Beranda Komoditi Nikel : Jangan Hanya Fokus Filipina dan Indonesia. Kuba Bisa Jadi Bola...

Nikel : Jangan Hanya Fokus Filipina dan Indonesia. Kuba Bisa Jadi Bola Liar.

 

JAKARTA –TAMBANG. TAHUN 2014 dilihat banyak orang sebagai tahun yang penuh kelesuan bagi komoditi. Hal sebaliknya terjadi pada nikel, yang harganya terus melejit. Produsen nikel Rusia, Norilsk Nickel Mining & Metallurgica, harga sahamnya terus menanjak. Pada Mei sahamnya naik 30% dibanding awal tahun. Nickel Asia Corp, perusahaan terbesar di Filipina yang menambang nikel, harga sahamnya naik 221,5%.

 

Kolumnis Shuli Ren, dalam tulisannya hari ini di blog Barrons’s Asia, situs yang banyak mengupas pasar modal, mengatakan, sebagai komoditi, nikel menghadapi tantangan klasik: pasokan berlebih bisa datang sewaktu-waktu. Perubahan geopolitik, juga kebijakan, juga bisa menjadi ancaman. Sebagai contoh, pasokan nikel berlebih sampai Mei, sampai kemudian pengaruh larangan ekspor yang diterapkan Pemerintah Indonesia, mulai berdampak.

 

Tapi pada September harga sempat turun setelah Filipina memasok nikel besar-besaran, sampai terjadi pasokan berlebih. Harga kembali naik setelah Mahkamah Konstitusi di Indonesia membuat keputusan yang pada intinya pelarangan ekspor mineral bisa terus berjalan. Dua produsen nikel terbesar saat ini adalah Indonesia dan Filipina. Tiga negara yang menyusul adalah Rusia, Australia, dan Kanada.

 

Jika Indonesia melanjutkan pelarangan ekspor, dan Filipina tak bisa menutup kekurangan pasokan yang terjadi, harga dipastikan akan naik. Inilah yang kemungkinan terjadi pada nikel, tahun 2015 ini.

 

Tapi ada faktor yang juga harus diwaspadai: Kuba. Ephrem Ravi, analis dari Barclay, mengatakan, setiap harga komoditi naik, pasti akan terjadi tambahan pasokan. Sebagai contoh, pasokan nikel yang berlimpah terjadi setelah harga nikel yang tinggi pada 2006. Harga nikel yang tinggi sekarang ini pun demikian pula. Bisa memancing negara produsen lain yang selama ini belum menambang nikelnya, melakukan hal serupa dengan Filipina.

 

Ada kapasitas yang selama ini terdiamkan, dan dapat diproduksi dalam jangka 3-5 tahun kemudian, yakni di Australia, New Caledonia, dan Brazil. Dengan catatan, harga nikel terus-menerus naik.

 

Yang juga perlu diwaspadai adalah Kuba, yang selama ini tak pernah dilirik. Kuba memiliki 7% cadangan nikel dunia, kurang banyak diolah karena masalah cekaknya dana, dan hambatan dalam eksplorasi. Pada 1990, Kuba menghasilkan 100.000 ton nikel per tahun. Tetapi saat ini hanya menghasilkan 60.000 ton.

 

Nikel, bersama pariwisata dan gula, menjadi penyumbang terbesar bagi perekonomian Kuba. Adanya sanksi ekonomi yang diterapkan Amerika selama bertahun-tahun terhadap Kuba membuat produksi nikel dan investasinya, sangat terbatas.

 

Tetapi, dengan melonggarnya sanksi Amerika terhadap Kuba, dan harga yang tinggi, bisa membuat semuanya berubah. Kuba bisa menyusul Filipina, dan peta nikel pun berubah.

Foto: Kantor Kementerian Energi dan Pertambangan Kuba. Sumber: Thehavanatimes.org

Artikulli paraprakMemperbaiki Tata Kelola Energi dan Pertambangan Perlu Kebijakan Revolusioner
Artikulli tjetër2015 HPE Hasil Olahan Tambang Alami Penurunan