MK Tolak Gugatan Uji Materiil Soal Penambangan Di Pulau Kecil

MK Tolak Gugatan Uji Materiil Soal Penambangan Di Pulau Kecil

TAMBANG, Jakarta – Mahkamah Konstitusi (MK) mengeluarkan putusan soal permohonan uji materiil dari PT Gema Kreasi Perdana (GKP). Perusahaan tambang nikel yang beroperasi di Pulau Wawonii, Sulawesi Tenggara itu, menggugat pasal yang implementasinya dinilai melarang aktivitas pertambangan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Detailnya, melalui putusan perkara nomor 35/PUU-XXI/2023, MK menolak permohonan PT GKP terkait uji materiil Undang-Undang (UU) Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil juncto UU Nomor 1 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil.

“Menolak permohonan pemohon untuk seluruhnya,” kata Ketua MK Suhartoyo dikutip Jumat (22/3).

Adapun PT GKP merupakan satu-satunya perusahaan tambang nikel yang beroperasi di Pulau Wawonii. Akar masalahnya, Pulau Wawonii dikategorikan sebagai salah satu pulau kecil di wilayah perairan Sulawesi. 

Dalil gugatan PT GKP menjelaskan  bahwa pasal 23 ayat (2) UU 1/2014 dan  pasal 35 huruf k UU 27/2007 bertentangan dengan pasal 28D ayat (1) dan pasal 28I ayat (2) Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Berikut bunyi pasalnya:

Pasal 23 ayat (2) “Pemanfaatan pulau-pulau kecil dan perairan di sekitarnya diprioritaskan untuk kepentingan sebagai berikut; a) konservasi, b) pendidikan dan pelatihan, c) penelitian dan pengembangan, d) budi daya laut, e) pariwisata, f) usaha perikanan dan kelautan serta industri perikanan secara lestari, g) pertanian organik, h) peternakan dan/atau, i) pertahanan dan keamanan negara.”

Pasal 35 huruf k “Dalam pemanfaatan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, setiap orang secara langsung atau tidak langsung dilarang: (k). melakukan penambangan mineral pada wilayah yang apabila secara teknis dan/atau ekologis dan/atau sosial dan/atau budaya menimbulkan kerusakan lingkungan dan/atau pencemaran lingkungan dan/atau merugikan masyarakat sekitarnya.”

PT GKP meminta agar Pasal 23 ayat 2:

“tidak sebagai larangan terhadap kegiatan lain selain yang diprioritaskan, termasuk larangan kegiatan pertambangan, berikut sarana, dan prasarananya.”

Adapun Pasal 35 huruf k, PT GKP meminta agar:

“tidak sebagai larangan terhadap kegiatan pertambangan secara mutlak tanpa syarat“

Dalam pendapat MK yang dibacakan Hakim Konstitusi Enny Nurbaningsih, menyatakan UU 1/2014 dibentuk untuk melindungi keberlanjutan dan kelestarian kawasan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Sehingga MK berpendapat ketentuan Pasal 23 ayat (2) UU 1/2014 dan Pasal 35 huruf (k) UU 27/2007 telah ternyata tidak bertentangan dengan kepastian hukum yang adil dan perlakuan yang diskriminatif yang diatur dalam Pasal 28D ayat (1) dan Pasal 28I ayat (2) UUD 1945.

“Dengan demikian, dalil-dalil Pemohon adalah tidak beralasan menurut hukum untuk seluruhnya,” ungkap Enny dalam putusan tersebut.

Artikel Terkait

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Jakarta, TAMBANG — PT Multi Power Adi Tama (Multi Power Group) memperkuat komitmennya sebagai mitra solusi efisiensi bagi industri alat berat melalui pendekatan bisnis yang berorientasi pada kebutuhan operasional pelanggan. Perusahaan tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga membantu pelanggan menentukan solusi yang sesuai dengan karakter pekerjaan, target performa, dan kemampuan anggaran.

By Rian Wahyuddin
Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Jakarta, TAMBANG – Industri pertambangan batu bara di Kalimantan Tengah (Kalteng) tengah menghadapi gangguan akibat kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut berdampak terhadap pengangkutan batu bara melalui Sungai Barito, sekaligus mengancam pemenuhan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO). Ketua Forum Kepala Teknik Tambang (FKTT) Kalteng, Handry Mardam, mengatakan Sungai

By Rian Wahyuddin
Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Jakarta, TAMBANG – Pasokan batu bara untuk industri semen mengalami kendala akibat gangguan pengiriman di sejumlah wilayah. Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM tengah mencari sumber pasokan alternatif untuk mengatasi kondisi tersebut. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan pihaknya menerima laporan terkait berkurangnya pasokan

By Rian Wahyuddin