Pemerintah Siapkan Perpres Percepatan Pembangunan Kilang Minyak

Jakarta – TAMBANG. Kebutuhan akan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang semakin meningkat tiap tahunnya, mengharuskan pemerintah segera bertindak untuk mempercepat pembangunan kilang minyak. Karenanya, pemerintah berjanji segera menerbitkan sebuah Peraturan Presiden (Perpres) khusus sebagai payung hukum pembangunan kilang minyak baru.   “Diharapkan dengan terbitnya Perpres ini, kita bisa percepat pembangunan kilang sehingga ketahanan energi nasional bisa naik,” ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas – Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja, di Jakarta, Senin (7/9).   Dikatakannya, Indonesia membutuhkan 4 kilang minyak baru yang masing-masing berkapasitas setidaknya 300 ribu barel per hari. Ini untuk mencukupi kebutuhan dalam 10 tahun ke depan.   Perpres tersebut akan mencantumkan 4 alternatif pilihan dalam pembangunan kilang minyak baru. Opsi pertama adalah kilang yang sepenuhnya dibangun dan dibiayai oleh badan usaha swasta. Opsi kedua adalah kilang yang digarap melalui kerja sama pemerintah dan swasta (KPS / Public-Private Partnership).   Dua opsi lainnya adalah dengan penugasan kepada PT Pertamina (Persero) sebagai BUMN di bidang migas, serta sebagai alternatif terakhir adalah kilang yang dibiayai Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN).   Dari keempat alternatif tersebut, saat ini yang paling memungkinkan adalah opsi kedua dan ketiga. Wiratmaja menyebutkan, sejumlah investor telah mengusulkan pembangunan kilang di beberapa tempat. Namun demikian, ia belum dapat menjelaskan lebih lanjut detilnya karena masih dalam proses.   Opsi penggunaan dana APBN sedapat mungkin memang dihindari pemerintah. Karena, dana tersebut bisa digunakan untuk pembangunan infrastruktur lain yang lebih berdampak langsung bagi masyarakat.   Pembangunan setiap unit kilang berkapasitas 300 ribu barel per hari tersebut diperkirakan menelan biaya investasi sekitar US$ 12 miliar. Selain kilang minyak, di lokasi yang berdekatan rencananya juga akan dibangun pabrik petrokimia.   “Sebagai negara besar, kita harus menguasai pengolahan (hilir migas). Ini tentunya akan meningkatkan nilai tambah dan menciptakan lapangan kerja,” pungkas Wiratmaja.   Kilang-kilang yang ada di Indonesia saat ini kebanyakan sudah berusia tua, warisan dari era 1970-an. Karena itu produktivitasnya pun tak bisa lagi maksimal. Terakhir kali Indonesia membangun kilang minyak adalah tahun 1994 di Balongan, Jawa Barat, yang kini masih dioperasikan oleh Pertamina.

Artikel Terkait

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Jakarta, TAMBANG — PT Multi Power Adi Tama (Multi Power Group) memperkuat komitmennya sebagai mitra solusi efisiensi bagi industri alat berat melalui pendekatan bisnis yang berorientasi pada kebutuhan operasional pelanggan. Perusahaan tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga membantu pelanggan menentukan solusi yang sesuai dengan karakter pekerjaan, target performa, dan kemampuan anggaran.

By Rian Wahyuddin
Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Jakarta, TAMBANG – Industri pertambangan batu bara di Kalimantan Tengah (Kalteng) tengah menghadapi gangguan akibat kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut berdampak terhadap pengangkutan batu bara melalui Sungai Barito, sekaligus mengancam pemenuhan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO). Ketua Forum Kepala Teknik Tambang (FKTT) Kalteng, Handry Mardam, mengatakan Sungai

By Rian Wahyuddin