Beranda ENERGI Migas Rekind Tetap Jadi Operator Proyek Pipa Gas Cirebon-Semarang

Rekind Tetap Jadi Operator Proyek Pipa Gas Cirebon-Semarang

Jakarta-TAMBANG. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) menegaskan PT Rekayasa Industri (Persero) tetap menjadi operator pembangunan pipa gas Cirebon-Semarang. Rencananya, Rekind akan menggandeng PT Pertamina Gas (Pertagas) untuk merampungkan proyek yang sempat mangkrak dari 2006 itu.

 

Kepala BPH Migas, Andy Noorsaman Someng mengatakan penunjukan Rekind dilakukan setelah melewati seleksi yang dilakukan oleh BPH Migas. “Rencananya, Mei atau Juni akan dilakukan pencanangan tiang pertama,” katanya di kantor pusat BPH Migas, Jakarta, Selasa (7/4).

 

Proyek pipa gas sepanjang 270 km itu, kata Andy, ditargetkan rampung pada 2019. Nantinya, pipa gas itu akan bersifat open access. Artinya, siapa saja bisa menggunakan asal memiliki pasokan gas. Menurutnya, dengan tersedianya jaringan pipa itu maka pasokan gas akan datang dengan sendirinya. Terlebih, kebutuhan gas untuk industri di wilayah Jawa cukup tinggi.

 

“Prinsipnya kan ada gula ada semut. Jadi kalau infrastruktur ini beres, pasokan gas datang sendiri,” ungkapnya. Selain proyek itu, lanjut Andy, sudah dibangun juga jalur pipa gas Gresik-Semarang dan Kalimantan-Jawa.

 

Dalam kesempatan berbeda, Direktur Utama Rekind, Firdaus Syahril menyatakan pihaknya telah siap melanjutkan proyek tersebut. Meski sebelumnya sempat ditegur oleh pemerintah lantaran pembangunan jalur pipa belum juga selesai.

 

“Statusnya saat ini kami akan maju. Kami sudah ada nota kesepahaman dengan Pertagas pada Maret kemarin,” jelasnya.

 

Berdasarkan nota kesepahaman tersebut, Rekind dan Pertagas sepakat kerjasama dimulai dengan survei lapangan. Setelah itu, akan ada tindak lanjut mengenai kerjasama diantara keduanya.

 

Untuk besaran saham, tutur Firdaus, Rekind tetap ingin mayoritas, yakni sebesar 60% sementara sisanya menjadi jatah anak usaha PT Pertamina (Persero) itu. Ia melanjutkan, Pertagas dipilih lantaran telah memiliki pasokan gas dan calon pembeli. “Selama ini yang menjadi kendala kan karena pasokan gas yang belum ada,” kilahnya.

 

Tercatat pada 2006, investasi untuk proyek pembangunan pipa berdiameter 28 inchi itu sebesar US$170 juta untuk 350  sampai 500 juta mmscfd . Kemungkinan nilai itu bertambah seiring angka inflasi saat ini.

Artikulli paraprakPTBA Hentikan Eksplorasi
Artikulli tjetërKementerian ESDM Siapkan Pergantian 11 Jabatan Direktur