Beranda ENERGI Migas Pengeboran Sumur Meningkat, Lifting Migas Menurun Selama 2022

Pengeboran Sumur Meningkat, Lifting Migas Menurun Selama 2022

ilustrasi

Jakarta, TAMBANG-Deputi Eksploitasi SKK Migas, Wahju Wibowo menyampaikan kegiatan pengeboran sumur pengembangan, workover dan well service meningkat. Kegiatan pengeboran sumur pengembangan pada 2022 terealisasi 760 sumur lebih tinggi dibandingkan tahun 2021 sebanyak 480 sumur atau meningkat 158%.

“Jumlah pengeboran sumur pengembangan tahun 2022 adalah terbanyak dalam 8 (delapan) tahun terakhir sejak 2015,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (19/1).

Kendati begitu, Wahju menambahkan bahwa capaian lifting minyak dan gas belum mencapai target yang disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya tingginya kejadian unplanned shutdown.

“Terkait hal tersebut, SKK Migas sudah melakukan audit maintenance dan menyusun langkah-langkah implementasinya, harapannya dengan fasilitas produksi yang semakin baik dapat mendukung kegiatan program yang masif di tahun 2023,” imbuhnya.

Dia kemudian menyampaikan bahwa keselamatan kesehatan kerja dan lindungan lingkungan (K3LL) adalah prioritas di industri hulu migas. Capaian incident rate (IR) sebagai tolok ukur K3LL industri hulu migas, pada tahun 2022 mencapai 0,25 atau lebih baik dibandingkan rata-rata IR hulu migas global yang sebesar 0,7.

“Terkait adanya incident yang terjadi di hulu migas, maka hal ini menjadi alert bagi SKK Migas untuk terus melakukan perbaikan”, tambah Wahju.

Selain mendorong peningkatan aktivitas dan investasi, SKK Migas juga melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan efisiensi operasional hulu migas sehingga dapat memberikan kontribusi yang optimal bagi penerimaan negara dan imbal hasil yang optimal bagi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).

Deputi Keuangan dan Komersialisasi, Kurnia Chairi menyampaikan bahwa efisiensi operasional hulu migas terus meningkat. Tingginya aktvitasi operasional hulu migas, dapat dijaga seefisien mungkin. Efisiensi operasional hulu migas terlihat dari alokasi biaya cost recovery yang telah ditetapkan pada APBN sebesar USD 8,65 miliar dapat digunakan dengan efisien sehingga hanya terealisasi sebesar USD 7,8 miliar atau hanya sebesar 90,1% dari pagu anggaran.

“Di tengah tingginya harga energi dunia serta kemampuan menjaga biaya-biaya di industri hulu migas tetap efisien, menunjukkan bahwa daya saing industri ini terus mengalami peningkatan. Hal ini juga sebagai bukti bahwa pengawasan oleh SKK Migas dapat dijalankan secara efektif sehingga mendorong peningkatan penerimaan negara yang lebih optimal”, imbuh Kurnia.

Tulisan SebelumnyaKonsisten Reklamasi Laut, PT Timah Bakal Tenggelamkan Ribuan Artificial Reef
Tulisan SelanjutnyaBulan K3, PTBA Bersih-Bersih Sungai Enim