Target Hampir Tuntas, Pertamina Beberkan Suka Duka BBM Satu Harga

Target Hampir Tuntas, Pertamina Beberkan Suka Duka BBM Satu Harga

Jakarta, TAMBANG – Menjelang berakhirnya tahun 2018, PT Pertamina mengumumkan capaian kinerjanya terkait program BBM Satu Harga. Emiten pelat merah ini merupakan tulang punggung agenda penyebaran bahan bakar dengan harga seragam, sejak pertama kali diluncurkan pada Januari tahun lalu.

 

Hingga Oktober 2018, Pertamina telah menjangkau hingga 58 titik dari total target yang dipatok 67 titik daerah terpencil di tahun ini. Sisanya yang tinggal 9 titik, diyakini tuntas pada akhir November mendatang.

 

“Sudah kita lagi koordinasi percepatan perizinan dengan Pemda. 9 itu rata-rata (SPBU) Kompak semua. Sebanyak Enam di Sumatera, dua di Papua, dan satu di Kalimantan. Sekarang sudah proses pembangunan. Insya Allah November bisa beroperasi,” kata Project Koordinator BBM Satu Harga Pertamina, Zibali Hizbul Masih, Selasa (30/10).

 

Berdasarkan keseluruhan target penyebaran, Pertamina punya beban target sampai 150 titik terhitung dari tahun 2017 hingga tahun 2019. Masing-masing dipecah, pada tahun 2017 sebanyak 54 titik, 2018 sebanyak 67 titik, dan 2019 sebanyak 29 titik.

 

“Secara jumlah tahun depan tugas kita semakin kecil, tapi justru yang kecil ini yang tantangannya berat,” kata Zibali.

 

Sebagai catatan, dari 58 lokasi yang berhasil dijangkau tahun ini, terdapat satu lokasi yang mengalami hambatan. Depot bahan bakar harga seragam yang satu ini berada di wilayah terdampak gempa, yakni di Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

 

Kata Zibali, pihaknya belum bisa menyalurkan bahan bakar ke Kulawi lantaran tidak ada jalan yang dapat diakses dengan kendaraan angkut. Bahkan beberapa kali, Pertamina sempat mengirim bahan bakar ke wilayah gempa terpaksa menggunakan pesawat Air Tractor.

 

 

“Dari 58 ini, Ada satu yang terkendala di Sigi terdampak gempa kemarin, akses hanya bisa pakai motor. Kita terhambat kirim ke sana, tapi begitu jalan terbuka kita akan aktifkan kembali di Sigi,” beber Zibali.

 

Terkait jumlah volume, sejak Januari 2017 hingga September 2018, Pertamina telah menyalurkan BBM satu harga jenis premium sekitar 53 ribu kilo liter, dan solar sekitar 23 ribu kilo liter.  Harga masing-masing, premium dibanderol Rp6.450 per liter, dan solar Rp5.150 per liter.

 

“Secara total penyaluran (premium dan solar) mencapai sekitar 76 ribu kilo liter,” papar Zibali.

 

Kalau dibandingkan dengan volume keseluruhan penyaluran nasional, angka 76 ribu kilo liter memang relatif kecil. Presentasenya hanya 0,5 persen. Tapi, kata Zibali, justru angka yang kecil ini lebih banyak memiliki cerita suka duka, dari pada penyaluran nasional lain yang jumlahnya jauh lebih besar.

 

Cerita Operator Dipukul Pengecer Hingga Pilot Bule Pesawat Pengangkut

Petugas Pertamina yang menangani program BBM satu harga, Zibali Hizbul Masih, bercerita tentang kejadian pemukulan yang pernah dialami anak buahnya di lapangan. Upaya perlawanan dari seorang pengecer itu terjadi di Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak, Provinsi Papua.

 

Alkisah, si pengecer memaksa ingin memborong BBM di lokasi penyalur resmi, lalu upaya tersebut dihadang oleh operator Pertamina. Cekcok di antara keduanya tak dapat dihindari, hingga akhirnya si pengecer tak kuasa menahan emosi dan melayangkan tinju ke operator.

 

“Kejadian semacam ini pernah kami alami dua kali di Papua,” jelas Zibali.

 

Mendengar terjadi tindak kekerasan itu, tim Pertamina segera melakukan koordinasi dengan aparat keamanan, baik kepolisian atau pun TNI. Belajar dari peristiwa tersebut, kini Pertamina telah bekerjasama dan membuat semacam nota kesepahaman untuk mengamankan penyaluran BBM satu harga di Papua. Pertamina berkoordinasi dengan Pangdam Cendrawasih, Elnadus Supit, Danlatamal, Heru Kusmanto, dan Kapolda Papua, Irjen Boy Rafli Amar.

 

 

Selain itu, kerap terjadi juga konflik sosial di internal masyarakat Papua, yang turut menghambat proses penyaluran. Aksi perusakan depot penyalur pernah dilakukan oleh masyarakat saat berlangsung perang antar suku. Pertamina pun memutuskan untuk merelokasi depot, disiapkan lembaga penyalur yang baru dengan lokasi yang berbeda namun masih di kabupaten yang sama.

 

Cerita lainnya, datang dari sopir moda angkutan udara BBM satu harga. Sebagaimana diketahui, beberapa titik lokasi di ketinggian Papua, hanya dapat diakses dengan menggunakan pesawat Air Tractor 802 CWGNU.

 

Kondisi bandar udara yang punya landasan dari pasir batu, menyebabkan pesawat besar tidak dapat mendarat di sana. Sehingga terpaksa hanya bisa dijajaki dengan pesawat kecil.

 

Menurut Zibali Hizbul Masih, sejauh ini pilot Air Tractor yang dimiliki Pertamina tidak ada yang berasal dari dalam negeri, tapi seluruhnya didatangkan dari luar. Konon, pilot Air Tractor khusus pengangkutan bahan bakar, harus mengantongi lisensi tertentu, di mana pilot Air Tractor domestik belum ada yang punya.

 

“Salah satu pilot kami, bule asal Kanada sampai heran. Di Indonesia, kok ada kehidupan manusia di atas pegunungan seperti ini,” tutur Zibali menirukan rasa heran pilot bule itu melihat alam di Papua.

 

Mendatangkan tenaga kerja dari luar, tentu berdampak pada keuangan Pertamina. Kalau dikalkulasi, biaya angkut bahan bakar menggunakan Air Tractor, berikut dengan gaji pilot, mencapai Rp40-50 ribu per liter. Secara kapasitas, pesawat kecil itu hanya mampu membawa terbang minyak sekitar 4 kilo liter.

 

Padahal, jika dibandingkan dengan biaya angkut di batas normal, Pertamina hanya butuh sekitar Rp 500 per liter.

 

Meski demikian, Pertamina mengaku tidak mengalami beban keuangan yang signifikan. Sebab, secara keseluruhan penyaluran nasional, beban volume BBM satu harga hanya sekitar 0,5 persen. Nilai yang relatif kecil.


Close
Close