Pemerintah Libatkan Swasta Untuk Siapkan Cadangan Penyangga BBM

Jakarta – TAMBANG. Demi meningkatkan ketahanan energi nasional, pemerintah akan membangun cadangan penyangga Bahan Bakar Minyak (BBM). Saat ini tengah dilakukan pembahasan mengenai skema pendanaannya agar tidak seluruhnya berasal dari Pemerintah.

Dirjen Migas Kementerian ESDM IGN Wiratmaja usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR, Selasa (1/9), menyebut ketersediaan untuk cadangan penyangga BBM ini diharapkan juga berasal dari badan usaha. Caranya adalah melalui sewa atau kepemilikan tangki penyimpanan dengan bentuk kerja sama pemerintah dan swasta.   “Kita akan tetapkan, siapapun yang nanti berhak berusaha di hilir migas, harus punya fasilitas penyimpanan. Kalau tidak ada, bisa sewa dan lain-lain,” jelasnya.   Selain mewajibkan badan usaha memiliki tangki penyimpanan, pemerintah juga sedang mempertimbangkan apakah petroleum fund dapat digunakan untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan minyak.   Menurut rencana, pemerintah akan membangun cadangan penyangga BBM untuk 30 hari dengan biaya sekitar US$ 17 miliar.   Cadangan penyangga ini diperlukan sebagai antisipasi kondisi darurat. Selama ini, yang dimiliki Indonesia hanyalah cadangan operasional PT Pertamina (Persero) untuk 20 hari.   Padahal negara-negara tetangga telah memiliki cadangan penyangga BBM nasional. Malaysia misalnya, sudah mengamankan cadangan BBM untuk 45 hari jika sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat. Vietnam bahkan memiliki cadangan untuk 60 hari, dan Jepang memantapkan diri dengan cadangan untuk setahun.

Artikel Terkait

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Jakarta, TAMBANG — PT Multi Power Adi Tama (Multi Power Group) memperkuat komitmennya sebagai mitra solusi efisiensi bagi industri alat berat melalui pendekatan bisnis yang berorientasi pada kebutuhan operasional pelanggan. Perusahaan tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga membantu pelanggan menentukan solusi yang sesuai dengan karakter pekerjaan, target performa, dan kemampuan anggaran.

By Rian Wahyuddin
Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Jakarta, TAMBANG – Industri pertambangan batu bara di Kalimantan Tengah (Kalteng) tengah menghadapi gangguan akibat kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut berdampak terhadap pengangkutan batu bara melalui Sungai Barito, sekaligus mengancam pemenuhan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO). Ketua Forum Kepala Teknik Tambang (FKTT) Kalteng, Handry Mardam, mengatakan Sungai

By Rian Wahyuddin