merujuk pada riset PricewaterhouseCoopers (PwC) yang menunjukkan adanya perbedaan performa finansial antara kedua kelompok perusahaan tersebut.

“Kita butuh menaikkan banyak mineral dan logam dan persyaratannya dengan ESG. Para pemimpin perusahaan pertambangan harus belajar ESG dengan benar,” ujar Jalal dalam sebuah kesempatan.

Ia mengingatkan tuntutan terhadap industri pertambangan ke depan tidak hanya menyangkut seberapa banyak mineral dan logam yang dapat diproduksi, tetapi juga bagaimana proses produksinya dilakukan.

Pakar Strategi ESG, Jalal. Istimewa.

Pertambangan, menurutnya, harus dijalankan ekstra hati-hati. Sebab, upaya menyelesaikan satu persoalan lingkungan tidak boleh melahirkan persoalan baru.

“Jangan sampai menyelamatkan manusia dari perubahan iklim, tapi justru membahayakan keanekaragaman hayati,” tegasnya.

Pesan tersebut semakin relevan ketika kebutuhan mineral meningkat seiring agenda transisi energi. Nikel, tembaga, aluminium, dan berbagai mineral lainnya dibutuhkan untuk mendukung elektrifikasi dan teknologi rendah karbon. Namun, peningkatan kebutuhan itu juga membawa konsekuensi terhadap bentang alam, hutan, air, dan habitat satwa.

Di titik inilah ESG seharusnya tidak berhenti sebagai laporan tahunan perusahaan. Ia perlu diterjemahkan menjadi keputusan nyata di lapangan: bagaimana perusahaan membuka lahan, mengelola habitat, melakukan reklamasi, hingga memulihkan keanekaragaman hayati.

Di Cikepuh, proses panjang pembiakan berujung pada pelepasliaran. Di IKN, konservasi dimulai dengan menyediakan ruang bagi satwa untuk berkembang biak sembari memulihkan habitatnya. Di atas semuanya, terdapat pendidikan, penelitian, dan kolaborasi.

Melalui UTREES dan PAMA Eco-Edu Forest, konservasi ditempatkan berdampingan dengan agenda keberlanjutan perusahaan. Bagi UT Group. alam tidak semata-mata dipandang sebagai ruang yang harus dijaga setelah aktivitas industri berlangsung, tetapi sebagai bagian dari sistem yang perlu diperhitungkan sejak awal untuk keberlanjutan generasi masa depan.

Artikel Terkait

Dari Ekspor Unit Tunggal Menuju Terobosan Solusi Terintegrasi | LOVOL Heavy Industry Tampilkan Solusi Pertambangan Terpadu dari Hulu ke Hilir di Indonesia International Mining Exhibition 2026

Dari Ekspor Unit Tunggal Menuju Terobosan Solusi Terintegrasi | LOVOL Heavy Industry Tampilkan Solusi Pertambangan Terpadu dari Hulu ke Hilir di Indonesia International Mining Exhibition 2026

LOVOL Heavy Industry tampil menonjol di Mining Indonesia dengan solusi pertambangan terintegrasi yang mencakup proses penggalian, pemuatan, hingga pengangkutan. Didukung portofolio alat berat yang beragam, desain yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal, serta pengalaman dalam teknologi energi baru.

By Fahmi Adam
Rayakan Usia 36 Tahun, PERHAPI Komit Kawal dan Dukung Industri Pertambangan Berkelanjutan

Rayakan Usia 36 Tahun, PERHAPI Komit Kawal dan Dukung Industri Pertambangan Berkelanjutan

Jakarta,TAMBANG,- Saat ini, industri pertambangan nasional sudah semakin berkembang. Perannya pun semakin penting sebagai penopang perekonomian nasional. Namun harus diakui bahwa ada sejumlah tantangan maupun permasalahan yang dihadapi. Industri pertambangan harus menghadapi dinamika baik dari internal maupun eksternal. Adanya dinamika geopolitik internasional dan dinamika supply-demand komoditas mineral dan

By Egenius Soda
Dorong Ketahanan Pangan dan Edukasi Lingkungan, PAMA Ajak Pelajar Tanam Padi Organik di Kutai Timur

Dorong Ketahanan Pangan dan Edukasi Lingkungan, PAMA Ajak Pelajar Tanam Padi Organik di Kutai Timur

Jakarta, TAMBANG – PT Pamapersada Nusantara (PAMA) Site Indominco bersama PT Indominco Mandiri (IMM) mengajak puluhan pelajar mengenal pertanian dan pentingnya menjaga lingkungan melalui kegiatan tanam padi organik di Kawasan Wisata Sawah Desa Teluk Pandan, Kecamatan Teluk Pandan, Kutai Timur. Mengusung tema “Bersinergi untuk Bumi, Pendidikan, dan Masa Depan yang Berkelanjutan”

By Rian Wahyuddin