Pemerintah Samakan Patokan Harga Pasir Besi dan Bijih Besi

Pemerintah Samakan Patokan Harga Pasir Besi dan Bijih Besi

Jakarta-TAMBANG. Nampaknya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serius menyamakan besaran harga patokan ekspor (HPE) komoditas pasir besi dengan konsentrat besi alias bijih besi. Pelonggaran itu dilakukan karena pengusaha pasir besi kesulitan mengekspor karena HPE terlalu mahal.

Selain itu, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Sukhyar menyebutkan teknologi pemisahan kandungan tinatium dan ilmenite dan Fe yang ada di dalam pasir besi masih sulit dilakukan.

Rencananya, Sukhyar mengatakan, kebijakan ini akan tertuang dalam revisi lampiran Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 1/2014 tentang Peningkatan Nilai Tambang Mineral melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral di Dalam Negeri. Dalam aturan itu, pemerintah akan mengubah nama pasir besi, menjadi konsentrat besi alias bijih besi sehingga ini akan mengubah penggolongan kode harmoni sistem (HS) sekaligus besaran HPE konsentrat besi.

Sejauh ini, Sukhyar menambahkan draf revisi lampiran Permen ESDM sudah final dan tinggal menunggu tanda tangan menteri ESDM. "Saya sudah teken drafnya, sudah dikirimkan ke Biro Hukum dan tinggal menunggu tandatangan Pak Sudirman," ungkapnya, Rabu (11/2).

Tak setuju, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Mineral Indonesia (Apemindo), Ladjiman Damanik menyerukan keberatannya perihal pelonggaran syarat ekspor kedua komoditas tersebut. Sebab, menurutnya, harga kedua komoditas itu jauh berbeda, bahkan perbedaannya bisa sepuluh kali lipat.

"Negara berpotensi rugi, karena penghitungan kandungan ilmenite dan titanium akan bagaimana, kemudian besaran bea keluar akan turun padahal harga jual di lapangan antara bijih besi dan pasir besi sangat berbeda," kata dia.

Harga konsentrat pasir besi jauh lebih tinggi lantaran keberadaan kandungan titanium dan ilmenit yang termasuk kategori jenis mineral logam jarang, yang dapat dimanfaatkan untuk bahan baku produk berteknologi tinggi.

Menurut Ladjiman, importir dari Amerika Serikat, Jepang, maupun Tingkok pasti akan senang karena lebih memerlukan kandungan titanium dan ilmenit yang banyak terdapat di pasir besi di Indonesia.

Konsentrat pasir besi adalah salah satu komoditas yang mendapat perlakuan istimewa, dan boleh diekspor hingga 2017 mendatang. Hal tersebut diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 1/2014. Konsentrat pasir besi diistilahkan sebagai konsentrat ilmenite dan titanium. Ini yang tidak ditemukan di konsentrat besi lainnya.

Menurut Sukhyar, perbedaan penamaan tersebut tentunya mempengaruhi HPE yang ditetapkan Kementerian Perdagangan. Ia mencontohkan, berdasarkan HPE per Februari 2015, harga konsentrat besi (laterit) kadar Fe 55% mencapai US$ 7,26 per ton, dan konsentrat besi (hematit) mencapai US$ 47,23 per ton.

Sedangkan HPE konsentrat ilmenite (pasir) dengan kadar Fe 58% mencapai US$ 280 per ton, serta konsentrat titanium (pasir) kadar Fe 58% mencapai US$ 285,2 per ton. "Setelah revisi pengusaha pasir besi membayar bea keluar sesuai HPE konsentrat besi, bukan konsentrat titanium dan ilmenite," jelas Sukhyar.

Dengan begitu, pengusaha yang akan ekspor konsentrat besi hanya akan membayar bea keluar 7,5% dari harga patokan, atau lebih rendah jika ketimbang sebelum revisi.

Artikel Terkait

Engineering Week 2026 Satukan Delapan Sektor Industri untuk Dorong Transformasi Indonesia

Engineering Week 2026 Satukan Delapan Sektor Industri untuk Dorong Transformasi Indonesia

Jakarta, TAMBANG – Kebutuhan akan industri yang semakin terintegrasi mendorong hadirnya kolaborasi lintas sektor. Hal ini tercermin dalam penyelenggaraan Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series – Engineering Week 2026 yang mempertemukan delapan sektor industri strategis dalam satu ekosistem. Mengusung tema “Sustainability for Industrial Transformation”, Engineering Week 2026 resmi dibuka pada 9 September

By Rian Wahyuddin
Lewat Mining Indonesia 2026, Naraya Dipta Buana Perkuat Pengembangan Truk Listrik Hongyan untuk Tambang

Lewat Mining Indonesia 2026, Naraya Dipta Buana Perkuat Pengembangan Truk Listrik Hongyan untuk Tambang

Jakarta, TAMBANG – PT Naraya Dipta Buana, bagian dari MahaDasha Group, bersama SAIC Hongyan, memperkuat komitmen mengembangkan solusi kendaraan komersial untuk mendukung operasional sektor pertambangan Indonesia. Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui pengembangan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) untuk kebutuhan industri berat. Komitmen ini disampaikan dalam ajang Mining Indonesia 2026

By Rian Wahyuddin
Learning Summit 2026, PAMA Perkuat Resiliensi dan Pengembangan Diri Karyawan

Learning Summit 2026, PAMA Perkuat Resiliensi dan Pengembangan Diri Karyawan

Jakarta, TAMBANG – PT Pamapersada Nusantara (PAMA) kembali menggelar Learning Summit 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya belajar sekaligus meningkatkan kapabilitas insan perusahaan. Mengusung tema “BEYOND BOUNDARIES: Driving Value Through Knowledge Breakthroughs”, kegiatan ini menjadi wadah bagi karyawan untuk bertukar pengetahuan, mendapatkan perspektif baru, dan mengembangkan potensi diri. Memasuki rangkaian

By Rian Wahyuddin
XCMG Perkuat Ekosistem Industri Tambang Indonesia, Hadirkan Pembiayaan dan Alat Berat Energi Baru

XCMG Perkuat Ekosistem Industri Tambang Indonesia, Hadirkan Pembiayaan dan Alat Berat Energi Baru

Jakarta, TAMBANG – XCMG Group Indonesia memperkuat ekspansi dan ekosistem industrinya di Indonesia melalui kehadiran solusi alat berat energi baru sekaligus platform pembiayaan ABC Multifinance dalam ajang Mining Indonesia 2026 di Jakarta. Mengusung tema “New Power, New Future”, XCMG menampilkan berbagai solusi hijau terintegrasi yang dirancang untuk mendukung kebutuhan operasional pertambangan,

By Rian Wahyuddin