Strategi Integrasi Bisnis MDKA Dongkrak Nilai Perusahaan 175 Kali Lipat dalam 10 Tahun

Grup Merdeka Copper and Gold (MDKA) menyebut integrasi kegiatan pertambangan, pengolahan mineral, energi, dan kawasan industri sebagai salah satu kunci pertumbuhan perusahaan dalam 10 tahun terakhir.

Strategi Integrasi Bisnis MDKA Dongkrak Nilai Perusahaan 175 Kali Lipat dalam 10 Tahun
Chief Compliance Officer PT Merdeka Copper Gold, Muhammad Toha (kanan) dalam Seminar Nasional Temu Tahunan Jasa Pertambangan (TTJP) 2026 yang diselenggarakan Asosiasi Jasa Pertambangan Indonesia (ASPINDO) dan Majalah TAMBANG Jumat, 22 Mei di Badung, Bali.

Jakarta, TAMBANG – Strategi integrasi antara kegiatan pertambangan, pengolahan mineral, energi, dan kawasan industri yang dilakukan Grup Merdeka Copper Gold (MDKA) menjadi salah satu kunci pertumbuhan perusahaan dalam satu dekade terakhir.

Chief Compliance Officer PT Merdeka Copper Gold, Muhammad Toha, menjelaskan bahwa perusahaan yang memulai operasinya pada 2016 dengan satu tambang emas di Banyuwangi kini telah berkembang menjadi grup usaha yang memiliki sekitar 34 entitas di enam provinsi.

"Merdeka berkembang dari perusahaan yang awalnya hanya memiliki satu operasi tambang menjadi ekosistem industri yang terintegrasi, mulai dari pertambangan, pengolahan hingga energi dan kawasan industri," ujarnya dalam Temu Tahunan Jasa Pertambangan (TTJP) 2026 di Badung, Bali dikutip Rabu, (3/6).

Menurutnya, Merdeka saat ini memiliki tiga kelompok usaha utama, yakni PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), dan PT Merdeka Gold Resources (MGR/BEI: EMAS). Ketiganya menaungi berbagai perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan, pengolahan mineral dan energi.

Ia menjelaskan bahwa pertumbuhan tersebut tercermin dari peningkatan nilai perusahaan yang signifikan dalam kurun waktu sekitar 10 tahun. Perusahaan yang pada awal operasinya memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp1,6 triliun kini telah berkembang menjadi salah satu grup pertambangan terbesar di Indonesia.

Salah satu strategi utama yang dijalankan Merdeka adalah memperluas portofolio komoditas dari emas ke tembaga dan nikel, sekaligus membangun fasilitas hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah produk tambang.

Setelah mengembangkan tambang emas di Banyuwangi melalui PT Bumi Suksesindo (BSI), Merdeka mengakuisisi tambang tembaga PT Batutua Tembaga Raya di Pulau Wetar dan masuk ke sektor nikel melalui Konawe Nickel Project.

Tidak hanya fokus pada penambangan, perusahaan juga membangun sejumlah fasilitas pengolahan mineral di Morowali dengan teknologi pirometalurgi dan hidrometalurgi. Bijih nikel yang ditambang kemudian diolah menjadi berbagai produk turunan bernilai tambah.

Dokumentasi: MDKA.

Selain itu, Merdeka juga tengah mengembangkan Pani Gold Project di Gorontalo yang diproyeksikan menjadi salah satu tambang emas primer terbesar di Indonesia. Proyek tersebut didukung fasilitas pengolahan dengan teknologi Carbon in Leach (CIL) dan Heap Leach.

“Kami juga mengembangkan proyek emas di Gorontalo yang terintegrasi dengan fasilitas pengolahan. Di sana kami membangun dua jenis pabrik pengolahan dengan teknologi Carbon in Leach (CIL) dan Heap Leach,” jelasnya.

Manajemen menilai integrasi antara tambang dan fasilitas pengolahan menjadi faktor penting dalam meningkatkan nilai ekonomi perusahaan.

"Dari kegiatan pertambangan, produk yang kami hasilkan tidak dijual sebagai bahan mentah semata, tetapi diolah menjadi produk turunan sehingga nilai tambahnya meningkat berkali-kali lipat," jelasnya.

Manfaatkan Limbah Tambang Jadi Produk Bernilai

Salah satu contoh integrasi yang dikembangkan Merdeka adalah pemanfaatan material sisa pengolahan tambang tembaga di Wetar.

Material yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai ekonomi kini diolah oleh PT Merdeka Tsingshan Indonesia (MTI) menjadi berbagai produk seperti asam sulfat, uap panas, besi oksida, katoda tembaga, emas, dan perak.

Menurut perusahaan, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa material yang sebelumnya dianggap limbah dapat kembali memiliki nilai ekonomi apabila didukung teknologi yang tepat.

“Menariknya, kebutuhan asam sulfat untuk fasilitas HPAL dipasok dari hasil pengolahan material sisa tambang Wetar, sehingga tercipta integrasi rantai pasok di dalam grup,” ungkap Toha.

Konsep serupa juga diterapkan pada pengolahan bijih nikel limonit yang selama ini kurang dimanfaatkan. Melalui fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL), bijih limonit diolah menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), salah satu bahan baku rantai pasok baterai kendaraan listrik.

Menariknya, kebutuhan asam sulfat untuk fasilitas HPAL dipasok dari hasil pengolahan material sisa tambang Wetar, sehingga tercipta integrasi rantai pasok di dalam grup.

“Menariknya, proses HPAL membutuhkan asam sulfat dalam jumlah besar. Kebutuhan asam sulfat tersebut dipenuhi oleh fasilitas AIM yang memanfaatkan material sisa dari operasi tambang di Wetar. Dengan demikian, tercipta integrasi yang saling mendukung antarunit usaha dalam grup,” bebernya.

Tekan Biaya Logistik dengan Pipa Slurry

Di Sulawesi Tenggara, Merdeka juga membangun sistem slurry pipeline sepanjang sekitar 60 kilometer yang menghubungkan tambang PT Sulawesi Cahaya Mineral dengan fasilitas pengolahan nikel di Morowali.

Melalui sistem tersebut, perusahaan mengalirkan bijih limonit dalam bentuk slurry sehingga biaya logistik dapat ditekan secara signifikan dibandingkan pengangkutan menggunakan truk.

“Di Sulawesi, misalnya, tambang nikel PT Sulawesi Cahaya Mineral berjarak sekitar 60 kilometer dari kawasan industri Morowali. Untuk menekan biaya logistik, kami membangun fasilitas Feed Preparation Plant dan sistem slurry pipeline sepanjang sekitar 60 kilometer,” jelasnya.

Selain sektor pertambangan dan pengolahan, Merdeka juga mengembangkan bisnis energi melalui proyek panel surya dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) untuk mendukung kebutuhan energi operasionalnya.

Perusahaan juga mengembangkan Indonesia Konawe Industrial Park (IKIP) yang akan menjadi pusat berbagai fasilitas pengolahan mineral guna memperkuat rantai pasok industri hilir.

Dokumentasi: MDKA.

“Selain itu, kami juga mengembangkan kawasan industri Indonesia Konawe Industrial Park (IKIP), yang akan menjadi lokasi berbagai fasilitas pengolahan mineral untuk mendukung rantai pasok industri kami,” ucapnya.

Dengan model bisnis yang terintegrasi tersebut, Merdeka optimistis dapat terus meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkuat nilai tambah dari setiap sumber daya mineral yang dimiliki.

Artikel Terkait