Beranda Sosok Seperti Gelas Setengah Penuh

Seperti Gelas Setengah Penuh

Pierre-Jean Vergé-Salamon

Presiden Direktur, Volvo Trucks Indonesia

 

Lima tahun  berada di Indonesia dan memimpin perusahaan kelas dunia, menjadikan pria kelahiran Kanada dan besar di Perancis ini paham betul arti kata ‘sabar’. Ia pun menyimpan optimisme dan harapan pada Indonesia, khususnya sektor pertambangan yang sedang mengalami fase transisi.

Berikut petikan perbincangan Esti Widyasari dari Majalah TAMBANG dengan Pierre-Jean Verge-Salamon, di Volvo Truck Multiplex Delivery Center, di Pyeongtaek, Korea Selatan, akhir Mei lalu.

 

Volvo memiliki motto ‘driving progress’. Bisakah Anda jelaskan maksudnya?

Sangat sederhana. DNA yang kami miliki sejak awal didirikan adalah untuk mengembangkan dan mengimplementasikan teknologi yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Terobosan pertama yang kami buat adalah sabuk pengaman tiga titik. Itu sekitar 50 tahun lalu, dan sekarang hampir semua kendaraan di dunia memakainya. Sejak saat itu, kami terus mengembangkan terobosan-terobosan baru dalam berbagai aspek berkendara, seperti keamanan, kenyamanan, performa, dan efisiensi.

Kami selalu menghadirkan teknologi-teknologi terdepan. Prinsip kami, ada dua kunci untuk driving progress, yaitu kualitas dan keselamatan. Kualitas bukanlah sesuatu yang datang begitu saja, tetapi harus terus diasah untuk dipertahankan dan ditingkatkan semaksimal mungkin. Jika ada kompetisi, maka kami semakin terpacu untuk melakukan peningkatan. Volvo harus selalu berada di puncak kompetisi itu.

Di satu sisi, driving progress adalah untuk kami sendiri sebagai suatu perusahaan. Namun di sisi lain, kami juga melakukan driving progress untuk masyarakat luas.

 

Lalu, bagaimana cara Anda memimpin perusahaan?

Saya tidak menganut gaya kepemimpinan “one man show”. Bagi saya, yang terpenting adalah kerja tim. Mungkin memang saya yang berada di panggung dan menjadi sorotan, namun di belakang saya ada begitu banyak orang yang tergabung dalam sebuah tim yang solid. Mereka ikut bekerja keras dengan motivasi tinggi, patut dihargai ketika kita bersama-sama meraih keberhasilan.

 

Apakah ada perbedaan ketika Anda berada di kantor sebagai pemimpin, dengan waktu Anda berada di antara pelanggan atau di kehidupan sehari-hari?

Ketika berada di antara pelanggan, memang harus jadi super ramah. Harus bisa fleksibel, ikut bersenang-senang. Misalnya dalam situasi perayaan. Ketika kembali ke kantor dan berbisnis, kadang situasinya berbeda, kadang harus tegas memutuskan sesuatu yang sulit. Jadi, harus ada keseimbangan lah.

 

Dengan gaya kepemimpinan seperti itu, bagaimana Anda memotivasi para pekerja?

Sederhana saja, kita perlu visi yang jelas. Sampaikan kepada seluruh anggota tim ke mana kita akan melangkah. Jelaskan apa adanya, bahwa mungkin tidak akan mudah untuk mencapainya, lalu kita akan merayakan bersama-sama ketika mencapai keberhasilan.

Sebagai pemimpin, saya juga harus bisa menjelaskan ketika sudah mengambil keputusan. Saya pernah bekerja di berbagai negara, dan saya merasakan bahwa di Indonesia orang sangat membutuhkan penjelasan, mengapa begini dan mengapa begitu. Orang-orang ingin bisa ikut memahami, meskipun akhirnya bisa saja mereka setuju atau tidak setuju. Saya menjalankan manajemen yang sangat terbuka dan partisipatif.

Setiap kuartal, saya bertemu dengan seluruh pekerja. Selama 2 atau 3 jam mereka bisa menyampaikan pertanyaan apa saja, setelah saya memaparkan laporan kinerja perusahaan. Kantor saya pun selalu terbuka bagi siapapun. Ini bagian dari kebijakan Volvo, dan juga pribadi saya.

 

Apa pengalaman paling menarik selama berada di Indonesia?

Selama lima tahun di Indonesia, saat-saat paling sulit adalah ketika pertama kali memulai dan mencoba memahami berbagai hal. Bagaimana bisnis berjalan, bagaimana mengambil keputusan, apa yang menjadi prioritas, dan bagaimana menjaga sebuah hubungan menjadi lebih penting dari apapun.

Awalnya seperti saya baru tiba dari planet mars. Orang-orang sangat penasaran, dan banyak bertanya tentang pribadi. Seiring berjalannya waktu, dan semakin mengenal, barulah kepercayaan terbangun. Dan begitu mencapai tahapan itu, bisnis dan segala sesuatunya bisa langsung berjalan dengan cepat.

Kemudian, saya pun harus bisa menjelaskan perbedaan ini kepada organisasi perusahaan di tingkat global. Ini adalah tantangan yang lebih besar, yaitu untuk bisa melakukan adaptasi dan merefleksikannya dalam kebijakan perusahaan untuk bisa bekerja efektif di Indonesia. Sekarang kami bisa berkembang karena sudah memiliki pemahaman akan budaya Indonesia, bagaimana orang Indonesia menjalankan bisnis.

Anda tahu, kata pertama yang saya pelajari dalam Bahasa Indonesia adalah “sabar.” Dibandingkan dengan di dunia barat, di Indonesia butuh waktu lebih lama untuk saling mengenal dan memahami satu sama lain. Membangun kepercayaan butuh waktu sangat lama, namun kepercayaan itulah yang menjadi kunci yang membuka banyak peluang.

Sekarang pun saya juga sudah belajar lebih nyaman untuk bersiap akan hal-hal di luar dugaan. Di Indonesia, apapun bisa terjadi dan kita harus menghadapinya. Dan saya lihat orang-orang Indonesia punya kemampuan luar biasa untuk mencoba memahami dan kemudian saling menolong ketika berhadapan dengan persoalan.

 

=====================================================================================

Wawancara selengkapnya sudah pernah dimuat dalam Rubrik CEO di Majalah TAMBANG Edisi Agustus 2014.