Beranda Home Slide Meski Harga Nikel Turun,Vale Optimis Akan Investasi Di Indonesia

Meski Harga Nikel Turun,Vale Optimis Akan Investasi Di Indonesia

 

Sorowako-TAMBANG.Seperti harga komoditi tambang lain, harga nikel  masih cenderung melemah. Hal ini tentu berimbas pada investasi di sektor pertambangan nikel. Meski demikian PT Vale Indonesia tetap optimis akan prospek investasinya di Indonesia.

 

Presiden Direktur PT Vale Indonesia Nico Kanter  mengaku pihaknya masih optimis akan prospek investasi di sektor tambang nikel karena operasionalnya yang sangat kompetitif.

 

“Harga nikel memang menjadi perhatian kami, namun kami tetap optimis investasi di pertambangan nikel”tanda Nico.

 

Bahkan menurut Nico, tahun 2014 silam perusahaan yang sudah beroperasi sejak 1968  ini berhasil membukukan produksi tertinggi. Sebagaimana diketahui tahun 2014 silam perusahaan sebesar 78.726 ton nikel.

 

“Tahun 2015 kami targetkan produksi nikel masih sama seperti tahun lalu yakni 80.000 ton nikel”tandas Niko dalam konferensi pers di Sorowako,(27/5).

 

Sementara Chief Finance Officer Febriany Eddy mengatakan dalam kondisi harga nikel yang cenderung melemah ini, efisiensi menjadi sangat penting.

 

“Suatu yang natural bahwa harga tidak bisa dikontrol, yang bisa dikontrol adalah biaya. Maka yang dilakukan diantaranya bagaimana menekan biaya,”terang Febriany.

 

Terkait hal ini, salah satu yang dilakukan menurut Febriany diantaranya mengurangi konsumsi BBM sebagai sumber energi.”Itulah sehingga muncul tiga pembangkit listrik tenaga air sehingga menekan konsumsi BBM,”terang Febriany.

 

Maklum saja biaya BBM merupakan komponen terbesar beban pokok produksi, mewakili sekitar 30 persen dari total beban pokok produksi. Ini lebih rendah dari 2013 sebesar 37 persen.

 

Perusahaan juga untuk pemenuhan kkebutuhan listrik, PT Vale Indonesia telah membangun 3 PLTA yakni PLTA Larona, PLTA Balambano dan PLTA Karrebe. Total kapasitasnya 365 mw.

 

Selain itu perusahaan juga di tahun 2014 berhasil melakukan konversi batu bara mengganti penggunaan High sulfur fuel oil pada tanur pengering (drier). Keberhasilan melakukan konversi penggunaan batu bara sebesar 90 persen telah mampu menghemat biaya sebesar USD60,5 juta.

 

Ini semua merupakan langkah perusahaan sehingga bisa bertahan sampai sekarang. Padahal selama ini perusahaan sering mengalami tekanan karena pelemahan harga nikel.

 

Febriany juga menjelaskan bahwa investasi di sektor pertambangan merupakan invesasi jangka panjang. Oleh karenanya apa yang dilakukan saat ini terkait untuk mendapatkan sesuatu yang terbaik di masa yang akan datang.

 

“Kita bicara investasi jangka panjang. Harga hari ini jelas tidak masuk akal (murah), tapi investasi kita kan untuk jangka panjang. Ke depan pasti demand membaik,”tandas Febriany.

 

Ia pun masih yakin prospek nikel akan baik di masa mendatang. “Produsen nikel terbatas sehingga ke depan pasti akan terjadi defisit. Oleh karenanya investasi saat ini untuk tujuan ke depan.

 

“Kami harus investasi sekarang untuk dapat yang terbaik di masa depan,”tandas Febriany.