Beranda Tambang Today Pemerintah Bangun PLTU 5.000 MW di Cilacap

Pemerintah Bangun PLTU 5.000 MW di Cilacap

Nova Farida
[email protected]

Jakarta-TAMBANG. Salah satu upaya mencegah krisis listrik yang mengancam pulau Jawa yang diperkirakan terjadi pada 2016, pemerintah memutuskan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 5×1.000 megawatt (MW) di Cilacap, Jawa Tengah yang ditargetkan rampung pada 2018.

“Kita mencari terobosan untuk mengatasi ancaman listrik 2018, yakni akan dibangun 5×1.000 MW di Cilacap tidak jauh dari lokasi PLTU 700 MW yang sekarang sudah beroperasi,” kata Menko Menteri Koordinator Kemaritiman, Indroyono Soesilo kepada wartawan di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (6/11).

Ia mengatakan, untuk tahap operasional awal di tahun 2018, kapasitas listrik yang dihasilkan rencananya hanya sebesar 3 ribu MW. Kemudian, kapasitas penuh hingga 5 ribu MW direncanakan baru akan tercapai di 2020.

“Jadi ini waktunya empat tahun untuk tahap awal sebesar 3 ribu MW. Nanti ini diisi untuk mendorong terbangunnya kawasan industri di selatan Jawa. Total proyek tersebut selesai dalam waktu 7 tahun,” papar dia.

Indroyono menambahkan, proyek ini tidak akan senasib seperti PLTU Batang 2×1.000 MW yang terkendala karena masalah lahan, karena lahan proyek ini sudah menjadi milik negara.

Guna mempercepat jalannya proyek, ia mengatakan pihaknya telah bekerja sama dengan seluruh K/L, dan Pemda yang terlibat. “Sebenarnya lahan ini sebagian milik TNI AD dan sebagian milik Polri, tapi ditetapkan yang punya negara. Sebagian memang milik masyarakat tapi sudah diurus. Kita juga cari solusi dari Menteri Agraria, Menkum HAM, dan KSAD TNI apakah ada masalah nanti soal lahan,” jelasnya.

Ia melanjutkan, sebenarnya proyek ini sudah siap dan tinggal jalan. Tinggal menunggu Izin Penetapan Lokasi, dan izin ini akan segera diselesaikan.

“Yang bangun investor PT Jawa Energi. Nanti listriknya dibeli oleh PLN,” tuturnya.

Indroyono juga berjanji akan mengurusi semua hal di bawah naungan Kemenko Kemaritiman, termasuk sektor energi.

Artikulli paraprakSetelah Angola, Kini Iran Berencana Invetasi Migas di Indonesia
Artikulli tjetërDitunggu Peran Pemerintah Dalam Kasus Bioremediasi