PROMETINDO Didorong Jadi Motor Transformasi Industri Metalurgi Nasional
Jakarta, TAMBANG – Perhimpunan Ahli Metalurgi Indonesia (PROMETINDO) dinilai memiliki peran strategis dalam mengawal transformasi industri mineral Indonesia, khususnya di tengah agenda hilirisasi dan industrialisasi.
Organisasi profesi ini didorong tidak hanya memperkuat kompetensi ahli metalurgi, tetapi juga melahirkan gagasan yang mampu menjawab tantangan industri ke depan.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno menyampaikan hal tersebut dalam pengarahan utama secara daring pada pembukaan Kongres Nasional PROMETINDO 2026 di The Darmawangsa Jakarta, Sabtu (12/9/2026).
Menurut Tri, peran PROMETINDO semakin penting seiring perubahan arah industri minerba Indonesia dari sekadar mengekstraksi sumber daya menuju pengembangan industri bernilai tambah. Untuk itu, organisasi profesi perlu mengambil bagian dalam memastikan transformasi tersebut ditopang kemampuan teknologi dan sumber daya manusia nasional.
Tri menekankan setidaknya tiga hal yang perlu diperkuat PROMETINDO. Pertama, penguasaan teknologi metalurgi secara mandiri agar Indonesia tidak terus bergantung pada lisensi maupun tenaga asing.
Kedua, penegakan standar profesionalisme dan etika profesi dengan menempatkan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) serta kelestarian lingkungan sebagai prioritas. Ketiga, mendorong akselerasi hilirisasi secara selektif, terutama pada komoditas mineral kritis, untuk memperkuat struktur industri domestik.
Dalam konteks tersebut, Tri juga menyampaikan lima agenda strategis yang perlu menjadi perhatian bersama dalam tata kelola minerba, yakni ketahanan energi, hilirisasi lanjutan, tata kelola transparan, responsible mining, dan transisi berkeadilan.
Kelima agenda tersebut, menurut Tri, dapat menjadi ruang kontribusi bagi PROMETINDO untuk menghadirkan perspektif dan rekomendasi berbasis keahlian metalurgi.
“Melalui Kongres Nasional 2026 ini, saya berharap PROMETINDO melahirkan kepemimpinan baru yang visioner serta rekomendasi strategis yang aplikatif bagi negara,” ujar Tri.
Pada aspek hilirisasi, Tri menegaskan pengolahan mineral tidak boleh berhenti pada produk mentah atau setengah jadi. Industri perlu didorong menghasilkan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi hingga produk akhir (end-product).
Sementara itu, tata kelola transparan harus diperkuat melalui pengelolaan produksi, perizinan, data, dan pengawasan. Di saat yang sama, penerapan responsible mining dan transisi berkeadilan harus memastikan transformasi industri tetap memperhatikan aspek lingkungan dan sosial.
Tri berharap PROMETINDO mampu menjadi bagian dari proses tersebut dengan menghadirkan profesional metalurgi yang tidak hanya menguasai aspek teknis, tetapi juga memahami kebutuhan industri, lingkungan, dan kepentingan masyarakat.
“Hilirisasi memberikan arah, inovasi memberikan kemampuan bersaing, dan keberlanjutan memberikan legitimasi bagi industri pertambangan untuk tumbuh,” kata Tri.
Ia menegaskan kekayaan mineral Indonesia harus diarahkan menjadi fondasi pembangunan industri jangka panjang.
“Mari memastikan kekayaan mineral bukan hanya kekuatan ekonomi hari ini, melainkan fondasi kemajuan Indonesia di masa depan,” pungkasnya.