Pasar Peralatan Tambang Diperkirakan Tumbuh 7,9% Setahun

Pasar Peralatan Tambang Diperkirakan Tumbuh 7,9% Setahun
Alat berat untuk tambang. Sumber foto: trustcapitalusa.com
  TAMBANG, JAKARTA. SEBUAH laporan mengenai pasar alat-alat berat, yang dikeluarkan kemarin meramalkan, pasar alat berat dari 2016-2022 akan tumbuh 7,9% setahun. Sebuah laporan hasil riset yang dipublikasikan kemarin oleh MarketStudyReport.com, perusahaan survei pasar yang dari Amerika Serikat, dengan kantor cabang di Kanada, India, dan Amerika menyatakan, pasar peralatan tambang akan mencapai lebih dari US$ 150 miliar, pada 2022.   Faktor utama yang membuat pasar tumbuh adalah naiknya permintaan dari industri logam dan mineral, makin bertambahnya permintaan terhadap hasil sumber daya alam, seperti batu bara, intan, dan uranium.   Pembuatan pupuk untuk pertanian, juga meningkatkan pembelian alat berat. Beberapa jenis pupuk dihasilkan dari produk alam yang memerlukan alat berat untuk mengolahnya. Misalnya mineral pospat yang harus ditambang.   Penghambat naiknya pasar alat berat datang dari makin mahalnya ongkos menambang, serta makin ketatnya peraturan pemerintah. Yang diperkirakan pasarnya akan bertambah adalah alat berat berteknologi tinggi, pemakaian alat berat di industri batu bara termal yang hasilnya untuk pembangkit listrik, serta alat berat untuk pembangunan rel kereta api di daerah bergunung. Saat ini berbagai pemerintah, termasuk Indonesia, tengah menggalakkan pembangunan infrastruktur transportasi, termasuk jalur kereta api di daerah terpencil, untuk memudahkan akses.   Riset mengenai alat berat juga dilakukan oleh lembaga survei Hexa Research, dari Felton, California. Hexa meramalkan, pasar peralatan tambang akan tumbuh pesat selama empat tahun ke depan. Kegiatan tambang diperkirakan akan terus meningkat, dan pasar alat berat akan mencapai titik puncak yang baru pada 2020.   Saat ini tengah direncanakan proyek tambang baru di Rusia, Brazil, dan beberapa negara Afrika. Daerah yang akan ditambang memiliki tanah keras dan berbatu-batu, dengan air yang minim. Situasi medan seperti itu akan membuat permintaan terhadap peralatan pemboran dan pengolahan hasil tambang.   Pasar peralatan tambang batu bara diperkirakan stagnan, karena makin ketatnya regulasi mengenai lingkungan. Situasi ini terutama akan menimpa wilayah Eropa dan Amerika Utara.

Artikel Terkait

Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Jakarta, TAMBANG – Industri pertambangan batu bara di Kalimantan Tengah (Kalteng) tengah menghadapi gangguan akibat kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut berdampak terhadap pengangkutan batu bara melalui Sungai Barito, sekaligus mengancam pemenuhan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO). Ketua Forum Kepala Teknik Tambang (FKTT) Kalteng, Handry Mardam, mengatakan Sungai

By Rian Wahyuddin
Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Jakarta, TAMBANG – Pasokan batu bara untuk industri semen mengalami kendala akibat gangguan pengiriman di sejumlah wilayah. Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM tengah mencari sumber pasokan alternatif untuk mengatasi kondisi tersebut. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan pihaknya menerima laporan terkait berkurangnya pasokan

By Rian Wahyuddin
Tekan Ketergantungan pada Impor, Pertamina Lubricants Luncurkan Katalis FCC/RFCC untuk Efisiensi Kilang

Tekan Ketergantungan pada Impor, Pertamina Lubricants Luncurkan Katalis FCC/RFCC untuk Efisiensi Kilang

Jakarta,TAMBANG,- Demi mengurangi ketergantungan impor dan mewujudkan kemandirian teknologi energi nasional,  PT Pertamina Lubricants (PTPL) bersama PT Pertamina (Persero) meluncurkan katalis. Produk ini merupakan hasil pengembangan kolaborasi antar riset Pertamina Group, yakni Fluid Catalytic Cracking (FCC), Residue Catalytic Cracking (RCC), dan Residue Fluid Catalytic Cracking (RFCC).  Dijelaskan pula bahwa

By Egenius Soda