Beranda ENERGI Kelistrikan Segepok Tantangan bagi Sofyan Basir Sebagai Direktur Utama PLN

Segepok Tantangan bagi Sofyan Basir Sebagai Direktur Utama PLN

 

 

 

HARI ini, 24 Desember 2014, adalah hari pertama bagi Sofyan Basir, 56 tahun, bertugas sebagai direktur utama PLN. Semalam, sekitar jam 19.00, Menteri BUMN Rini Soemarno mengumumkannya sebagai direktur baru. Ia menggantukan Nur Pamudji, yang memang sudah lama mengajukan pengunduran diri.

 

Tidak ada waktu bersantai-santai, atau sekadar berkenalan dan beramah tamah dengan karyawan PLN, bagi Sofyan Basir. Pria kelahiran Bogor ini harus langsung tancap gas, di saat sebagian besar warga tengah menikmati libur akhir tahun. Sejumlah pekerjaan mahabesar harus segera ia bereskan.

 

Sofyan dikenal sebagai basofyan basyirnkir bertangan dingin, dengan karier yang moncer. Pada awalnya ia bekerja di Bank Duta, pada 1981. Pada masanya, Bank Duta merupakan lembaga yang masuk jajaran kelas top di perbankan Indonesia. Pemegang saham utama bank ini adalah yayasan-yayasan di bawah Presiden Soeharto, yaitu Yayasan Dharmais, Yayasan Supersemar, dan Yayasan Dakab.

 

Dari Bank Duta, Sofyan pindah ke Bank Bukopin. Ia menempati berbagai posisi manajerial. Ia menjadi kepala grup, pemimpin cabang, sampai akhirnya menjadi direktur, dan kemudian direktur utama. Ia dinilai berhasil, membuat pemerintah jatuh hati, dan menariknya menjadi direktur utama Bank BRI. Sofyan Basir menjabat sebagai direktur utama Bank BRI sejak 17 Mei 2005 dan terpilih kembali untuk periode jabatan kedua pada 20 Mei 2010.

 

Di tangan Sofyan, BRI memiliki kinerja lumayan mencorong. Kehadiran BRI makin terasa, tak hanya di perdesaan, juga di perkotaan. Kini mesin tunai Bank BRI bisa dijumpai di mal, pertokoan, kampus-kampus, hal yang dulu kurang diperhatikan oleh bank yang kantornya paling banyak di Indonesia ini. Untuk menghubungkan ribuan cabangnya itu, Sofyan akan menggunakan teknologi satelit. Untuk Indonesia, ini merupakan terobosan.

 

Berbagai keberhasilan itu kita harapkan akan kembali diukir Sofyan Basir di PLN. Pepatah orangtua kita mengatakan, ‘’lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya’’. Pepatah ini bisa kita tafsirkan bahwa tiap medan pertempuran memerlukan strategi yang berbeda.

 

Kondisi keuangan PLN tidaklah sebagus BRI. Kuartal ketiga 2014 ini saja BRI meraup laba bersih Rp 18,2 triliun. Sementara PLN, untuk semester pertama tahun ini, ‘’hanya’’ berlaba Rp 12,3 triliun. BRI bisa menaikkan dan menurunkan bunga sesuai situasi pasar. Sedang PLN, untuk menaikkan tarif, harus melalui berbagai proses berliku. Kepiawaian Sofyan di keuangan diharapkan bisa menaikkan kinerja PLN dengan cepat.

 

Pekerjaan rumah lain yang harus dibereskan Sofyan Basir, lumayan banyak. Bahkan bisa dikatakan segudang.

 

Listrik, yang bisa Anda nikmati dengan mudah saat ini, masih merupakan barang mewah bagi sebagian warga Indonesia. Di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, listrik masih barang langka. Di NTB, setiap hari terjadi defisit listrik 22 MW. Di NTT, rasio elektrifikasi tahun lalu baru 40%. Dengan kata lain, terjadi byar pet setiap hari.

 

Sebagai BUMN yang bergerak bidang padat teknologi, PLN harus rajin merawat infrastrukturnya. Ada kalanya, kerusakan suku cadang berjalan lebih cepat dibanding ketersediaan barangnya. Tahun ini kita mengalami pemadaman bergilir akibat kerusakan komponen pada PLTU Muara Karang dan PLTU Lontar.

 

Pengadaan suku cadang juga bukan merupakan hal mudah. Masih belum ada persepsi yang sama antara penegak hukum dengan para pejabat PLN. Malah, beberapa pejabat PLN harus terseret kasus hukum dalam kasus PLTGU Belawan. Kasus ini yang dikabarkan ikut membuat bekas Direktur Utama PLN, Nur Pamudji, merasa jengkel dan mengajukan surat pengunduran diri.

 

Pendirian pembangkit listrik 35.000 MW menjadi pekerjaan rumah yang sangat menantang. Akibat keterlambatan pembangunan pabrik listrik di masa lalu, pemerintah Jokowi-JK menargetkan dalam lima tahun, Indonesia mendirikan pembangkit listrik dalam jumlah sangat banyak. Setahun harus mendirikan 7.000 MW memerlukan kerja keras, dengan kecepatan penuh.

 

Dengan pembangunan pembangkit listrik baru itu, rasio elektrifikasi diharapkan meningkat pesat. Dalam bahasa gampangnya: listrik makin banyak hadir di rumah dan industri warga. Memang tidak mungkin rumah semua warga dialiri listrik, karena ada sebagian warga, seperti Suku Badui, yang mengharamkan kehadiran barang berteknologi.

 

Pemakaian BBM untuk menggerakkan turbin listrik PLN juga harus semakin dikurangi. Minyak diesel dikenal sebagai bahan bakar yang mahal. Tahun 2014 ini, PLN diperkirakan memakai 6,4 juta kiloliter BBM. Inilah yang harus segera dialihkan ke batu bara dan gas, yang jauh lebih murah.

 

Pemanfaatan energi terbarukan, seperti ombak, angin, surya, atau bahkan nuklir, hingga kini belum mendapatkan prioritas penting di PLN. Sudah saatnya Indonesia, yang memiliki lautan demikian luas, dan matahari bersinar sepanjang tahun, memanfaatkan anugerah Tuhan itu dengan menjadikannya sebagai sumber energi.

 

Begitu banyak pekerjaan rumah yang harus ditangani Sofyan Basir. Kita semua berharap, keberhasilan Sofyan Basir di tempat lama akan kembali tercipta di PLN.

Sumber foto: www.inhiklik.com

 

Artikulli paraprakBerau Kejar Efisiensi Produksi Batu Bara
Artikulli tjetërChurchill vs Indonesia: Permintaan Perlindungan oleh Churchill Ditolak

1 KOMENTAR

  1. Dengan kehadiran dirut PLN baru diharapakan bisa ‘GUNTING’ orang dalam PLN yang bertugas pengadaan batubara sekaligus bagian keuangannya,orang dalam PLN itu kan sudah di gaji negara tapi mereka masih minta komisi/fee antara Rp.30.000 s/d 60,000 per metric ton.
    (orang dalam antara lain : bagian penerimaan batubara,bagian laboratoriun/quality control,bagian keuangan dan lainnya yang terkait dengan pengurusan kontrak supply batubara}

Komentar ditutup.