Beranda Komoditi Pengusaha Baja India: Lihatlah Indonesia

Pengusaha Baja India: Lihatlah Indonesia

 

NEW DELHI—TAMBANG. ENAM bulan setelah Perdana Menteri Narendra Modi berkuasa, dengan janji untuk memperbaiki ekonomi, penyakit yang dialami dunia industri masih sama: ekonomi tinggi. Dunia baja kekurangan bijih besi. Di sisi lain, permintaan terhadap produk baja dalam negeri berkurang, karena membanjirnya produk lur negeri.

 

Inilah wawancara Direktur Pelaksana JSW Steel, Seshagiri Rao MVS, dengan BusinessLine. JSW Steel berpusat di Mumbai, Maharasthtra, India. Setelah merger dengan pabrik baja ISPAT, JSW menjadi perusahaan baja swasta terbesar di India, dengan kapasitas terpasang 14,3 juta ton per tahun.

 

 

Apakah permintaan terhadap baja telah bertambah?

Terdapat sentimen positif dan harapan bahwa situasi akan lebih baik. Tetapi pada dasarnya, situasi tetap sama. Permintaan terhadap baja melambat. Faktor utama yang memengaruhi adalah situasi ekspernal. Terdapat kelebihan produksi baja di berbagai negara seperti Cina dan Korea Selatan, dan hasilnya dijual murah ke India. Kita juga mengimpor baja dari Rusia, setelah melihat melemahnya rubel.

 

Apakah terdapat lonjakan impor baja?

Impor baja pada Oktober dan November naik 136%, menjadi 900.000 ton. Kecenderungan ini terus berlanjut pada Desember dengan masuknya baja dari Rusia, setelah rubel terdepresiasi terhadap dolar hingga 62%.

 

Depresiasi rubel yang tajam membuat harga baja dari Rusia jadi murah. Rusia merupakan negara yang sangat tergantung pada ekspor. Melemahnya harga minyak membuat Rusia harus berupaya mencari pengganti. Rusia berusaha mengekspor apapun yang bisa dia jual.

 

Apakah kampanye ‘’Pakailah Buatan India’’ juga berdampak terhadap pasar baja?

Kita punya kemampuan untuk membuat berbagai produk yang diterima dunia. Tetapi pembuatan produk India hanya bisa berjalan bila didukung oleh kebijakan pemerintah.

 

Bagaimana kinerja ekspor baja India?

Ekspor jatuh 5,34% sjeah delapan bulan pertama tahun fiskal ini. Sementara impor aik 49% pada periode yang sama. Angkanya akan makin meprihatinkan bila Anda melihat selama Oktober-November lonjakannya mencapai 136%. Konsumsi baja dalam negeri India, sekecil apapun, diganggu oleh baja impor yang dijual dumping.

 

Apakah permintaan terhadap luar negeri terhadap bijih besi India juga terus bertambah?

Total ekspor bijih besi India, tahun lalu 14 jut ton. Tahun ini sekitar 4,5 juta ton. Terdapat pengurangan sekitar 9 juta ton, nilainya US$ 495 juta.

 

Di sisi lain, industri India mengimpor 6 juta ton bijih besi. Dan mungkin akan naik hingga 15 juta ton. Pertanyaannya: mengapa kita mesti mengimpor baja dan bijih besi, sementara di dalam negeri keduanya bisa didapatkan?

 

Apakah ekspor bijih besi sebaiknya diizinkan?

Cadangan bijh besi adalah kekuatan kompetitif industri baja. Seharusnya, nilai tambah menjadi syarat mutlak terhadap ekspor mineral, seperti bijih besi, bauksit, dan juga untuk batu bara. Saya tidak berbicara untuk negara yang sumber dayanya kaya, seperti Kanada atau Australia, yang tidak memiliki banyak kebutuhan domestik, dan hidup dari ekspor.

Lihatlah Indonesia. Negara ini menerapkan kewajiban pasar domestik. Anda tidak bisa sembarangan mengekspor. Perusahaan India yang membeli batu bara dari Indonesia harus ini tidak bisa gampang membeli batu bara dari Indonesia.

Bijih besi merupakan barang langka di dunia. Bijih besi dari India mengandung mineral Fe lebih banyak ketimbang dari negara lain. Inilah yang harus kita jaga. Kita sebaiknya tidak mengizinkan ekspor mineral mentah.

Artikulli paraprakFilipina Cari Ladang Minyak di Indonesia
Artikulli tjetërPemerintah Tergetkan PNBP Sektor Minerba Sebesar Rp50,6 triliun